Oh My Boss.

Oh My Boss.
62



"Bagai mana gue bisa tenang Ya, sementara kelangsungan hidup gue seolah digantungkan di keluarga itu. Gue sering berfikir kalau Om Dheo meninggal orang pertama yang paling disalahkan adalah Gue."


"Kenapa? emang loe bisa apa?. Mengatur kelangsungan hidup orang lain, kayak tuhan aja loe Im" Surya bergelak lucu.


Aim tertawa samar, "Loe juga nggak ngerti'kan?" timpal Aim, "Loe nggak akan ngerti gimana jadi gue, yang selalu dituntut melakukan segala hal untuk keluarga Om Dheo, gue cuma dijadikan tameng yang melindungi mereka, sementara mereka nggak pernah mau perduli rasa yang gue rasakan saat itu, sakit, marah, kesal atau segala hal. Gue sampe nggak bisa bilang apa yang selama ini gue rasakan, yang ada dalam fikiran mereka hanya Shina, Shina dan Shina, gue dituntut perfeck walau gue terus diinjak-injak, terutama Ayah"


Surya mengakhiri tawanya, "Gue ngerti kok Im,"


Saat itu tidak sengaja Surya mendengar percakapan Arman dengan Rania, Arman mengatakan 'Kalau terjadi sesuatu dengan Dheo aku nggak akan memaafkan Anak Itu'


"Sebenarnya untuk Om Arman, Om Dheo sama pentingnya dengan Loe Im. Hanya saja Om Arman operthinking dalam segala hal. Om Arman mungkin belum siap kehilangan salah satunya sehingga mendirikan tameng tinggi untuk mencegah itu terjadi"


"Gue tameng itu?" kata Aim lirih diakhiri dengan tawa samar.


"Yang Gue pernah denger, katanya Shina adalah anak yang sangat disayangi oleh Om Dheo. Sementara Om Dheo adalah teman yang paling Om Arman hormati"


"Itu sebabnya Ayah selalu nuntut aku melakukan segala yang terbaik untuk Shina?"


"Aku tidak bisa tau secara jelas. Tapi mungkin Om Dheo sangat mengkhawatirkan kondisinya, sebelum Om Dheo pergi dia menginginkan lelaki yang bisa melindungi putri semata wayang menggantikan dirinya."


"Gue nggak tau. Meskipun benar tapi Gue bukan lelaki pelindung yang diinginkan Shina.


Akh, gue jadi banyak berbicara gini. Gue sampe lupa tujuan gue nelpon lu Ya."


Begitulah kalau Aim sudah berbicara dengan Surya, diselingi curhat segala.


"Tujuan apa?" Surya bertanya. Tangan sibuk mengecek daptar pasien.


"Ya, gue boleh nanya nggak?"


"Nanya apaan?" -Surya. Surya kini telah berjalan menyusuri koridor rumah sakit melangkah menuju ruangannya.


"Sebagai Dokter mana yang loe dahulukan, urusan lu sendiri atau mentingin urusan pasien loe?"


Surya sedikit terheran dengan pertanyaan ini, "Kalau menyangkut profesionalisme ya gue pasti lebih mentingin urusan pesien gue lah, tapi kalau urusan pribadi, ya lain lagi karena gue punya kehidupan gue sendiri yang harus gue utamakan." Aim hanya mengangguk kecil mendengar penjelasan Surya ini. "


"Elo nanya begini ada apa?"


"Enggak," kata Aim.


" Nggak kesambet penunggu kuburan kan?"


Aim hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.


"Emang salah ya kalau gue nanya gini?"


"Enggak juga sih, cuma ya aneh aja" Surya telah sampai dipintu ruangan, setelah dibuka Surya melewatinya dengan tenang.


"Oh ia Ya, kalau misal loe punya gebetan, gebetan yang lagi loe kejar kejar dan udah lama loe harapkan, tiba tiba gebetan loe ngehubungi loe minta ketemuan bayangin loe pasti seneng banget'kan? Loe lagi siap siap mau pergi dan saat udah siap mau pergi ada telepon dari rumah sakit, rumah sakit ngabarin kalau pasien yang loe tangani tiba tiba drop dan butuh penanganan dari loe. Mana yang akan loe pilih nyamperin gebetan loe atau pergi ke rumah sakit? Tapi kalau loe milih ke rumah sakit gebetan loe bakal marah dan loe bakal dibenci oleh dia, sebaliknya kalau loe milih datangi gebetan loe pasien loe nggak akan tertolong"


"Ya gue bakal pilih pasien gue lah, gila itu menyangkut nyawa dan hidup seseorang, ya gue emang nggak bisa jamin dia bisa sembuh dan hidup kembali secara normal, tapi setidaknya gue udah perjuangin dia dengan maksimal dan gue udah buktiin bahwa semua pasien yang gue tangani itu sangat berarti bagi gue, melihat mereka bisa sembuh adalah kebanggan dan kebahagiaan terbesar buat gue. dan mengenai gebetan kalau dia emang mau pergi ya pergi aja, lagi pula gue cuma butuh orang yang paham posisi gue dan mengerti kehidupan gue, dia nggak boleh maksa gue dan dia nggak boleh egois karena yang gue perjuangin itu kehidupan orang lain bukan hanya satu perasaan senang atau bangga saja." Surya tertawa miris "Untungnya gue nggak punya gebetan"


"Lalu bagai mana kalau itu terjadi sama gue, apa gue juga harus ngelakuin apa yang loe lakuin Ya? Apa gue harus ngebela belain orang sakit?"


Pasti karena Om Dheo 'kan?" Aim tak menjawab.


"Loe dan gue juga beda profesi'kan? Jadi nggak perlulah banding bandingin kita berdua. Dan yang pasti yang tadi itu cuma prinsip gue sebagai Dokter. lah loe kan bukan loe harus punya prinsip sendiri lah, nggak usah ngikut ikutin gue. Loe pasti punya tujuan dan keinginan sendiri'kan? Loe cuma harus pertimbangin mana yang baik buat loe dan baik buat orang lain. Lagi pula gue atau Loe pun sama sama bukan tuhan'kan hidup dan mati sudah ditentukannya, terlepas sejauh mana dia mengidap sakit atau sembuh. Waktunya mati mati aja'kan?"


Aim mendengar dan mencerna'i tiap kalimat yang Surya tuturkan.


"Oh ia Ya, menurut Dokter hal apa saja yang dapat memicu kambuhnya penyakit jantung."


Percakapan antara Aim dan Surya berlanjut.


Selepas dari pemakaman Aim memutuskan untuk menjenguk Dheo, melihat kabar kelanjutan kesehatannya.


Karena waktu sudah cukup larut Aim mendapati Dheo sudah beristirahat, Dheo tertidur ditemani istrinya Liza dia tidur disofa tak jauh dari Dheo.


Aim menatap Dheo dalam dalam, sejumlah ketakutan dan kekhawatiran telah menggunung semenjak Dheo dilarikan kerumah sakit. .


Kini selepas kejadian kambuhnya lenyakit Dheo saat harus melakukan segala hal harus penuh pertimbangan apalagi saat semuanya berkaitan dengan kehidupan Dheo.


Aim jadi paranoid, mengkhawatirkan segala hal yang belum tentu terjadi.


Ketika melihat keadaan Dheo yang terbaring lemah, segala sesuatu yang di putuskan harus menyenangkan bagi Dheo. Terlepas Aim ingin memiliki Kinan dan melepaskan Shina.


Diruangan Dheo sangat sepi, Aim sengaja datang mengendap-endap agar kedua mertunya tidak dibangunkan oleh kehadirannya.


Menarik selimut sampai didada Dheo.


Saat sedang duduk Aim merasakan sesuatu bergetar dari saku mantel yang dipakainya.


Terdapat nama Amor dalam panggilan, Aim lalu memutuskan keluar untuk menerima panggilan Amor.


Sebelum menerima panggilan Aim bergumam, "Amor? ngapain nelpon malam malam?" sekilas melirik pergelangan tangannya, waktu menunjukan pukul 00:4.


Aim mengernyit penuh khawatir.


Lalu Aim bergegas keluar tanpa meninggalkan suara apapun.


Hai hai Hai..


Author menyapa..


Dari mulai menulis hingga saat ini, Author banyak berterima kasih kepada readers yang tentu sangat Author cintai dengan sepenuh hati, cinta itu Author luahkan lewat tulisan demi tulisan yang tidak seberapa.


Ucapan terimakasih juga kepada semua Author pendukung, terima kasih yang sedalam dalamnya.


Terima kasih karena kalian berkenan hadir dilapak receh ini.


Readers tercinta, sedikit banyaknya kalian yang datang membaca sempatkan tinggalkan like juga koment ya🤗🤗 supaya Author nggak kehilangan jejak kalian.😊


Salam Cinta untuk untuk semua pembaca,😚😚