
Setibanya di Apartemen, Aim langsung memeluk Kinan yang berjalan di depannya, "Kau lihatnya bagai mana orang menatapmu? Kau sangat mengagumkan"
Kinan hanya menghela lega, "Kau tidak merasakan bagai mana gugupnya aku, bahkan selama di pesta aku tidak bernafas lega"
Yang Kinan bayangkan saat ini adalah sikap mertua saat berpapasan dengan dirinya di dalam pesta.
Waktu itu Kinan sedang mengambil sepotong buah, saat bersamaan Rania berada di tempat yang sama.
Mengambil beberapa potong buah yang akan ia nikmati, di situasi itu Kinan kebingungan haruskah menyapa atau pura pura tidak melihat keberadaan Rania, Namun jarak mereka sangat dekat
Beberapa orang pasti memperhatikan dirinya, dan sedikit saja membuat kesalahan maka semuanya akan menjadi kekacauan, terlebih status Kinan yang kurang baik di mata publik.
Pada akhirnya Kinan memberanikan diri untuk menyapa meski Kinan tau sendiri bakal seperti apa sikap yang akan di terimanya.
"Tante, mau aku ambilkan buah?" Kinan mencoba mencairkan kegugupan di dalam hatinya dan suasana sekitar yang menyeruak. Meski berat namun Kinan dengan Rania tidak ingin terlihat kaku dan terkesan sinis. Meskipun Kinan sadari sebaik apapun dirinya bersikap meluluhkan hati Rania bukan hal yang mudah.
Tiba saat Rania menatap Kinan dengan tatapan tajam, rasa yang di alami Kinan seperti di tusuk sebilah pedang.
Apalagi ketika Rania mengucapkan kalimat singkat, "Seharusnya kau sadar! Di sini bukan tempat mu"
Rasanya Kinan ingin merosot dan duduk pilu.
Namun Kinan mencoba untuk bersikap wajar, tanpa menunjukkan raut sedih di wajahnya, lalu menjawab "Baik" dengan suara yang lembut, "Tapi izinkan saya mengambikan sepotong buah untuk Tante, maaf jika permintaan ini lancang. Tapi Mas Aim dan yang lainnya sedang memperhatikan kita," Kinan mengingatkan, walau Rania sempat tidak terima namun yang di katakan Kinan memang benar, Rania pun tidak ingin memperburuk citranya hanya karena bersikap tidak baik terhadap Istri kedua Aim.
Walau pada akhirnya tidak akan ada yang untungkan.
Bersikap sedikit manis kepada Kina setidaknya tidak akan memperburuk citranya.
Meski benci namun menunjukannya di tempat ini sungguh bukan hal yang tepat.
Ada akhirnya Rania hanya mengangguk terpaksa, lalu dengan sigap Kinan mengambil dan mendatkan buah tersebut dengan sopan, meski gemetar namun Kinan berusaha melakukan yang terbaik untuk Rania.
Di kejauhan Aim terlihat tersenyum bangga dan bahagia melihat Kinan menempatkan sepotong buah di piring Rania.
Itulah sebabnya Aim sangat bahagia saat ini dan tidak berhenti memeluk Kinan.
"Baiklah Ratu ku, apa yang kamu inginkan sekarang?" Tanya Aim, bahagianya dia melihat usaha Kinan meluluhkan hati Mama Rania.
"Mas, tunggu! Kenapa kamu jadi baik begini?" Berbalik lalu menatap Aim, mencari niat terselubung yang ada di fikiran Aim.
"Aku nggak percaya, sebutkan apa yang kamu rencanakan?!" Selidik Kinan tak percaya pada ucapan Aim.
"Tidak ada sayang" Aim membalikkan tubuh Kinan dan menghadapkannya ke cermin, "Aku hanya sedang bahagia saja. Melihat Permaisuri ku yang sangat cantik ini, kau memang istri yang baik Nan" Kembali memeluk Kinan dengan penuh sayang.
"Mas, kamu tau nggak?"
"Apa Sayang?" Menatap pantulan Kinan di cermin yang menunduk berat sambil memainkan jemari Aim.
"Ternyata berada di sisi kamu itu cukup berat, bagai mana kalau suatu saat kita di pertemukan dengan keadaan yang lebih berat dari ini"
"Apa yang membuat mu berkata seperti ini, apa tadi Mama menyulitkan kamu?" Wajah Aim berubah khawatir.
"Ah tidak tidak Mas" bantah Kinan, "Hanya, memakai heels di waktu yang lama itu membuat kaki ku keram dan lecet" Kinan memberi alasan.
"Ooh itu" Aim tertawa lega, "Kalau begitu lain kali aku akan menyiapkan sepatu yang nyaman buat kamu, kamu tidak perlu memakai heels lagi"
"Baiklah," Kinan kembali berbalik "Asal kamu terus di sisi aku. Aku siap menghadapi apapun,"
"Nah gitu dong," menyentuh helaian rambut di dahi Kinan "itu baru Kinan ku"
Kinan hanya membalasnya dengan senyum kecil.
..
Di tempat berbeda.
Rania yang baru sampai dari pesta tiba tiba melempar tasnya untuk meluah kan amarah.
"Ada apa dengan anak itu, bisa bisanya dia membawa perempuan itu kedalam pesta, siapa yang mengizinkannya?" teriak Rania berapi api, "Aku di permalukan!"
"Mah," Arman datang, "Mama yang sabar!"
"Pah. Bagai mana Mama bisa sabar melihat perempuan itu yang semakin lancang, apa yang dia lakukan kepada Aim sehingga dengan mudahnya Aim membawa perempuan itu kedalam keluarga kita. Bahkan tadi, Papa juga lihat 'kan bagai mana wajah Aim? dia sangat bangga memamerkan perempuan yang tidak ada harganya, teman teman Mama melecehkam Mama, hancur reputasi Mama, dia harus sadar kalau dia bukan kalangan kita!" Rania terus murka.
"Mah,"
"Mama akan membuktikan siapa keluarga kita, dan siapa perempuan itu. Besok, Mama tidak ingin melihat dia lagi didalam perusahaan, kalau perlu usir dia, jauhkan dia dari Aim sebelum Aim semakin di buta kan oleh perempuan itu!"