
Kinan melirik sana sini penuh kecanggungan.
"Maaf. Kamu harus nunggu lama" ucap Aim, telah kembali keruang tamu dimana dirinya menyuruh Kinan menunggu.
Kinan menggeleng sambil tersenyum kecil (Tak masalah).
"Kamu mendengar semuanya'kan? Maaf kalau kamu merasa terganggu seharusnya kamu tidak berbaur dengan suasana seperti ini, anggap saja angin lalu"
"Bu.. bukan, bukan begitu"
Kinan meringis tak enak hati, sebenarnya Kinan tidak ingin terlibat dalam pertengkaran, apa yang ia dengar, Kinan mencoba melupakannya.
"Harusnya sekarang kamu lega" Aim.
"Aku?" Kinan meringis tak mengerti, "Kenapa?"
"Karena aku bukan lelaki beristri seperti yang kamu khawatirkan. Seperti yang kamu dengar, pernikahan yang terjadi antara aku dan Shina tidak seperti pernikahan pada umumnya, tidak ada saling cinta malam pertama atau pun malam berikutnya,"
"Apa karena penyakit itu?" Kinan meringis dalam batin. Menggigit gigit bibir bawahnya dengan otak dipenuhi berbagai macam praduga, "Pantas saja, harusnya aku tidak heran mengapa dia dengan mudahnya mengatakan akan menikahiku, dan mengatakan akan menghidupi anakku. Apa aku akan pergi juga seperti Shina?" Kinan mengeluh dan menyayangkan hal ini dalam batin.
Aim panjang lebar berbicara, namun Kinan tampak tidak fokus akan segala hal yang dibeberkan Aim.
"Nan, Nan" panggil Aim sambil mengusap usapkan tangannya didepan Kinan, tetapi Kinan tidak mendengar, barulah saat Aim menepuk pipinya pelan, Kinan mengerejab kaget.
"Ah ia. Ada apa? apa ada masalah?. Kita pulang sekarang?"
Tanyanya berturut-turut.
Aim mengernyit dibuatnya, sedikit kesal juga pasalnya Kinan tampak tidak sedang mendengarkannya.
Karena Kinan tidak memperhatikannya, akhirnya Aim mengalihkan pembicaraanya, "Ayo," Aim menggenggam jemari Kinan berniat menuntunnya ke tempat terakhir Aim melihat Arman, "Kita temui Ayah dulu,"
"Tunggu!" Kinan menarik tangannya, "Apa kamu berniat memperkenalkan aku dan memberitahu beliau tentang pernikahan kita?"
Aim mengangguk. Kinan menggeleng.
"Apalagi, dia harus tau kalau menantunya datang hari ini"
"Tidak tidak, aku belum siap"
Tolak Kinan keberatan.
"Kenapa Nan? Kita sudah disini apa lagi yang kita tunggu."
Kinan membayangkan kemarahan dan petengkaran yang baru saja terlewatkan, emosi dan kekesalan mungkin masih nenggunung dihati Ayah Arman.
Kinan merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi bila Aim memberitahukan pernikahan tiba tiba ini. Kemungkinan besarnya Ayah Arman tidak akan menerima dirinya, bukan tidak mungkin Aim akan langsung diteriaki, atau bahkan dipukul hingga diusir.
Pastinya dalam keluarga ini menantu yang mereka inginkan itu hanya Shina, sekilas Kinan mendengar, kalau Arman tidak akan menghendaki perceraian Aim dengan Shina.
"Aku belum siap, aku sendiri masih tidak yakin kalau aku telah resmi menikah dengan Bos ku sendiri, aku terkejut dan masih tidak percaya. Jika Bos mengatakan ini juga kepada Ayah mungkin reaksi beliau tidak akan jauh berbeda dengan yang saya alami sekarang, lalu bagai mana jika ada reaksi tak terduga terjadi saat Bos mengatakan ini kepada Ayah, apa Bos sudah mempersiapkan diri?./ Setidaknya tunggu sampai masalah ini (pertengkaran dengan Shina) mereda"
Aim tampak menimbang beberapa saat.
"Padahal aku sangat ingin mengenalkan kamu kepada Ayah dan Ibu" keluh Aim kecwa.
Kinan tersenyum keberatan, "Lain kali saja hehe. Bos masih ingin disini? Kalau begitu saya pulang terlebih dahulu" tanya Kinan sambil mengemasi tas dan bawaannya.
"Aku juga akan pulang, aku antar kamu" gegas Aim mengikuti langkah Kinan.
...
Diperjalanan.
Suasana sempat hening, Aim atau pun Kinan hanya saling menoleh.
Kinan berkali-kali meringis bingung untuk mengutarakan pertanyaannya mengenai penyakit Aim, seperti yang dikatakan Shina.
Kinan sungguh penasaran tapi berat untuk mengutarakan pertanyaannya, akhirnya Kinan hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Aim yang mendengar desisan Kinan menoleh penuh tanya.
"Ada apa Nan? sepertinya ada sesuatu yang mengganggu kamu?"
Kinan diam, menimbang seluruh pertanyaan yang ingin terlontar keluar.
"Nan. Kamu tidak ingin menjawab?" tanya Aim saat mendapati Kinan hanya diam.
Kinan perlu menanyakan itu, karena kini Aim adalah suaminya, tetapi Kinan tidak mempunyai keberanian sebesar itu.
"Katakanlah Nan!" tekan Aim, "Aku tau kamu mendengar semua itu'kan?"
Aim hanya menebak isi kepala Kinan. Sikap Kinan berubah setelah mendengar pertengkaran tadi.
"Bo.. s, apa benar Bos imp...."
Kinan tak jadi mengucakapkan pertanyaannya, pertanyaan itu terpotong karena Aim tiba tiba mengerem. Kinan hampir terpelanting kedepan.
Tiba tiba Aim menunjukkan seringai yang mengerikan.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan kepadaku Nan?" tanya Aim dingin. Melihat perubahan sikap itu Kinan menggigil ketakutan.
"Maa.. maaf maaf, saya tidak bermaksud menyinggung, maaf karena saya terlalu penasaran"
Aim mendekat, memberikan seringai yang tidak bisa Kinan pahami. Kinan mencoba membujuk Aim dengan segala hal, menjelaskan bahwa tidak ada sedikit pun niat untuk menanyakan hal itu, tetapi terlambat.
Kinan sangat cemas. Aim tiba tiba memundurkan kursinya kebelakang, menurunkan sandaran kursi dan menekan Kinan untuk berbaring.
"Bos, apa yang akan Bos lakukan? apa Bos akan...?" lirih Kinan sambil mengerejab ketakutan, dalam hati Aim tersenyum gemas.
"Aku hanya ingin menjawab pertanyaan pertanyaan kamu Nan,"
Kinan terkesiap, seketika melotot tak percaya, Kinan paham akan maksud ucapan Aim ini. Kinan berniat kabur dari situasi ini namun terlambat, Bos yang ditakdirkan menjadi suaminya itu kini telah menenggelamkan wajah dilehernya, menyertakan kecupan kecupan kecil, mencoba menggodanya.
Belaian belaian lembut mengitari sekujur tubuh Kinan, Kinan rasa tidak akan bisa mengendalikan dirinya jika Aim melakukan yang lebih jauh lagi.
"Bos, hentikan" pinta Kinan lirih.
Kinan harus bisa menghentikan kegilaan Aim, kalau tidak, sesuatu pasti akan terjadi ditengah keramaian kota ini.
Bukannya menuruti keinginan Kinan, Aim malah membekap mulut yang sejak tadi merengek memintanya menyudahi pesta meriah yang telah lama dinantikan itu dengan bibirnya.
Suara-sura rintihan kecil yang tertahan diantara bibir keduanya terdengar ditelinga Aim.
Aim lalu mengakhirinya dengan lembut ketika Aim merasa Kinan telah kesulitan bernafas.
"Nan," Mata teduh Aim menatap Kinan dengan dalam, Kinan dibuat beku olehnya.
Kinan bisa merasakan debaran kerinduan besar darinya, "Aku sumi mu sekarang," kalimat sederhana yang terucap begitu mendebarkan.
Kinan terdiam, terkesima oleh tatapan Aim, sebelumnya Kinan tidak pernah beradu pandang dengan laki-laki sedekat ini.
"Aku harap mulai sekarang kamu tidak keberatan jika aku melakukannya"
Kinan bergidik ngeri, lalu berpaling dari mata yang seakan menelanjanginya, menelusuri setiap jengkal wajahnya.
"Tapi" Kinan kembali menatap Aim, "Bukankah?"
Kalimat yang akan terlontar itu kembali tertahan, Aim melakukan hal yang sama seperti sebelumnya pada perempuan yang telah lama diinginkannya.
Kali ini kecupan yang dilayangkan Aim sedikit menggila, tekanan pada setiap (isi sendiri dah) yang diberikan sedikit tidak sabar, aktivitas Aim kali ini sedikit terburu buru, bahkan kali ini tak lagi memperdulikan Kinan yang hampir kehabisan nafas dalam aktivitas itu.
Tanpa Kinan sadari ternyata Suaminya itu telah menunjukkan, pakaian yang di kenak'kan Kinan (Aku hapus lagi yang penting lolos) kebawah tanpa sedikitpun Kinan sadari, mungkin karena Kinan terlalu hanyut dalam suasana yang Aim ciptakan.
Aim melepaskan pautannya dari bibir Kinan, kemudian berbisik, "Kamu siap'kan?"
Kinan memekik saat ada benda menerobos masuk ke celah haram dinikmati selain suaminya.
Awalnya Kinan hanya ingin membuktikan, benarkah Aim sakit? namun Kinan mulai menyadari kesalahan dari keinginannya itu saat sebuah mobil lewat sambil membunyi'kan klakson. Kinan sadar tidak harusnya ini terjadi didalam kendaraan ditepi jalan tengah keramaian.
Rintihan dan pekikan kecil tertahan namun tak terkendalikan itu terdengar amat indah ditelinga Aim, Aim sengaja memberikan tekanan lebih agar bisa mendengar rintihan indahnya.
Diakhir, "Terima kasih" ucap Aim sambil mengecup Kinan.
Permainan itu telah berakhir.
Kinan terpaku tanpa kata, di otaknya masih menggulung sentuhan sentuhan yang diberikan Aim. Kinan tidak menyangka dirinya akan memenuhi kewajiban kepada Aim secepat ini, disaat dirinya belum yakin benar atau tidaknya pernikahan yang ia gelar tadi pagi
Dahulu, Aim hanya bisa berhayal dan menyentuh Kinan dari jauh, tetapi sekarang Tuhan telah memberikan hak itu sepenuhnya, Aim merasa ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Kini Aim bisa tersenyum puas, dan bangga.