
"Terima kasih Andi" ucap Amira di akhir permainan, Andi yang kelelahan merebahkan punggungnya di samping Amira.
"Aku masih tidak percaya ini, aku tidak mimpi 'kan?" Tanya Andi setengah tak percaya, matanya hampir tertutup saking lelahnya bermain.
"Kita bisa mengulanginya lagi besok, agar kamu percaya kalau ini bukan mimpi" ucap Amira
Andi tertawa payau, "Aku ingin memeluk mu Sayang, kamu jangan menghilang ya" pinta Andi, sambil menggeser posisinya merapat ke dekat Amira.
Mereka berdua melepas malam dengan pelukan yang hangat.
"Mas, bukankah harusnya tadi pagi kamu bertemu dengan Dirga ya? Kenapa dia tidak masuk?" Tanya Kinan, Kinan yang sedang di peluk erat menoleh sesaat, Aim yang masih memejamkan matanya bergumam kecil, "Ia" jawab ya pelan.
"Tapi kenapa dia tidak masuk juga, padahal aku bertemu dengannya di pintu masuk" -Kinan.
"Mm?" Aim masih malas untuk menjawab, "Sayang, apa kamu sudah tidak mau tidur?" Tanya Aim dengan suara malas.
Kinan mengangkat kepalanya untuk melihat jam di nakas, "Jam lima kurang, tapi aku tidak mengantuk Mas" Kinan berguling kesana kemari karena merasa bosan, ingin mengerjakan pekerjaan Rumah Aim melarangnya.
"Mas," panggil Kinan.
"Mm" sahut Aim antara sadar tak sadar.
"Sepertinya di luar hujan Mas" -Kinan.
"Lalu?" Aim kembali bergumam malas.
"Tidak apa apa" Kinan berbalik posisi menghadap ke arah Aim, menatap wajah nya yang tampan lalu memainkan bulu mata Aim yang terpejam.
Bosan memainkan bulu mata, jari jemari Kinan turun ke bagian dada, tangan nakalnya terus merayap tanpa bisa di cegah.
Setelah baju Aim terbuka, Kinan terdorong untuk menenggelamkan wajah di dada Aim yang hangat, Kinan sangat menikmatinya kehangatan tersebut, namun tidak sangka Aim malah terpicu untuk melakukan hal lain.
Sekarang Aim. Tak bisa bersabar lagi, saat Kinan membuka kancing bajunya Aim fikir Kinan akan terobsesi untuk memulai permainan, namun setelah menunggu lama ternyata Kinan hanya memainkan dadanya.
"Mas, kamu apa apaan" Kian memekik,
"Tidak apa apa. Aku hanya bosan menunggu kamu memulai permainan" Aim merangkas, mengecupi lekuk tubuh Kinan.
"Ih, apa apaan si Mas?" Mendorong Aim, berniat menjauhkannya. Namun tenaga lelaki yang di lampau emosi ini tak lagi bisa di kendalikan.
Aim menutup diri dengan selimut dan menggulung Kinan.
...
"89% bu" jawab salah satu pegawai..
Liza tersenyum puas dengan kinerja pendekor pilihannya.
"Baiklah, tata sebaik baiknya. Dan mohon pastikan tidak ada kesalahan" pinta Liza, para pekerja mengangguk paham.
Di tempat lain, Aim duduk berhadapan dengan Dheo, didalam ruangan Dheo.
"Ayah" setelah saling menatap Aim memutuskan untuk memulai percakapan.
"Aim, ada apa Nak tumben kamu datang ke tempat Ayah Nak. Ada apa?" Tanya Dheo.
"Sebelumnya Aim ingin meminta maaf, Aim tidak punya niat sedikit pun untuk menyinggung ayah. Tapi Aim yakin Ayah pasti sudah tau 'kan kabar tentang Aim (Pernikannya dengan Kinan)
Dheo yang hanya bisa berpasrah akhirnya hanya mengangguk,.
"Untuk itu Aim dengan permohonan maaf yang sedalam dalamnya ingin menolak, permintaan untuk datang bersama Shina..Aim tidak ingin lagi membodohi siapapun, Aim ingin berterus terang kalau Aim telah menikahi gadis lain"
"Tapi Nak" potong Dheo, "Apa ini tidak akan berpengaruh pada reputasi mu? Apalagi beberapa minggu lagi kamu akan di angkat menjadi CEO. Jika kamu menyampaikan kabar ini sekarang, orang orang akan banyak yang menjatuhkan kamu, dan mungkin kamu akan gagal jadi CEO".
Aim sempat diam tapi bukan untuk menyesali keputusannya, "Tidak apa apa. Aim tidak akan keberatan untuk kehilangan segalanya demi Kinan, karena bagi Aim dia adalah segalanya, sebagai sesama lelaki Ayah pasti akan paham dengan yang Aim rasakan 'kan?"
Dheo menghela kecewa, "Ayah sangat mengerti, mohon maaf juga karena telah membuatmu kecewa, seharusnya sejak dulu Ayah tidak perlu memaksakan kalian. Atas semua yang terjadi Aim boleh menyakah kan Ayah" Dheo.
"Tidak Ayah, Ayah tidak salah. Hanya kami saja yang kurang cocok, kami juga cukup kesulitan menyatukan hati kami, tujuan kami terus bersebrangan, kami juga memandang satu hal dengan pandangan yang berbeda setiap harinya. Aim minta maaf karena telah mengecewakan Ayah" -Aim.
"Nak," Dheo menggenggam jemari Aim, "Kamu tidak perlu meminta maaf kita semua berhak bahagia, lepaskan apapun yang menjadi beban untuk kamu, dan ambil apapun yang membuat mu senang" -Dheo.
Aim tersenyum kecil, Aim sangat bahagia ternyata Dheo bisa memahami dirinya lebih dari pada Arman.
"Terima kasih ayah, Sampai kapan pun Ayah akan tetap menjadi Ayah untuk Aim"
Dheo mengangguk angguk.
Dheo telah pasrah dengan apa yang menimpa pada pernikahan putrinya, kelakuan nakal Shina membuat Dheo akhirnya pasrah dan menerima keputusan akhir pada pernikahan putrinya.
"Nak, datanglah bersama istrimu" pinta Dheo, Aim mendongak dan terkejut atas permintaan tersebut.
"Apa Aim boleh datang bersama Kinan?" Aim bertanya dengan suara senang.
"Tentu Nak" Dheo mengangguk meyakinkan.