Oh My Boss.

Oh My Boss.
86



"Jika harus memilih sampah atau hidangan diatas meja makan dihiasi mas, aku pasti akan memilih sampah itu. Kau tau kenapa'kan Mir? Karena bagiku sampah yang kau buang lebih suci dibanding hidangan busuk yang dihiasi mas diatas meja. Kau tidak perlu mengingatkan aku, karena aku bisa memilih mana yang menurutku baik dan mana yang menurutku buruk, contohnya kau dan Kinan, kalian berdua sangatlah berbeda, kau mau tau perbedaannya Sayang?" Tatap Aim kepada Kinan, "Kamu" membelai wajah Kinan, "Tidak pernah menggoda aku, kamu tidak pernah melakukan segala hal untuk mencapai apa yang kau mau, tapi akulah yang mendatangimu aku yang menggoda mu, maka akulah sampah yang dia maksud itu" tatapan dingin terarah kepada Amira, beberapa kalimat sengaja Aim ucapkan untuk menyindir Amira sebagai sesosok perempuan penggoda.


"Oh ia Mir, satu hal yang perlu kamu ketahui. Sampah, kau membuang itu bukan karena dia busuk atau tidak berguna lagi, kau sengaja buangnya karena tau dia terlalu berharga dan kau takut untuk tersaingi, kau sengaja membuangnya agar diatas meja itu hanya tersisa makan busuk yang kau hidangkan dengan bangga, begitu bukan?"


Amira diam membeku.


"Aku mencintai sampah yang kau buang itu Mir, dan aku membenci hidangan busuk yang menggoda" tekannya dingin.


Amira menunduk.


"Sayang, katakan kamu mencintaiku, Nan! Katakan kamu mencintai aku, aku tidak perduli dengan penilaian orang lain, yang aku mau hanya kamu, aku hanya ingin kamu mencintai aku, yang aku inginkan cuma kamu, katakanlah sekarang, katakan!" Aim terus menekan.


"Sekarang semuanya tidak penting lagi aku hanya mencintai kamu, seperti kamu mencintai aku," Kinan mengatakannya dengan pasti, "Aku mencintai mu" kemudian melayangkan ciuman lembut ke bibir Aim, Aim menerimanya dengan senang hati.


Amira mendesis, kemarahan menggulung didalam hatinya, Amira tidak pernah berfikir rencana yang ia susun itu akan gagal total.


Padahal Amira telah merencanakan pendekatan ini dengan matang, Selain memakai setelan sexy Amira juga telah memakai riasan tebal sebelum menjenguk Aim, namun tidak disangka saat memasuki unit Guna yang ia fikir hanya ada Aim seorang ternyata ada Kinan juga, harusnya sejak awal Amira menyerah saja, namun Amira terlalu bersikeras dan berfikir kalau Kinan hanyalah gadis polos yang tidak tau apa apa, tapi ternyata perempuan itu lebih berhasil menggoda Aim, Amira melihat sendiri bagai mana Aim tidak bisa mengendalikan dirinya saat Kinan memberikan sentuhan demi sentuhan, bahkan sentuhan kecil sekalipun, Amira sempat tidak percaya ternyata Aim se sensitif dan segila itu kepada Kinan.


"Hei tunggu," cegah Kinan saat Aim mulai merangsaki tubuhnya.


Aim berhenti merangsaki, "Ada apa? Sayang?"


Kinan mengedik kan kepalanya menunjuk Amira, Aim langsung paham, Kinan menyuruhnya berhenti karena ada Amira didalam ruangan itu, Kinan berfikir tidak mungkin melakukannya dihadapan orang lain, padahal Aim hampir tak terkendalikan lagi dan mungkin tidak akan peduli pada siapapun.


"Huuhhh" Aim membuang nafasnya dengan kasar.


"Mir," sebelum berbicara terlebih dahulu Aim mengusap bekas bibir Kinan pada bibirnya, sedikit basah.


Amira membenci itu, melihat Aim menikmati sentuhan Kinan, Amira sungguh kecewa dan marah besar.


"Ya,"


Meski begitu Amira masih terlihat so santai.


"Aku tidak bisa memutuskan ajuan kamu sekarang, kamu pulang saja dulu dan tinggalkan berkasnya," titah Aim datar.


Amira kesal saat Aim mengutarakan permintaanya apalagi saat Kinan berkata, "Kamu nggak boleh bilang gitu sama tamu, maafkan dia Mir, bibirnya kadang sedikit lancang. Atau aku pergi dulu aja supaya kalian bisa bicara dengan tenang?."


Amira merasa Kinan sengaja menyindir.


Menatap Aim dengan perasaan tidak enak, "Maaf aku terus mengganggu kamu bekerja, yang aku lakukan terlalu banyak, aku minta maaf! kami jadi tidak fokus, aku tinggal dulu Ok" beranjak untuk pergi ke dapur, lagi lagi lelaki dimabuk cinta itu menahannya, Kinan pun duduk kembali lalu Aim langsung merebahkan kepalanya dipangkuan Kinan, bermanja kepada istrinya. Kinan pun mulai bermanja dengan memainkan rambut suaminya.


Begitulah kehangatan yang ditunjukan Aim terhadap Kinan, namun terlihat abu abu dimata Amira, bagaimana pun Amira terus berfikir bahwa kemesraan itu dibuat buat.


"Oh ia Im, apa kau lapar? Aku bisa membuatkan makanan untuk kamu, kemarin kau tampak menikmati makanan yang aku buat, maukah aku buatkan lagi hari ini? aku tau kamu tidak berselera tapi kalau aku yang masak kamu pasti suka" Kinan terhenyap mendengar pengakuan Amira, langsung menunduk menatap Aim yang berbaring dipangkuannya, meminta penjelasan.


Amira tersenyum licik.


Perempuan mana yang bisa rela suaminya dibawakan makanan apalagi sampai menyukainya.


"Kamu,.. masakan dia" Pertanyaan Kinan mengambang.


"Ya, masakan dia yang membuat aku terbaring seperti sekarang,"


Spontan Amira menoleh, Kinan terkejut namun tersenyum membayangkan betapa buruknya makanan yang dibuat oleh Amira.


"Me, memangnya apa yang kamu makan?"


"Aku tidak tau, tapi tiba tiba aku mual dan pusing, dan beginilah aku sekarang" -Aim.


Amira tersenyum kecut, "Terlalu mengada-ada" decaknya pelan.


Amira ingat betul saat kemarin dengan bangganya memberikan makanan kepada Aim, Amira fikir Aim akan terkesan dengan makannya, "Mentang mentang didepan istri, dia pura pura membenci makan ku," cebiknya.


"Apa ada bahan yang memicu alergi pada masakan yang diberikan Amira? Dokter Surya bilang kamu mengidap penyakit itu" -Kinan.


"Aku alergi kaldu jamur, aku tidak memperhatikan itu karena Amira terus memaksa agar aku mau mencicipinya" -Aim.


Kinan mengangguk angguk. Ingin menertawakan Amira hingga terbahak bahak, namun saat melihat kondisi Aim yang sempat memburuk dan membuat nya panik, Kinan berfikir dua kali untuk tertawa.


"Aku mau istirahat, pulanglah Mir, tak ada yang lebih mengganggu selain kedatangan kamu membawa pekerjaan, lain kali serahkan apapun yang ingin kau serahkan kepadaku kepada Guna, biar nanti dia yang memberikannya kepadaku" Aim berkata seperti seorang lelaki tak berperasaan. Aim kemudian menghadap pada perut Kinan lalu mengecupnya beberapa kali.


"Kalau begitu aku pamit pulang, selamat istirahat Im semoga lekas sembuh" Amira masih menunjukkan wajah manis meski Aim dengan sengaja mendiamkannya.


"Mm maaf aku tidak bisa mengantarmu" Kata Aim, Kinan antusias berniat mengantar Amira namun Aim langsung menahan pinggang Kinan, Kinan urung melanjutkan niatnya.


"Sampai bertemu di kantor Im" Amira lantas pergi meninggalkan Aim dan Kinan, tetapi Amira belum sepenuhnya pergi. Rasa penasaran akan hubungan Kinan dengan Aim mendorong Amira untuk mengetahuinya lebih jauh, diam diam Amira memperhatikan Aim dari balik pintu.


"Kamu mau istirahat 'kan? Sebentar aku ambilkan bantal untuk kamu," menggeser kepala Aim dari pangkuannya, tetapi Aim sengaja menekan agar Kinan tidak kemana mana.


"Bantal?, Istirahat bukan berarti tidur'kan? Aku hanya ingin merebahkan tubuhku disini," menepuk pangkuan Kinan.


"Mm kalau begitu aku pastikan kamu tidak akan bisa tidur," -Kinan.


"Aku memang tidak berniat tidur," -Aim.


"Lalu?" -Kinan.


"Aku hanya ingin menikmati waktu berdua ku dengan kamu," -Aim.


"Kau sengaja mengusir Amira hanya agar tidak mengganggu waktu mu, itu yang kamu maksud?" -Kinan.


Aim terkikik geli.


"Kejam kamu Mas," mendesis prihatin.