Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.22



Akhirnya Kinan memutuskan untuk keluar mencari tau sendiri lokasi keberadaannya saat ini.


Kinan mendatangi Resepsionis menanyainya berbagai hal mengenai tempatnya berdiri sekarang.


Setelah mendapat informasi Kinan segera memberi tahukannya kepada Amora.


"Mor aku berada di Apartemen A"


"Nan, kamu lagi ngapain di Apartemen elit?" selidik Amor, setahunya Kinan tidak pernah memiliki apartemen apalagi dikwasan yang terbilang strategis. Tidak ada juga teman atau kenalan Kinan yang tinggal ditempat ini.


"Ceritanya panjang Mor, nanti saja aku ceritanya ya" ucap Kinan masih dalam sambungan telpon.


"Tadi malam..." Ucapan menggantung, bingung juga harus bercerita kepada Amora, kejadian semalam sangat mengerikan.


"Tadi malam? Ada apa dengan tadi malam Nan? Kamu nggak kenapa-napa kan? Nggak ada hal buruk'kan?"


Seperti dugaannya Amora pasti akan sangat khawatir.


"Ceritanya panjang Mor, nanti saja aku ceritanya"


"Baiklah" Amora mengalah, "Janji cerita, ya!" tuntut Amora penasaran.


"Ia janji"


"Baiklah aku segera kesana, kirim alamatnya, gpsnya saja" Kinan menutup telpon dan segera menuruti perintah Amora untuk mengirimnya alamat.


Saat mengetik nama Apartemen yang dia dapat dari Resepsionis Kinan berdecak kesal dengan dirinya "Kenapa nggak dari tadi aja aku share lokasi" di akhir Kinan tersenyum bodoh.


Tidak memerlukan waktu lama, Amora yang sudah tau letak Apartemen itu dengan diarahkan Gps melaju tanpa hambatan karena kebetulan Amora sedang searah dengan lokasi yang Kinan kirimkan. 15 menit kemudian sudah sampai.


Apartemen yang sangat strategis dekat dengan pusat kota dan jalan utama.


Tak jauh dari tempat itu berdiri perusahaan tempat ia dan Amor bekerja.


Ini menjadi sebuah lorong besar untuk Amora menemukan Kinan dengan mudah.


Kinan tersenyum kecil merutuki ketidak tahuannya akan lokasi Apartemen yang sempat ditempatinya tadi malam, Kinan tidak tau kalau kamar yang ditempatinya itu unit Apartemen yang sehari hari ia lewati bersama Amora saat akan berangkat kerja, tidak pernah terbanyang akan menginap membayangkan untuk masuk melihat lihat pun tidak pernah wajar saja jika Kinan sedikit kebingungan lantaran gedung Apartemen yang terkenal dengan sebutan 'rusunnya orang kaya' ini sangat luas dan megah penampilan didalam sangatlah berbeda dengan tampilan yang terlihat dari luar.


"Nan" Amor melambaikan tangannya, Kinan yang sedang duduk menunggu pun segera berdiri dan menghampiri Amora.


Tatapan Amora beredar kesekeliling, mulutnya menganga sempurna saat melihat sendiri kemegahan Apartemen yang diceritakan banyak orang ini.


"Nan kenapa kamu bisa ada disini?"


"Aku dibawa seseorang Mor" Kinan berkata dengan perasaan enggan.


"Seseorang? Siapa? siapa yang ngajak kamu nginep ditempat megah ini?" Amora bertanya dengan tidak sabar ingin segera mendapat jawaban.


"Itu ... Aku tidak sempat berkenalan dengan dia" Kinan tersenyum smirk.


Amora mendelik kesal, "Yang serius dong Nan"


"Hehehe.. Ia aku serius"


Amora yakin pemilik apartemen itu bukanlah orang orang sembarangan.


Amora tak henti hentinya menatap takjub pada bangunan yang hampir setengahnya kaca ini Amora menatap sekeliling membayangkan bisa tinggal ditempat mewah ini. Lalu tatapan Amor sedikit menyelidik pakaian Kinan, merasa ada yang aneh dengan kemeja yang bentuknya seperti pakaian lelaki itu.


"Nan,"


"Ya" Kinan menyelipkan helaian rambut yang tertiup angin ke telinganya.


Tidak sengaja Amora melihat label kebanggan perusahaan ternama ditulis di lengan dalam kemeja, perusahaan yang khusus mengeluarkan pakaian laki laki edisi terbatas disetiap tahunnya.


Amora mengernyit hebat saat melihat pakaian Kinan, benar saja yang difikirkan Amora, baju itu milik seorang lelaki.


"Nan baju kamu"


Dalam hati bertanya "Siapa yang mengganti pakaian ku?" Kinan meringis sadar tangan reflek menyentuh kancing dibagian dadanya, "Siapapun orang itu dia pasti sudah melihat seluruh lekuk tubuhku" Kinan mendesah menyesal.


"Ooh ini" Kina mengumpulkan naluri pembohongnya untuk mengelabui Amora "Tadi malam bajuku terkena tumpahan tea jadi terpaksa aku minjam baju teman dan, inilah bajunya"


"Teman siapa? Siapa dia?"Amora terus memberondol "Setau aku kamu tidak punya teman lelaki yang sanggup membeli baju dengan brand terkenal ini? Dan dengan mudah meminjamkannya padamu?" Tampaknya Amora meragukan penjelasan Kinan. Terlalu tidak nyata.


"Nan jawab! Jawab siapa dia!" Amor menghentaak kan kakinya karena kesal tak ditanggapi Kinan.


Kinan malah cengengesan, pura pura melihat jam untuk mengalihkan pertanyaan Amora, "Sudah hampir masuk kerja Mor" Kinan bergegas menuju parkiran, Amora terpaksa mengikuti Kinan walau sebenarnua hatinya gonok karena pertanyaannya tak diindahkan Kinan.


Kinan berdiri di samping motor menunggu Amora menghampirinya.


"Nan kamu kenapa sih? sikap kamu aneh gini, ada yang kamu sembunyiin dari aku?"


Kinan sejenak diam "Bukan Mor, nggak ada apa apa yang aku sembunyiin dari kamu Kok"


Amora mengernyit "Kamu ngerasa ada yang sedang kamu sembunyiin dari aku nggak sih? Dari wajah kamu aku liat kamu lagi bohong Nan"


Kinan menggeleng, "Nggak Mor nggak, percaya deh" kata Kinan sambil tersenyum kecil mencoba meyakinkan Amora bahwa dirinya sedang berkata jujur.


"Cckkk, baiklah" Amora terlihat kecewa.


Berbalik lalu mengambil helem dan memberikannya kepada Kinan yang lain segera ia kenakan.


Kinan berdiri mematung memperhatikan Amora.


Kinan bingung apa harus memberi tahukannya kepada Amora tentang apa yang menimpanya, menceritakan kejadian yang menimpanya tadi malam kepada Amor bukanlah hal yang tepat nantinya Amor akan sangat mengkhawatirkan dirinya


Lalu Kinan juga tidak mungkin mengatakan dengan terang kalau dirinya masuk kedalam apartemen dibawa seorang lelaki Amor mungkin akan berfikir negatif kepadanya apalagi baju ini menjelaskannya pun tidak akan berguna karena tidak akan mendapat titik selesai.


Kinan mendesah buncah, otak ini rasanya mau pecah..


*Kenapa orang ini harus membawaku kesini sih? jadi ribet kan?


Lagi pula siapa orang tadi? sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana*?


Kinan terus berfikir dan bertanya tanya..


Diperjalanan Kinan terus berfikir memikirkan alasan tepat untuk menjawab pertanyaan Amor nanti, Kinan yakin setelah sampai nanti Amora akan mengintrogasinya kembali.


Sesekali Kinan mendesah bingung..


"Nan,"


Karena belitan fikirannya Kinan tidak fokus dan tak mendengarkan panggilan Amora.


"Nan" Amora meninggikan suaranya.


Kinan mengerejab keget.


"Ya, ya. Amora.." sahutnya.


"Kamu kenapa sih Nan? Banyak fikiran ya? Kenapa melamun terus?" tanya Amora, dia sedikit kesal karen Kinan terus mendiamkannya, tidak biasanya Kinan seperti ini.


"Nggak ko' cuma lagi kepikiran sesuatu" Kinan sedikit berteriak karena suaranya kalah oleh bisingnya suara kendaraan dijalan.


"Sesuatu apa?" Amora ikut berteriak.


Kutipan novel You are my life..


Mencintaimu seperti menerbangkan layangan.. tertiup angin.. Menarik dan mengulur benang..


Semakin aku ulur semakin khawatir kau akan menjauh dan terlepas dari genggaman.


Semakin kutarik mendekat angin akan dengan cepat menjatuhkanmu..