Oh My Boss.

Oh My Boss.
132



"Anak yang kamu kandung bukan anak haram 'kan?" Tanya sang ibu penuh sindiran.


Mendelik meneliti perut Kinan, menatapnya penuh cerca.


Kinan diam tak menjawab.


"Lihatlah putriku" matanya mengarah ke seorang ibu muda yang duduk bersama suaminya, "Dia sangat beruntung, suaminya seorang manager di perusahaan LK, meski pun suaminya sangat sibuk tapi dia rela meninggalkan pekerjaan nya yang padat demi mengantar istrinya cek kandungan. Dengar Nak, sibuk itu sebenarnya hanya sebuah alasan kalau memang dia sayang dia akan ngeluangin waktunya kok" perkataan si ibu penuh sindiran dan tekanan, tetapi Kinan tidak ingin begitu menanggapinya, Kinan hanya sesekali tersenyum menanggapi ocehan si ibu.


Kinan menoleh kembali ke tempat anak si ibu duduk, melihat keduanya hanya sibuk bermain handphone, Kinan merasa tidak yakin dengan pernyataan si ibu, bahkan suasana di sana sangat dingin tanpa saling bercengkrama.


"Ibu bilang dia seorang Manager?. Perusahaan mana?" Tanya Kinan penasaran, hanya ingin membuktikan bahwa yang di dengarnya itu benar, perusahaan LK.


"Dia Manager pemasaran di perusahaan LK" jawab si ibu dengan bangganya.


Kinan tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil, dalam hati kecil Kinan tersenyum bangga karena Suaminya adalah pemilik perusahaan yang sedang si ibu bangga banggakan ini.


"Kau tersenyum, apa kau terkagum kagum dengan prestasi menantuku? Dia memang hebat, bisa menduduki posisi penting di perusahaan besar,"


"Ia. Saya juga mendengar orang orang yang bekerja di sana memang bukan orang orang sembarangan" -Kinan.


"Oh jelas, bahkan cleaning service di sana harus setara gelar S1"


"Mereka memang hebat" puji Kinan.


"Oh tentu, mereka memang sangat hebat, karena memang hanya orang orang hebat yang bisa bekerja di sana" si ibu semakin berbangga, "Kau sendiri? Apa kau punya pekerjaan?." Si ibu kembali menilik Kinan dari ujung kepala sambil ujung rambut, "Tetapi wajahmu cukup cantik, kau tidak usah bekerja, cari saja suami kaya walau pun harus jadi simpanan yang penting bisa hidup enak" saran sang ibu terdengar penuh ambisi.


"Ah, tidak." Kinan tersenyum canggung, "Saya juga bekerja, kebetulan saya juga bekerja di perusahaan yang sama dengan menantu ibu"


Si ibu terlihat tidak percaya, "Ah benarkah? Apa kau memiliki orang dalam yang mendukungmu?" Si ibu tampak berfikir kalau posisi Kinan karena seseorang memberikannya.


"Tidak, karena perusahaan LK mengedepankan prestasi. Hanya orang orang hebat yang bisa kerja di sana" Kinan kembali mengulangi ucapan si ibu untuk mengingatkannya pada kalimat yang pernah si ibu ucapkan.


"Padahal untuk mendapatkan uang kau cukup mengandalkan kecantikan mu, jangan terlalu menggunakan otak mu karena itu akan melelahkan"


Kinan tersenyum getir saat mendengar saran dari si ibu yang duduk di sampingnya, dia terus merasa hebat saat anaknya mendapatkan suami seorang manager perusahaan LK.


"Pasti menyenangkan mendapatkan suami seperti menantu ibu" tambah Kinan.


"Oh tentu, dia sangat mempesona, banyak perempuan cantik mengantre di belakangnya. Tetapi dia tidak perduli, dia dengan teguh memilih putriku, dan terus mengatakan mencintainya hingga membuat kami (Orang tua) tak bisa menolaknya. O ia Suami mu bekerja di mana? Apa jabatannya? Maaf loh jika ibu sempat membuat mu iri"


Kinan tersenyum kecil, "Tidak apa apa buk, lagi pula saya tidak merasa iri dengan putri ibu, dia memang beruntung, dan itu adalah garis tangannya, sementara saya juga memiliki garis tangan saya sendiri"


"Oo baguslah kalau begitu, setidaknya ibu tidak perlu merasa sungkan saat menceritakan menantu ibu. Kau bilang suamimu sangat sibuk, apa jabatan dia?" Selidiknya penasaran, tampaknya si ibu benar benar ingin tau siapa suami Kinan.


"Mm, dia tidak memiliki jabatan khusus" jawab Kinan.


Kinan menarik nafasnya dalam dalam, perkataan si ibu memang sudah sangat kelewatan.


"Tapi suami saya, dia meski menganggur sepuluh tahun pun kami tidak akan kekurangan apapun"


Si ibu melotot tidak percaya, "Memangnya suamimu punya apa? Kontrakan seribu pintu?" Sindirnya meremehkan.


"Yang dia punya lebih banyak dari itu" jawab Kinan, membuat si ibu tercengang.


"Lalu, apa pekerjaan suami mu?" Tanya si ibu benar benar penasaran.


"Dia bukan pekerja, tapi pemilik perusahaan yang ibu banggakan (LK)"


Si ibu semakin menganga tak percaya.


Si ibu meringis miris, menganggap ucapan Kinan hanyalah bualan "Nak, ibu tau banyak sekali perempuan yang menggilai dia, dan berharap memiliki suami seperti itu tetapi mereka tidak sederhana. Perbedaan kita terlalu jauh, sebaiknya simpan mimpi mu itu dan terimalah kenyataanya."


Kinan meringis kesal bagai mana bisa pengakuannya di anggap sebagai mimpi.


'Ibu ini tampaknya tidak berniat mengetahui kebenaran, dia hanya sedang memamerkan menantunya'


batin Kinan berkata kata.


"Katakan saja pekerjaan suamimu, jangan malu. Kalau kamu mau, menanatu saya bisa membantu menyarankan suamimu bekerja di perusahaan LK" si ibu masih bersikeras memamerkan menantunya.


"Sebelumnya saya berterima kasih, tetapi sungguh itu tidak perlu" Kinan menghela lelah pada penawaran tersebut.


"Kamu tidak usah sungkan, saya senang bisa membantu" kata si ibu bersikeras. Kinan tersenyum terpaksa.


"Jangan lupa untuk menyampaikan ini kepada suamimu, agar dia lebih berguna" si ibu menekan kalimat terakhir.


Kinan mulai merasa tidak nyaman dengan tempat duduknya, bukan tempatnya tapi teman duduk yang terus mengajaknya berbicara.


Kinan mencoba mengalihkan pembicaraan tetapi si ibu terus mengajaknya berbincang dengan rumus yang sama.


"Bu, apa ibu tau siapa nama pemilik perusahaan?" tanya Kinan ketika si ibu terus nyerocos memamerkan menantunya yang sukses.


Si ibu diam tidak tau.


"Apa ibu tau siapa nama calon pewaris perusahaan LK?" tanya Kinan dengan gelagat sedikit sombong, itu semua Kinan lakukan karena si ibu tidak bisa berhenti memamerkan menantunya dan mencemooh suami Kinan.


Kinan mulai geram.