
Meski berlebihan tapi Kinan selalu berharap suatu saat akan bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya merasakan perasaan ini seutuhnya, jika boleh memaksa Kinan menginginkan Aiman sebagai pendamping dan penjaganya.
Karena Aim berhasil memberikan perasaan itu untuknya.
Awalnya Kinan terus berfikir saat bertemu kembali dengannya Aim akan mengutuknya dan melontarkan sumpah serapah padanya seperti yang dilakukan Guna.
Tadi Kinan sempat bertemu dengan Guna, wajah lelaki itu tampak serius dan marah besar saat berkata, "Lain kali tau diri sedikit, jangan hanya tau menyusahkan orang, kau tau? Karena kau aku sibuk kesana kemari hanya untuk mencarimu, aku fikir kau hilang rupanya kau hanya tidak tau terima kasih" sindir Guna. Kinan hanya menunduk bersalah.
Saat pertama kali bertemu Aim bahkan sampai saat ini Kinan masih berfikir Aim akan marah dan lebih menakutkan melebihi Asistennya, Guna.
Tapi sampai saat ini tak ada tanda tanda kemarahan dari wajah bosnya ini. Malah terlihat lebih tenang dan santai. Tapi Kinan masih gugup.
"Oo ia Kinan.. Pergi kemana tadi pagi pagi sekali? aku bahkan belum bangun saat kamu pergi"
Kinan gugup, "Oo. itu.. eee"
Kinan menghela siaga, apabila dimarahi bosnya harus bagai mana dia memberi alasan, di marai Guna saja hampir membuat jantungnya copot.
Aim yang mendengar helaan Kinan menoleh penuh selidik, memerhatikan perempuan yang ternyata diam diam sedang menatapnya, Aim tersenyum kecil tiba tiba perasaan senang terketus dihatinya.
"Ada apa?" Tanya Aim, Kinan mengerejab, segera mengalihkan pandangannya dari mata Aim yang menatapnya hangat, ketahuan disaat diam diam memperhatikan seseorang sungguh memalukan, Kinan meringis.
"A.. a.." Kinan gelangapa."ini" pelan pelan Kinan menurunkan tangan Aim dari bahunya dengan hati hati agar tidak salah paham, perkataan yang sebelumnya hendak ia luahkan malah hilang, akhirnya Kinan mengalihkan pembicaraannya.
Aim terlihat kecewa melihat Kinan yang terlihat keberatan, tapi Aim segera sadar sebagai seorang yang baru dikenali wajar jika Kinan harus menjaga sikap dengannya. Aim menurunkan tangannya dari bahu Kinan lalu bergeser sedikit memberi jarak.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku Kinan" imbuh Aim.
"Oo ee itu tadi Amora menelpon, dia sangat terburu buru jadi aku keluar untuk menemuinya, dan akhirnya aku memutuskan untuk berangkat bekerja bersama Amora" kata Kinan terpatah-patah.
Aim mengangguk kecil.
"Apa, bap.. Bos marah? saya minta maaf, saya sudah berani lancang"
Aim kembali menggeleng, menoleh kearah Kinan sambil melemparkan senyum.
"Tidak. Hanya, lain kali kalau mau pergi izin dulu atau setidaknya tinggalkan sedikit pesan, jangan sampai orang lain mencari mu"
"Me.. mencari?"
Aim kembali mengangguk...
Kinan meringis merasa bersalah.
"Bo Bos, sa saya izin kembali bekerja" kata Kinan canggung.
Aim hanya menoleh tak memberi jawaban.
Membuat Kinan enggan untuk membuka mulutnya kembali, sekarang dia lebih memilih diam.
Beberapa saat diantara mereka hanya ada hening, Aim juga tak berbicara lagi kali ini dia memilih menyandarkan bahunya disandaran kursi, matanya tertutup tapi bukan untuk tertidur hanya ingin menahan agar Kinan terus disisi dan dalam penjagaannya.
Sebenarnya Kinan tak bisa berlama-lama, duduk berdua didalam ruangan atasan malah membuatnya kurang nyaman amat canggung. selain itu saat ini Kinan juga sedang mengkhawatirkan Amor dia takut terjadi apa apa pada sahabatnya itu "B b Bos" kata Kinan sangat pelan dan hati hati.
Kinan hendak menanyakan kabar Amora kepada Aim tapi Kinan tidak memiliki cukup kekeberanian. Kinan sangat resah karena tak ada yang bisa dia tanyai.
Kiann hanya memperhatikan Aim tidak berani bersuara lagi karena takut mengganggu Aim yang kelihatannya sedang tidur.
Kinan sebenarnya merasa apa Aim tidak benar benar tidur, "Bapak.. Bos.. Bap.." Kinan menutup mulutnya karena takut salah memanggil.
Dipanggil 'bos' terkesan terlalu akrab buat Kinan yang baru beberapa kali bertemu dengan Aim, sementara 'Bapak' kalimat ini malah tidak sepadan dengan wajah dan usia Aiman yang terlihat sangat muda.
"Panggil aku Aim" sahutnya, suara berat itu mengagetkan Kinan, Kinan Fikir aim sedang tertidur
'Aim' bukankah terlalu akrab?.
"A.. Aim" Kinan berkata dengan hati hati.
Aim menegakkan posisinya, menatap wajah Kinan yang terlihat diliputi rasa canggung, dalam hati Aim terkekeh sendiri melihat wajah Kinan, namun sebisa mungkin mencoba tenang agar terkesan berwibawa didepan Kinan.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Aim menoleh jam dipergelangan tangannya, Kinan segera mengerti dirinya tidak boleh membuang buang waktu Aim, berkata dengan cepat dan pergi dengan segera itu sangat baik.
"Te.. terima kasih" ucap Kinan terbata bata. bertatap muka dengan orang paling penting diperusahaannya membuat Kinan berkata dengan gugup, dia terlalu berhati hati dan sopan..
"Bicaralah dengan tenang, denganku kamu tidak perlu waspada seperti ini, lakukan seperti kamu sedang berbicara dengan temanmu" kata Aim, sekilas menoleh menampakkan senyum tipis, senyum itu yang membuat jantung Kinan kembali berdegup kencang.
Kinan meringis, 'Teman' bukankah itu berlebihan? Kinan bahkan tidak pernah membayangkan akan berteman dengan seseorang sepenting Aiman, dia bahkan merasa tidak pantas jika harus berteman dengannya.
Kinan menghela nafasnya dalam dalam bukannya tenang Kinan malah semakin gugup, dia tak pernah menyangaka Aim akan berkata seperti itu padanya.
Aim yang sedang duduk terbungkuk lagi lagi menoleh dengan senyum gemas saat melihat wajah Kinan yang kian menegang Aim senang perkataannya telah berhasil menggoda Kinan.
Kinan semakin tak bisa mengontrol gugup jantungnya Kian berpacu tak beraturan, kali ini wajahnya memanas lidah pun kelu dan otak buntu, senyum Aim yang membuatnya seperti itu.
Aim menangkup pucuk kepala Kinan mengacak asal rambut hitam itu dengan asal "Pergilah!, aku tau kamu tidak nyaman" setelah itu Aim kemudian berdiri lalu merapihkan jasnya, sepertinya Aim akan keluar.
Kinan duduk termenggu karena seseorang telah mengusap pucuk kepalanya, tangannya tiba tiba tergerak untuk menyentuh bekas tangan Aim, Kinan lalu mengangguk enggan, lagi lagi lidahnya kelu untuk menyahuti ucapan Aiman.
"Sa.. saya permisi," Kinan berdiri lalu merengkuh sopan sedetik kemudian melangkah meninggalkan Aiman yang berdiri membelakanginya.
Sebelum berhasil menarik handle Aim memanggilnya, "Kinan" Kinan berhenti lalu berbalik, menyahut dengan sopan "I.. ia"
Aiman berjalan beberapa langkah, mengasongkan secarik kertas yang ia robek dari buku, "Jika nanti terjadi sesuatu, cepat hubungi no ini" Kinan menerimanya lalu mengangguk patuh, setelah itu Kinan kembali berbalik.
"Kinan" panggilan Aim kembali menahan langkah Kinan. tangan yang sempat terulur meraih handle melayang di udara, Kinan terpaksa berbalik dan mengurungkan niatnya.
"Kamu harus janji untuk menghubungi no itu, jika ada yang terasa sakit, sekecil apa pun kamu harus segera menelpon!"
"Sekecil apapun?" Kinan mengulang, Kinan mengernyit terheran akan permintaan Aim.
"Ya, sekecil apapun!" Jelasnya.
Sambil menatap secarik kertas itu Kinan mengangguk lalu menerimanya.
"Ba.. baik" Kinan mengernyit binging 'Sebenarnya apa yang terjadi padanya kenapa Aim begitu ingin tau kondisinya, sampi sampai hal kecil saja harus d laporkan' "Kalau begitu saya izin permisi" Kinan merengkuh sopan melangkah dengan perh mungkin Aim akan memanggilnya kembali, tapi kali ini Aim mengangguk tandanya tak ada yang perlu dikatakan lagi.
"Kamu harus menjaga dirimu dengan baik Kinan, maaf disaat ini aku tidak bisa mendampingimu" gumam Aim, Aim berdiri menatap langkah Kinan yang semakin menjauh, pintu yang sempat Kinan tutup Aim buka kembali, rasanya tidak bisa merelakan Kinan pergi dalam batas waktu yang tidak bisa Aim atur.
Jauh dilubuk hati Aim berkata.
"Kinan sebenarnya aku ingin menahan mu lebih lama disini, aku ingin terus menjagamu setiap jengkal tubuhmu aku ingin kamu tetap disini, tapi disekeliling ku terlalu sulit untuk kamu, aku perlu menyediakan ruang untuk menempatkanmu di tempat yang tepat."
Aim sadar disininya saat ini masih ada Shina dan orang tuanya sangat memberatkan itu.