Oh My Boss.

Oh My Boss.
95



Kinan terus menatap penuh selidik.


"Habisnya senyum kamu mencurigakan Mas"


Kinan kemudian meraih handphone Aim dari atas meja, "Lalu ini ini apa, Mas?" Tunjuk Kinan pada layar handphone, sambil menatap Aim penuh kesal.


Pesanan menunjuk pada satu set lingerie berwarna hitam.


Aim tertawa samar, "Jadi kamu sudah tau aku menesan ini?" Tanya Aim.


"Ini apaan mas? Mesum. Kamu suruh aku pake pakaian begini? Ini kulit aku transfaran Mas,"


"Ia, 'kan baju ini memang dirancang untuk itu"


"Kalau kainnya tipis begini mana bisa nutupi badan aku. Baju ini, apa bedanya dengan aku memakai pakaian berbahan plastik bening Mas, kenapa kamu nggak belikan aku itu aja. Mana harganya mahal banget lagi, ini kalau duit ini kamu beliin baju baju yang biasa aku pakai kamu bisa beli satu karton plus tokonya Mas"


"Ya, tidak apa apa lah Sayang." Jawab Aim dengan datarnya.


"Tidak apa apa kamu bilang?. Kamu lihat lagi deh, aku bisa masuk angin kalau pakai ini"


"Tidaklah, 'kan ada aku yang peluk" ucap Aim tanpa bersalah sambil mengedik'kan alisnya.


..."Mas aku minta cancel baju ini sekarang juga" memberikan handphone itu kepada Aim....


"Nggak Sayang nggak, itu nggak mungkin peket nya udah di jalan" bantah Aim.


..."Tapi Mas, percuma saja kamu beli ini aku nggak akan memakai pakaian kurang bahan begini, ini baju atau kulambu kamar?"...


"Sayang, aku tidak meminta kamu mengomentari pakaian ini ya, aku cuma minta kamu memakainya ok, cuma itu doang kok" senyum jahil terus tergaris diwajah Aim,. "Katakan kamu bersedia"


..."Nggak," tolak Kinan....


"Sayang, aku belinya mahal loh, kamu pakai ya" bujuk Aim.


..."Nggak, kamu simpen aja dilemari kamu"...


"Tapi ini mahal, sayang 'kan kalau cuma jadi pajangan, mending di pajang ditubuh kamu, pasti sangat sexy"


..."Ia aku tau ini mahal banget, aku tanya kenapa kamu harus beli?"...


"Ya, karena pakaian mahal akan cocok dikenakan di tubuh indah, tubuh kamu indah loh sayang"


..."Mas, berhentilah membujuk, aku tetap tidak mau memakainya"...


"Kalau begitu apa aku saja yang memakainya, gimana?" Aim.


..."Ah ngawur kamu Mas"...


"Kalau begitu kamu mau pake ya,"


..."Nggak,"...


"Yang. Paketnya sebentar lagi nyampe loh, kamu coba ya, malam ini saja ok"


..."Mas, jangan aneh aneh. Lagian mana ada kurir yang tengah malam begini masih mengantar pesanan, mereka juga perlu istirahat juga kali Mas"....


"Kamu tenang aja sayang, kepada orang yang bersedia mengantar paket ku malam ini, Mas akan memberikan sedikit tip untuk mereka"


..."Mm mentang mentang orang kaya kamu Mas, bisa nyuruh seenaknya." ledek Kinan....


Aim menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Bukan begitu, tapi setiap perjuangan harus ada imbalannya kan?"


^^^"Mm kamu emang paling bisa mencari alasan"^^^


Ting tung ting tung.


Terdengar bel ditekan. Aim bangkit dari tidurnya, "Itu pasti paketnya, Biar aku yang ambil sayang"


..."Tapi bukannya kaki kamu masih lemes ya Mas"...


"Nggak sayang, aku tidak selemah itu"


..."Baiklah terserah kamu, tapi kalau kamu ambruk aku tidak akan datang membantu ya"...


"Ia, aku jamin tidak akan terjadi apa apa. Mas janji akan kuat, karena sekarang 'kan ada kamu dan putra kita disini" Aim beranjak turun setelah sekilas mengusap perut Kinan Aim melanjutkan langkahnya.


Kinan hanya tersenyum bangga, dia sungguh sangat bahagia bisa bersama Aim dan diperlakukan istimewa olehnya.


"Tapi kamu janji akan memakainya'kan?" Teriak Aim di kejauhan.


"Aku jadi nggak sabar liat kulit kamu yang transparan"


..."Jangan mesum kamu Mas!" balas Kinan....


Aim pun jadi tak sabar, cengengesan sendiri saat membayangkan kulit putih istrinya dibalik kain tipis berwarna hitam pesanannya, yang sakit pun jadi membaik saking senang dan antusianya.


"Ia aku emang mesum, kamu mau apa?" Melontarkan perkataan sambil menoleh ke arah Kinan, tangannya telah menggapai pintu dan membukanya.


Di tempat yang sama, hanya terhalang daun pintu Amira berdiri menunggu pintu dibuka dengan tlidak sabarnya.


Amira menempatkan apartemen Aim sebagai tujuan pelariannya, entah apa yang difikirkan perempuan itu hanya saja dia begitu terobsesi dengan Aim.


Apa yang dilihatnya tadi siang masih terasa abu abu, hingga akhirnya Amira memutuskan mendatangi tempat Aim sekaligus untuk memastikan bahwa Aim dan Kinan tidak membohonginya.


Banyak pembuktian yang ingin Amira dapatkan, untuk itu ia memutuskan untuk mendatangi Aim.


Seketika mulut Aim mengatup dari cengengesan kemudian diam air mukanya pun berubah tidak senang, mata menyipit penuh intro gasi mengenai apa yang dilakukan Amira ditempatnya.


"Halo Im, selamat malam" sapa Amira dengan lembut dan mendayu.


Seketika Aim kaku.


Aim tak balas menjawab, dia hanya diam penuh sesal, mengapa harus Amira yang muncul dihadapannya sekarang.


"Kenapa barang itu ada padamu?" Tanya Aim dingin.


..."Ooh ini, kebetulan kurirnya datang tepat disaat aku datang, dia hendak memanggilmu tapi aku melarangnya, nggak enak kan kalau suaranya mengganggu mu Im"....


"Berikan barang ku" Aim masih berkata dengan dingin.


..."Ini" Amira memerikannya dengan senyum manis berupaya menggoda....


Tanpa basa basi Aim langsung merebutnya dengan kasar, berbalik menutup pintu untuk kembali kedalam kamarnya, tapi sebelum itu Amira sempat menghentikan Aim.


...Amira bertanya, "Apa didalam sana ada perempuan yang kau sembunyikan Im?" Mendelik menunjuk kotak pakaian yang dipegang Aim,. Aim tak menoleh, apalagi berkata kata. Wajah dingin itu kembali di tunjukkan...


Kinan yang sempat mendengar keriuhan lantas ia melontar, "Siapa Mas?" Tanyanya sambil turun dari kursi beranjak mendatangi Aim yang malah mematung di tempatnya.


Setelah mendekati Aim Kinan pun terkejut, "Amira" ucapnya singkat. Kinan menoleh penuh tanya kepada Aim, lalu beralih memerhati Amira.


Aim mengedik tanda tidak tau.


"Mir. Ngapain malam malam di sini?."


"Aku kesini ya urusan aku, emangnya kenapa nggak boleh?" jawab Amira ketus, "Sama tamu kok nggak sopan" mendelik kecewa.


"Bukannya begitu, Kamu mau lama atau sebentar? kalau lama kita ngobrolnya di dalam yuk," Ajak Kinan.


"Mas boleh 'kan Amira masuk?" berkata sambil menggandeng Aim.


Amira kembali mendelik kesal, sungguh kehadiran Kinan bukanlah yang ia inginkan.


Kinan berjalan didepan bersama Aim dan Amira mengekor dibelakang.


"Yank, kamu mengundang dia ke sini?" tanya Aim setengah berbisik.


Kinan menggeleng sekilas sambil tersenyum smirk.


"Silahkan duduk Mir"


"Im, apa kamu benar benar menganggap Kinan sebagai istrimu?" Batin Amira meragu.


"Sayang" menyodorkan kotak paket yang ia ambil dari Amira tadi "Ini paketnya, kamu harus janji memakainya, ya" menyerahkan kotak ditangannya kepada Kinan.


Kinan menerima itu dengan helaan berat.


"Aku tidak janji Mas"


"Kamu harus memakainya," Tekan Aim dengan senyum tak sabar, "Kamu pasti akan sangat cantik memakai ini" Goda Aim.


"Apa kamu suka ini Mas?" tanya Kinan, Aim langsung menanggapinya (Ia).


"Dalam memilih pakaian, ternyata selera mu cukup bagus Im," sahut Amira sambil berpangku tangan., Kinan dan Aim menoleh dan menatapnya bersama.


"Baju itu memang sangat indah apabila dikena'kan pada tubuh yang pas." Menekan. "Kebetulan set yang kamu pesan ini sama persis dengan yang aku punya. Dan mungkin, kita membelinya di gerai yang sama Im. Kamu tidak percaya? apa perlu aku menunjukkannya untukmu, Im?"