Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.6



Hari sudah mulai gelap Kinan masih duduk didepan meja kerjanya, hari ini seharusnya Kinan sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya bukan duduk sibuk didepan monitor dengan setumpuk pekerjaan, hari ini Kinan terus memacu menyibukkan dirinya sebab jika berhenti sejenak saja Kinan akan langsung teringat pada wajah munafik Hanna dan Dirga.


"Kriiiiiingg, kriiiiing, kriiiiiing..." Handphone Kinan berulangkali berdering seperti tak sabar, Kinan hanya menoleh tanpa berniat mengangkatnya, berulangkali handphone itu berbunyi Kinan hanya menatapnya dengan perasaan enggan, tapi sebuah pesan mengharuskannya beranjak segera, Mina.


Malam kedua Di kota yang sepi padahal sebenarnya sangat ramai sepi itu hanya dirasakan Aim saja, rindu kepada Kinan membuat hatinya membeku, potret Kinan yang manis digesernya berulang-ulang namun rindu tak bisa terobati dengan mudah.


"Photo istrinya ya?" tanya seorang pelayan dengan senyum ramah mengantarkan pesanan Aim dan Guna.


Aim tersenyum kepada pelayan itu lalu menutup handphone, meraih cangkir kopi yang sebelumnya di letakkan pelayan lalu mengecapnya perlahan.


"Perempuan ya?" Tanya Guna, menatap Aim dengan tatapan penuh selidik.


"Gini-gini akal gue sehat kali Gun," sahut Aim kesal.


"Barangkali saja sama-sama batang" ejek Gina.


"Nggak pernah liat gue bawa perempuan bukan berarti gue penyuka singkong kali, dasar Santoso sembarangan saja bicaramu" Aim melempar Guna dengan camilan yang dipegangnya Guna tertawa geli.


"Shina?" Guna mengira photo yang diperhatikan Aim sambil senyum-senyum sendiri itu istrinya.


Aim diam tak menjawab.


"Gue tau kok itu orang lain Im" imbuh Guna.


"Apa gue salah Gun?" Tanya Aim denga perasaan takut.


"Loe nggak salah Im, loe berhak mencintai orang lain dan menemukan kebahagiaan loe sendiri, loe jangan mengurung hati loe Im bebaskan! karena loe berhak" ucap Guna mendukung.


"Makasih Gun," Ucap Aim menepuk pundak Guna seraya beranjak meninggalkan kafe.


"Bonus gue 10% ditunggu bulan depan," guyon Guna, membalikkan badannya kearah Aim yang perlahan pergi.


"Asalkan loe tutup mulut" balas Aiman tanpa berbalik.


"Siap bos!" Sahut Guna dengan sikap hormat.


...


Plaaakkkk .. suara itu terdengar sangat nyaring Kinan ditampar dengan sangat keras oleh ibu tirinya hingga meninggalkan bekas merah dipipi.


Sang ibu tiri telah mengetahui putusnya hubungan Kinan dengan Dirga, sang ibu tiri yang bernama Mina itu marah dan geram karena Kinan menggagalkan pernikahannya dengan Dirga yang katanya kaya raya.


Kinan hanya bisa diam menerima perlakuan kasar itu toh ini bukan pertama kali, didorong dijambak ditampar itu sudah biasa Mina lakukan kepadanya apalagi setelah ayah Kinan meninggal.


"Dasar wanita bodoh!" Mina menunjuk kening Kinan dengan kasar, "Apa kau sengaja ingin mempermalukan aku Kinan?" Teriak Mina marah.


"Apa kata orang kalau tau pernikahan mu batal? Kinan! Apa kau sengaja mempermalukan aku heuh?" Mina mendorong Kinan hingga terhuyung dan terduduk dilantai.


Berita pernikahan Kinan sudah tersebar ke telinga tetangga, bukan hanya itu Mina juga sering memamerkan Dirga kepada teman arisannya mengatakan kalau putrinya akan menikahi lelaki kaya dari kalangan atas, bahkan dia biang 'Keluarga ibu² disini tak ada deh yang sepadan dengan Dirga' kata Mina saat memamerkan calon menantunya.


"Kenapa kau bisa putus Kinan? Kenapa Dirga membatalkan pernikahan?" Teriaknya lagi.


"Apa itu benar Kinan?"


Kinan tak menjawab.


"Apa itu benar Kinan!" Ulang Mina, menjambak dan melotot geram.


"Ya tentu saja benar, dia sih so soan jual mahal, diputusin kan, makan tuh!" sahut Amara puas.


"Apa yang tidak bisa kau berikan sehingga Dirga mencari perempuan lain Kinan? jawab Kinan!"


Ucapan Amara membuat Kinan sempat bertanya 'mungkinkah itu benar? Benarkah Dirga berpaling karena itu?' Dirga memang sering merayu Kinan agar bersedia tidur bersamanya memaksa Kinan melayani nafsu bejatnya, namun Kinan selalu menolak Kinan selalu berusaha mencari alasan agar bisa lari dari desakan Dirga.


"Aku tidak mau melakukan itu sebelum menikah Mah!" Jawab Kinan mencoba membela diri.


Mina geram menjitak kepala Kinan"Jangan so' suci Kinan! Cepat! telpon Dirga dan bilang kamu mau menikah dengan dia, apapun yang terjadi kamu harus tetap menikah Kinan!" Teriak Mina.


"Tidak Mah Kinan tidak mau, Kinan tidak mau menikah dengan Dirga" jawab Kinan sambil terisak.


"Kinan!" Bentak Mina.


"Mamah boleh marah boleh mukul, boleh lampiaskan kemarahan mamah sama aku tapi jangan paksa aku menikahi Dirga, aku tidak mau mah, aku tidak akan membatalkan niatku keputusanku sudah bulat mah"


"Keras kepala kau Kinan!" Mina kembali melayangkan tangannya di udara untuk memukul Kinan, Kinan meringkuk ketakutan.


"Dirga akan memiliki anak Mah" ucap Kinan, Mina yang siap memukul tak jadi menampar Kinan tangannya melemah oleh ucapan Kinan.


"Apa kau sedang mengada-ngada Kinan?" Tanyanya pelan.


"Ia Mah, Anak itu lebih penting"


"Lalu bagai mana denganku Kinan? Apa aku dimatamu tidak penting? Aku akan dipermalukan Kinan!" Mina mengacak rambutnya seperti orang frustasi "Apa kata tetangga nanti? Mamah akan di cemooh Kinan" Mina kembali berteriak emosi sambil panik mondar mandir.


Mina berjongkok dan berkata dengan sedikit pelan, "Aku tidak mau tau pokonya besok kamu harus memakai gaun pengantin dan menikah dengan Dirga, atau kemasi barangmu dan keluar dari rumah ini!" diakhir Mina meninggikan suaranya dengan lantang.


"Mah, Mamah tidak bisa mengusir aku, ini rumah Ayah dan ibu, Mamah tidak bisa mengusir aku dari sini aku berhak tinggal disini sampai kapan pun, Mamah tidak berhak mengusir aku, tidak!" Teriak Kinan marah, tak terima.


Selama ini Kinan selalu menerima dirinya diperlakukan dengan buruk, dijadikan budak, diperlakukan kasar, namun jika harus meninggalkan rumah Kinan jelas melawan Kinan tidak akan rela meninggalkan rumah, rumah ini sangat berarti untuknya banyak kenangan yang indah bersama sang ayah dirumah ini, bagi Kinan rumah ini sudah menjadi separuh hidupnya.


Mina mencengkram pipi Kinan "Siapa bilang tidak berhak?"


"Aku anak kandung Ayah aku jelas berhak" Kinan menepis Mina dengan kuat sampai terdorong Kebelakang.


Mina berdiri dari duduknya giginya gemerutuk geram "Amara!" Teriak Mina, Amara yang sejak tadi duduk tak jauh dari mereka saat Mina berteriak dia langsung mengerti, dia segera bergegas mengambil sebuah map dan memberikannya kepada Mina, selepas itu Amara yang cuek memutuskan pergi kekamarnya ikut larut dalam pertengkaran ibu dan kakaknya bahkan teriakannya membuat Amara merasa bosan.


"Lihat ini!" Mina melempar map itu kepada Kinan, Kinan segera memungut dan membacanya dengan teliti, kertas tersebut berisi wasiat dari mendiang ayah Kinan, dalam wasiat tersebut beliau mengatakan bahwa rumah tersebut akan sepenuhnya menjadi milik Mina dan putrinya tapi dengan sebuah syarat 'Rumah akan akan diberikan setelah Kinan menikah/berumah tangga'


sejak membaca surat wasiat air mata Kinan tidak bisa berhenti berderai, rasa kecewa, marah dan tidak adil terhadap keputusan Ayahnya membubuh dihati Kinan, dadanya sesak kerongkongannya sakit seperti sedang tersendat batu berukuran besar, tak pernah termimpi Kinan diusir oleh orang tuanya sendiri, dia sedikitpun tidak bisa mengira dirinya akan angkat kaki dari rumahnya sendiri, dalam hatinya Kinan tak ingin mempercayai isi kertas tersebut dan meyakinkan hatinya bahwa pernyataan itu palsu namun tanda tangan asli sang ayah memperkuat pernyataan dan membuktikan bahwa wasiat itu benar dan sah secara hukum.