
Aim
Berjalan cepat untuk menyusul Kinan.
"Sa.. Sayang" panggil Aim lantang ketika Kinan tidak juga mendengar dan mau berhenti untuknya.
Kinan spontan menoleh, membulatkan matanya memelototi Aim, menoleh panik kesana kemari, khawatir akan ada seseorang yang mendengarnya.
Kinan segera mengingatkan Aim untuk tidak berbicara sembarangan lagi.
Lalu beberapa orang datang mengikuti Aim, Kinan terkejut juga khawatir, orang lain mungkin bisa mendengar teriakan Aim barusan.
Aim berjalan ke dekat Kinan dengan wajah kusut. Kinan melihat ada kekesalan di wajah suaminya, tetapi Kinan hanya tersenyum kecil untuk menanggapinya.
Melihat Aim terus mendekat tanpa memperhatikan sekeliling, Kinan mulai merasa cemas, segera mengingatkan Aim bahwa keadaan sekitar tidak aman, banyak orang yang membuntuti Aim, jika bertindak gegabah semua orang bisa tau pernikahan yang sendang disembunyikan ini.
"Sa.." Benar saja, Aim hampir memanggilnya dengan kalimat itu lagi, tetapi Kinan segera menempasnya dengan berkata.
"Selamat pagi Bos" merengkuh penuh hormat, "Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Kinan dengan nada formal.
Aim tampak kebingungan menghadapi tingkah istrinya, padahal dia hanya berniat menanyakan keadaan ia dan bayinya selepas mengendarai motor.
Melihat Aim yang belum menyadari sekitar, Kinan antusias menyapa orang orang dibelakang Aim, "Selamat pagi bapak, ibu" Kinan tidak bisa menyapanya satu persatu karena jumlah mereka cukup banyak. Disitu barulah Aim menyadari bahwa sejak tadi Kinan memiliki satu alsan atas sikap anehnya.
Aim menoleh ke belakang, secepat mungkin mengubah air wajahnya, dari wajah seorang suami yang sedang mengkhawatirkan istrinya menjadi seorang bos dengan tatapan dingin dan tegas seperti biasa.
Tanpa memperdulikan orang disekitar, Aim berjalan tegap menuju ruangannya.
Dalam hati Aim menggerutu, "Awas saja kau istri nakal!, aku akan menghukum mu" melewati Kinan dengan wajah membeku.
Orang orang dibelakang pun melewati Kinan dengan wajah yang sama, tidak begitu perduli dengan Kinan yang sedang menunduk hormat
pada mereka.
Sikap itu membuat Kinan merasakan kedinginan yang menusuk.
"Dasar, orang orang berpangkat. Mereka fikir mereka siapa?" Desis Kinan sambil meninggalkan tempatnya berdiri, muali berjalan menuju ruang tempatnya bekerja.
"Ada apa dengan sikapnya (Aim) tadi? Sungguh membuatku kesal" gerutu Kinan.
Ketika Kinan duduk dari belakang malah terdengar teriakkan, "Kinanaaaaaannn" Amor menjerit senang saat melihat kursi Kinan terisi.
Berlari dan langsung merangkul Kinan.
"Jangan bolos lagi ya Nan. Mentang mentang sekarang jadi istri Boss" Kinan spontan membekap mulut Amor, dan berbisik agar Amor tak banyak mengungkit soal ini didalam kantor.
Amor mengernyit dan bertanya dalam bekapan Kinan, "Kenapa?"
"Aku ceritain asal kamu janji jangan bicara sembarangan ok"
Kinan lalu menceritakannya panjang lebar.
Ditempat yang berbeda..
Amira terkejut saat tiba tiba mendapati Mama Mina sudah berdiri di depan pintu kamar sewa nya.
"Mama" Amira melotot, terkejut, "Mama tau dari mana aku disini?" Tanya Amira masih tidak percaya.
"Kamu tidak perlu tau, yang terpenting sekarang Mama sudah menemukan kamu. Nak sebelumnya Mama minta maaf mama mengaku salah kepada mu. Mama mohon kita pulang ya Nak, jangan tinggalkan Mama lagi, kamu harus dengar tadi malam Mama tidak bisa tidur nyenyak, Mama terus memikirkan kamu" bujuk Mina, bersikeras.
"Khawatir?. Bukankah Mama yang meminta Mira untuk melakukan ini? Dan Mama juga yang membuat Mira pergi dari rumah?. Mira muak Mah, Mira muak dengan suasana Rumah. Oo ia, dimana Dirga? Apa dia mencari ku?" Tanya Amira, Amira penasaran apa yang dilakukan lelaki itu setelah ditinggal pergi oleh ya.
Ketika Mina hanya diam Amira langsung paham bahwa Dirga memang tak memperdulikannya.
Mina kembali teringat saat dia marah dan memilih keluar dari mobil, dirga menolak untuk mencari Amira dan lebih memilih menemui Hanna.
"Sayang, mungkin Dirga masih marah. Tapi Mama yakin dia akan mencarimu, karena dia juga mencintai kamu sayang" padahal Mina sendiri juga meragukan perasaan Dirga kepada Amira.
"Amira ingin cerai dari Dirga Mah" ucap Amira spontan, membuat Mina terkejut hebat.
Mina melotot tak percaya, "Jangan ngaco kamu Mir," bentak Mina.
"Kenapa? Apa ini terdengar seperti lelucon?"
"Kamu tidak boleh berbicara sembarangan, kamu hanya sedang marah. Redam emosi kamu dan jangan ulangi lagi ucapan ini ya. Pernikahan bukan lelucon Nak, kamu tidak bisa masuk dan keluar begitu saja"
"Bukan lelucon" Amira mengulangi kalimat Mina dengan nada frustasi "Mama tau bahwa pernikahan itu bukan lelucon? lalu kenapa Mama membuat pertunjukkan komedi seperti ini? Bukankah semuanya hanya akan berisi lelucon? Aku tiba tiba dinikahkan dengan lelaki yang aku sendiri tidak tau siapa dia, parahnya pernikahan itu hanya untuk mengejar popularitas yang Mama inginkan, sementara itu aku dipaksa hidup didalam keluarga yang didalam nya tidak ada yang sepenuhnya peduli sama aku, bahkan suami aku sendiri pun tampak jijik ketika melihat dan harus tidur dengan ku.
Di setiap malam dia akan berkata 'Sebenarnya bukan kamu yang aku inginkan' "Amira berkata sambil terisak, "Mama tidak tau 'kan bagai mana sakitnya aku ketika mendengar itu? Bayangkan ketika kalimat itu terucap dari mulut suami Mama!.
Tapi dia tetap melakukan itu, dia tetap memaksa tidur dengan ku, dia meminta aku melayani dia walau keesokan harinya dia akan tetap berkata 'Bukan aku yang dia inginkan' aku frustasi aku benci laki laki itu, aku benci dia saat menyetubuhi aku dan masih menyebut nama perempuan lain!" Amira semakin berteriak, "Apa yang akan Mama lakukan jika mama menjadi aku?" Teriak Amira dalam tangisannya.
Mina pun tak bisa membendung air matanya ketika mendengar penjelasan Amira.
Disini Mina pun baru menyesal telah menikahkan Amira dengan Dirga.
"Nak Mama minta maaf, Mama sungguh tidak tau semua ini akan menimpa kamu, Mama tidak tau kalau Dirga memperlakukan kamu demikian. Maukah kamu memaafkan Mama?" dengan mata membening dibasahi air mata.
Amira menghapus Air mata yang berderai di pipinya, "Dan bodohnya, Mama malah membela dia, Mama membela mereka seolah disini akulah yang paling bersalah" rintih Amira, "Lebih baik sekarang Mama pulang, biarkan Amira tetap di sini, dan menjauhi neraka yang Mama siapkan"
Mina kemudian berlutut dihadapan Amira, "Mama minta maaf Nak, mama akhirnya sadar kalau yang Mama lakukan benar benar salah" menangis penuh sesal, "Apapun yang kamu inginkan akan Mama kabulkan asal kamu memaafkan Mama" menggenggam jemari Amira dan bersimpu. Amira menoleh ke sisi lain, mengalihkan matanya dari tatapan Mina yang saat ini penuh dengan penyesalan palsu.
Sedikit banyak Amira paham bagai mana Mina yang sesungguhnya.
"Kita pulang ya Nak, Mama berjanji akan membantu kamu mendapatkan hati Dirga"..
Pada akhirnya, itulah yang menjadi tujuannya (Mempertahankan pernikahan yang menguntungkan).