Oh My Boss.

Oh My Boss.
100



"Sayang, kenapa wajahmu gugup?" Aim bertanya sambil membelai wajah Kinan yang terlihat muram.


"Ah tidak, kalau begitu kita masuk sekarang." Ajak Kinan, dengan langsung mengubah air wajahnya.


"Yuk." Sambut Aim,. "Jika kamu merasa tidak nyaman Mas minta maaf, tapi Mas janji lain kali akan mengajakmu ketempat yang lebih baik dari ini"


"Mm aku tunggu saat itu, semoga kamu tidak berbohong" goda Kinan sambil tersenyum manis.


"Baiklah kita lihat apa masih ada tempat bagus di sini?"


Dengan tanpa melepaskan pegangannya dari Kinan Aim berjalan mendatangi Resepsionis.


"Mm apa kau bisa mengosongkan satu kamar suite untukku malam ini?" Pinta Aim dalam setengah berbisik.


"Tu.. Tuan" Sebut resepsionis sambil merengkuh hormat. Namun Aim berisyarat agar dirinya diperlakukan seperti pengunjung bukan seperti pemilik hotel, Aim tidak ingin membuat Kinan menjadi canggung.


Sang Resepsionis langsung paham, "Baik," Mengambil dan memberikan kartu kamar kemudian, "Ini adalah kamar yang anda pesan, anda akan dilayani dengan sepenuh hati," Sang Resepsionis membeberkan.


Aim mengangguk begitu pula dengan Kinan yang tidak begitu fokus dengan percakapan Aim dan sang resepsionis.


Kinan plingak-plinguk mencari seseorang yang kemungkinan malam itu tidur dengannya.


Kinan sempat takut dan tak percaya diri, apalagi saat kamar yang Aim pesan berhadapan dengan kamarnya malam itu.


Sesampainya didalam kamar.


"Sayang kenapa? Kamu kurang nyaman?" Tanya Aim lagi.


"Bukan. Hanya saja aku tidak pernah tidur di tempat semewah ini, itulah yang membuatku sedikit gugup" jelas Kinan berbohong.


Aim tersenyum kecil, mengacak rambut di ubun-ubun Kinan, sembarang.


"Harusnya malam ini kita tidur ditempat yang lebih mewah dari ini, kita pergi honeymoon ke luar negri ketempat yang paling romantis dan kita habiskan malam malam kita di sana, tapi" Aim tampak mengeluhkan sesuatu, "Aku malah jatuh sakit dan tidak bisa berbuat apa apa"


"Tidak apa apa Mas, bukankah kita akan tetap bersama? Kita bisa pergi lain waktu dan mengulang ulang ini berkali kali. Benarkan?"


Aim mengangguk setuju, "Ya. Kamu benar Sayang, kita akan bersama selamanya, aku milikmu dan kamu milikku" menggenggam jemari Kinan, "Aku minta maaf! Karena sempat membuatmu tidak yakin, tapi mulai sekarang aku bersumpah tidak akan ada apapun yang membuatku mempertanyakan cintaku lagi, aku mencintaimu Sayang, sekarang sampai selamanya. Aku tau hidup kita tidak akan mudah tapi kamu harus yakin dan kamu juga harus mendukungku kita akan buktikan bersama sama bahwa kita berdua pantas untuk saling melengkapi"


Kinan mengangguk. Ucapan tulus dari hati Aim membuatnya tersentuh hingga tidak di sadari setitik Air mata jatuh di tangannya.


"Terima kasih Mas. Aku berjanji, asal kamu terus bersamaku aku siap menjadi apapun untuk kamu. Menjadi serpihan hatimu, jiwamu, dan tulang rusukmu, aku dekat denganmu seperti ini" Menempatkan telapak tangan di dada Aim, serta dengan ini Kinan tersenyum hangat disambut dengan hal yang sama dari bibir Aim.


"Dari sini" Aim menunjuk tulang rusuk yang dikatakan oleh orang bahwa perempuan di ambil dari bagian itu, "Lalu terbentuklah wujud kamu dan sekarang didekatkan juga dengan ku. Terima kasih" ucap Aim kemudian.


"Harusnya aku yang berterima kasih padamu Mas, kamu adalah satu satunya orang yang mau menerima ku disaat orang mencibir dan mengusirku"


"Maksud kamu?" Aim mendelik penasaran akan ucapan Kinan yang terdengar frustasi.


"Kehamilan ini sempat sulit aku terima. Aku tau aku telah membuat kesalahan, tapi orang orang tidak tau bagai mana ini bisa terjadi. Mereka menghakimi aku tanpa hati nurani. Aku bahkan hampir di usir dari kosan tempat aku tinggal, aku sempat dilarang menemui Amor oleh kedua orang tuanya, dan Mama Mina menjadikan kehamilanku sebagai alasan untuk memasuki keluarga Hadigama (Kel.Dirga). Kala itu aku berfikir awal kehamilan sesulit ini apalagi setelah kehamilan ku membesar,"


"Aku bahkan tidak tau, setelah lahir siapa yang akan mengakui anak ini, aku tidak ingin nantinya anak yang aku lahirkan atas dasar kesalahan ini seumur hidupnya akan menanggung akibat dari dosa semalam yang tidak ibunya sengaja" Air muka Kinan tampak begitu menyesal.


"Sayang.." Aim lantas memeluk Kinan untuk menenangkannya. Mengirim energi positif, bahwa yang ditakutkan itu tidak akan terjadi, "Sekarang kamu tidak khawatir lagi 'kan? Kamu jangan takut, tidak ada yang berani mengusik anak kita, aku akan menjamin kehidupannya"


"Kamu akan membesarkan dia dengan kasih sayang 'kan Mas?" Kinan mendongak sesaat.


"Tentu sayang" Membelai dan mengecup pucuk kepala Kinan dengan lembut.


"Meski dia bukan darah daging kamu, aku minta jangan pernah berhenti menyayanginya kelak" pinta Kinan.


"Tentu sayang, kamu jangan khawatir ok. Kamu adalah istriku dan anak ini" Membelai perut Kinan "Juga anakku, aku mencintai kalian berdua untuk selamanya."


"Terima kasih"


Lantas Kinan semakin mengeratkan pelukannya, begitu juga dengan Aim.


Waktu malam pun berlalu, pagi yang hangat pun mulai menyambut.


Kinan tertawa gemas sendiri saat memainkan bulu mata lentik walau tidak terlalu panjang, milik lelaki yang kini telah menjadi suaminya.


Kinan bangga dan ingin mengulang ulang kalimat itu seterusnya.


Bulu mata yang bergerak patah patah ketika Kinan mencoba menyentuhnya.


Kinan terkikik lucu saat bulu lentik itu bergerak intens saat disentuh olehnya.


"Mas" panggil Kinan setengah berbisik, "Mas" Kinan kembali memanggil untuk memastikan Aim belum terjaga.


"Kamu." Kinan merasa malu untuk mengucapkan kata katanya, "Bulu mata kamu indah," menyentuhnya lagi, dan tersenyum gemas lagi "Alis kamu membaris sempurna, hitam tebal dan bulu bulu tipis berdiri di sekitarnya" menyentuh lagi bagian alis milik Aim, "Rambut pelipis mu, dan bulu halus di wajahmu" membelai pelipis hingga pipi Aim, "Aku tidak pernah membayangkan akan sedekat ini dengan kamu. Kamu tau? Kamu adalah bias sempurna semua perempuan di bumi ini, dan beruntungnya aku memilikimu" sambil terus menyentuh'i pipi Aim, sesekali Kinan tersenyum gemas dan kagum.


"Kapan kau akan berhenti menggodaku," ucap Aim dengan suara yang sedikit serak. Kinan spontan menarik tangannya dari wajah Aim. Terkejut tiba tiba Aim bersuara.


"Ah," Kinan gugup dan tidak enak hati. Mengigit jemarinya karena merasa bersalah, "Aku minta maaf Mas, aku tidak bermaksud membangunkan kamu, aku sungguh minta maaf"


Aim menoleh, dan melihat wajah Kinan yang bersalah, menggemaskan. Aim tersenyum untuk menggodanya.


"Tapi aku sudah terlanjur bangun dan kamu harus bertanggung jawab" menoleh dengan kesadaran yang masih 70%.


Kinan beringsut mundur, "Tapi aku sudah meminta maaf"


Dengan cepat Aim menarik Kinan dan membalikkan tubuhnya.


Mengecup bibirnya dengan lembut, "Aku tau ini yang kamu inginkan 'kan?" Bisiknya, sengaja untuk menggoda.


Kinan terdiam kaku, wajah cantik itu kini merah padam karena merasa malu ketika bibir lembut menyentuhnya.