Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.39



Kinan melihat kampu lampu tergantung dengan kagum, dia lalu merasa tertarik untuk berswa foto dibawah lampu yang sengaja di buat menghias, khusus untuk pengunjung yang demam swaphoto.


"Bos tolong photo'in dong" Kinan meminta tanpa canggung lalu memberikan handphonenya kepada Aim,


"Sama Bos kamu berani sekali nyuruh. Nan, Nan" Aim menggeleng sambil berkata dengan gemas.


Segera Kinan berlari ketempat swaphoto dan memasang pose andalan.


Setelah mengambil beberapa gambar di handphone Kinan,


Saat sedang memotret, handphone yang dipegang Aim bergetar.


Terdapat nama 'Mamah Dila' dilayar,. Aim ingat Dila adalah perempuan yang hampir menjadi mertua Kinan, Aim sempat tidak sengaja membaca nama itu pada lembar undangan pernikahan Kinan.


Aim hanya memerhati layar tanpa berniat menerimanya atau memberikannya kepada Kinan.


Setelah mendapat beberapa kali panggilan. Dila akhirnya mengirimi Kinan pesan.


Aim lalu beralih memotret menggunakan handphonenya dan Kinan tidak menyadari itu.


"Nak kenapa tidak di angkat juga?"


"Sayang, mama sudah membooking satu meja di restoran kesukaan mu, Mama ingin bertemu dengan kamu. Mama kangen kamu Nan, dan ada hal yang ingin Mama bicarakan tolong datang ya Nak!" itulah beberapa kalimat yang dikirim Dila kepada Kinan.


Aim segera menghapusnya. Rasanya Kinan tidak perlu lagi ada hubungan dengan keluarga Dirga.


Di sebrang sana Dila mungkin merasa resah karena Kinan tidak juga membalas dan hanya membaca pesannya.


Dila kemudian kembali menelpon.


kali ini Aim mengangkat panggilan Dila tanpa bersuara, Aim ingin tahu apa yang akan dilakukan Dila kepada Kinan.


Suara Dila terdengar senang bukan kepalang,. Sejak tadi Dila memang tidak sabar menunggu Kinan menerima telponnya


"Sayang Mama tunggu di restoran Xx kamu harus datang Nak,"Nadanya terdengar menekan dan oenuh tuntutan "Ada sesuatu yang mendesak kamu harus membantu Mama" Dila berbicara dengan terburu buru, mungkin khawatir Kinan akan memutus panggilannya.


Aim memutus sambungan dengan sepihak, sebelum Dila menuntaskan kalimat kalimatnya.


Aim sempat mengernyit penuh tanya, mencoba menerka tujuan Dila meminta bertemu dengan Kinan, kedengarannya itu sangat penting.


"Besok pagi pukul 10:00 privat room no 12" Aim membalas pesan.


Setelah itu menghapus semua log panggilan beserta riwayat chat yang dikirim Dila, mengembalikan semuanya seperti semula seakan tidak terjadi apa apa.


"Pacarnya ya bang?" Tanya seorang lelaki yang kebetulan lewat, lalu sengaja berdiri di samping Aim ikut memperhatikan Kinan yang sedang berpose ria tanpa jaim, "Cantik" tambahnya.


Aim hanya menoleh sekilas sambil menyunggingkan senyum.


"Atau istrinya?" Lelaki itu balas menoleh.


Aim kembali tersenyum tanpa menjawab apapun.


"Kalian sungguh pasangan yang serasi, yang satunya ganteng dan yang paling menawan itu dia" Imbuh lelaki itu dengan tatapanmengarah kepada Kinan. Aim hendak menyangkal hubungan yang dimaksud lelaki itu tapi Kinan keburu menghampiri dan lelaki tadi juga pergi.


Kinan menatap kepargian lelaki yang sempat berdiri di samping Aim, "Siapa dia?" Selidik Kinan.


Aim menoleh sekilas, "Ooh dia, hanya seorang komentator" jawabnya enteng membuat dahi Kinan berkerut.


"Komentator?" Kinan tertawa samar, "Yang benar saja,"


"Sudahlah!" Aim menatap nanar langkah lelaki yang kian menjauh dari mereka ditelan keramaian. "Lelaki itu penglihatannya sangat baik (penilaiannya terhadap Kinan)" kata Aim sambil tersenyum kecil, membuat Kinan kembali berkerut dahi, tidak mengerti maksud yang dikatakan Aim


"Lihat ini," Aim menunjukkan hasil jepretannya, Kinan menerima handphone yang di asongkan Aim.


"Apa sudah bagus?" tanyanya. Dibelakang Kinan Aim diam diam memasukkan handphone miliknya ke dalam saku, menyembunyikan potret Kinan yang baru saja dicurinya. Aim sengaja menyembunyikannya karena takut Kinan akan menghapus photo itu dari galeri.


"Apa hasilnya memuaskan? apa perlu diulangi?"


Kinan masih memerhati gambar yang di tunjukan Aim,


"Sepertinya tidak perlu" kata Kinan, "Oo ia apa Bos mau aku poto'in? suasananya sangat baik sayang kalau nggak di abadiin"


"Tidak perlu, lagi pula tempat tempat romantis seperti ini enaknya poto berdua bareng pasangan gak seru kalau cuma sendirian, atau kamu mau poto bareng aku?"


"Aku'kan bukan pasangan Bos, jadi nggak enak dong kalo photonya bareng aku," Kinan plingak plinguk mencarikan perempuan yang sepadan dengan Aim.


"Nyari apa?" tanya Aim ketika melihat mata Kinan mencari kesegala arah.


"Nyari perempuan," Kinan berkata dengan langsung, "Nyari yang pas dan serasi untuk Bos"


"Oo, baiklah. Carikan yang mirip seratus persen dengan kamu,"


Kinan terlonjak dan langsung diam saat mendengar permintaan Aim, sedikitpun Kinan tidak berfikir Aim akan mengatakan hal diluar dugaan "Akh" menatap Aim dengan tatapan yang sulit diartikan dan berhenti mencari perempuan untuk Aim berphoto.


.


Kinan dibuat salah tingkah.


"Jam sebelas" kata Kinan mengalihkan pembicaraan.


"Kamu seringkali liat jam, emang kenapa? nggak pernah keluar sampai larut ya?"


Kinan menggeleng, "Ini malam pertama aku bisa keluar dengan bebas seperti ini,"


"Anak rumahan?"


"Babu?"


"Ya, Babu dirumah sendiri"


"Apa maksudmu Babu Nan,?"


"Bukan apa, apa. Kita lanjut pulang" Kinan mulai melangkahkan kakinya.


"Tunggu! lalu keluarga kamu?"


Aim sengaja pura pura tidak tau tentang Kinan, demi menggali informasi.


"Ibu sudah meninggal dan ayah juga," jawab Kinan, berat untuk bercerita.


"Jadi.kamu tinggal senduri?. Lalu sebelumnya kamu tinggal dengan siapa?"


"Mama Mina," -Kinan.


"Siapa dia?" -Aim


"Dia ibu sambungku, ayah menikahi beliau tepat 40 hari setelah Mama meninggal, waktu itu dan usiaku juga 40 hari. Jadi, ya begitulah, aku memperlakukan dia seperti ibu kandungku tapi dia memperlakukan aku seperti Babu" Kinan tertawa samar kental akan kesedihan.


"Nan, lihat sana!" Aim menunjuk kembang api yang meledak di udara. Kinan berbalik menghadap kearah yang ditunjuk Aim.


Kinan yang hampir menangis dibua tersenyum bahagia oleh indah dan megahnya kembang api yang meledak silih berganti.


.


Kinan dan Aim bersorak kecil meluahkah kebahagiaan yang sedang meluap tertumpah didadanya.


Ini sungguh malam yang membahagiakan bagi keduanya.


Baru kali ini Kinan merasakan aroma kebebasan yang sebenarnya.


Dan Aim, ini adalah kebahagiaan yang ditunggu tunggunya sejak lama, bahkan sejak dia menikah dengan Shina ini adalah harapannya.


Keduanya segera melupakan kejadian tidak menyenangkan yang dialaminya masing masing.


Setelah kembang api selesai Kinan kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.


Dan Aim dia tampak begitu bangga bisa berjalan mengikuti Kinan, melihatnya tertawa melihat dia bahagia, mengikuti kemana dia pergi mesaki harus sambil menenteng tas belanjaan setiap saat, Aim tidak keberatan.


"Hei Nan tunggu" Teriak Aim seraya menyeimbangkan langkahnya dengan Kinan.


Kinan memperlambat langkahnya.


"Kelihatannya kamu senang malam ini"


"Ya, sedikit, setidaknya aku bisa sejenak melupakan semuanya, teriakan Mama, cacian Mama, tidak diakui diusir dan ATM yang dikuras habis, aku bisa melupakan semuanya," Kinan tidak henti mengembangkan senyumnya.


Aim mengangguk angguk "Apa kamu tidak berniat berterima kasih kepadaku, nan?"


Kinan seketika menoleh.


"Berterima kasih untuk apa?"


"Berterima kasih karena sudah menemani mu berkeliling sambil menenteng ini," Aim mengangkat sedikit tinggi tas belanjaan berwarna putih itu tak lupa cap merah label kebanggan perusahaan.


"Dan ini" Aim kembali menunjuk lengan bajunya yang kotor oleh coretan tinta.


"Ooh itu, baiklah aku akan berterima kasih"


"Kapan? Sepertinya kamu baru merencanakannya" kata Aim terdengar kecewa.


Kinan terkikik, yang Aim katakan memang sangat tepat.


Kinan menoleh, "Kapan kapan saja ya Bos"


Aim menghela nafasnya.


Aim mengerucut kesal.


"Oh ia Nan bukankah di kantor tadi tadi aku sempat memberi tahu kamu"


"Soal apa?"


"Panggil Aim, bukan Bos" Aim mendelik kesal karena sedari tadi Aim mendengar Kinan terus memanggilnya 'Bos'


"Bukankah akan terdengar terlalu akrab?" Kinan menoleh dengan wajah penuh fikir.


"Ini terlalu formal aku hanya ingin panggilan yang lebih sederhana dan .... akrab. Panggilan itu boleh diucapkan saat bekerja saja, bagai mana?" -Aim.


"Udahlah 'Bos' aja" -Kinan.


"Aim" -Aim


"Bos"- Kinan.


"Aim" -Aim.


Itulah perbincangan kecil yang menemani langkah Aim dan Kinan.