
Aim turun lewat pintu kanan, berputar untuk membukakan pintu kiri yang tepat di sebelah Kinan, terbentang dari ujung tempat mereka berpijak sampai ke pintu masuk karpet merah sebagai tanda keagungan.
Semua kamera mulai beralih saat Aim turun dari mobil, seolah Aim adalah bidak dan bintang yang di tunggu tunggu.
Desas desus pun mulai bersambungan saat Aim meraih pintu mobil, potograperpun mulai terfokus tak ingin melewatkan momen mahal ini.
"Itu dia wakil!" Tunjuk salah satu dari mereka, secepat mungkin memasang kamera untuk mengambil gambar.
"Apa dia membukakan pintu untuk seseorang?" Tanya beberapa orang, saling menoleh penuh tanya.
"Tapi siapa? Bukankah istrinya (Shina) sudah ada di dalam?. Apakah dia perempuan yang memakai Magoy Amba itu? Siapa dia apa mungkin dia pacar barunya?" Orang orang melirik saling tanya. Meski ini bukan hal yang boleh mereka bahas (privasi) namun tetap saja, mereka penasaran dengan topik hangat yang baru baru ini mencuat, tentang kemungkinan perselingkuhan yang di lakukan Wakil Presedir grup LK.
Perlahan pintu pun terbuka menampakkan wajah cantik yang di tunggu tunggu, ini adalah bintangnya.
Namun desas desus yang mencuat sebelumnya merubah penilaian kepada keduanya menjadi buruk.
Tak hanya itu, ternyata dari beberapa orang yang memotret salah satunya adalah utusan Shina.
Jika besok muncul berita negatif yang menyudutkan Aim dan Kinan maka dialah biangnya.
Kinan dengan gaun berwarna peach sanggul kecil berpita di belakang kepala menambah kesan manis si pemakainya, Kinan melangkah dengan menggandeng Aim yang memanerkan nya dengan bangga.
"Ooh jadi dia perempuannya" orang orang di belakang mulai menilai, dan menatap sinis. Kecuali potograper yang berbaris di depan, mereka tetap bekerja dengan profesional.
Di dalam gedung, Shina masih menunggu dengan sabar, namun buruknya dalam kesabaran itu tertuang niat buruk yang telah ia susun untuk Aim.
Tak beselang lama potograper yang di utus Shina memberi kabar kalau Aim telah memasuki gedung. Dengan senyum sinisnya Shina pergi untuk menyambut Aim.
Dan benar saja, Aim muncul bersama Kinan, langkah teratur dan beriringan. Senyum simpuh menepis tatapan mata orang orang yang berbaur didalam pesta, mereka semua seolah sudah mengetahui status Kinan yang sebenarnya (Istri simpanan Boss grup Lk).
"Ternyata dia orangnya" desas desus pun di mulai.
Shina, dengan tatapan tajam berjalan ke arah Aim dengan segelas anggur di tangannya untuk ia siramkan di wajah Kinan, namun saat Shina bersiap untuk menyiram seseorang berlari dari samping dan melintas Shina, mencegah lalu menariknya ke belakang panggung.
"Apa yang akan kau lakukan?" pekiknya, dia adalah lelaki yang masih termasuk kerabat Dheo.
"Aku akan menghajar perempuan itu, aku ingin membuktikan kepada semua orang kalau dia bukan lah perempuan baik baik, semua orang harus tau kalau pernikahan ku hancur karena dia!" balas Shina berapi api.
"Ku sudah gila? hanya karena amarah mu kau mau menghancurkan pesta Om Dheo? semua orang sedang ada di sini, mereka tamu terhormat, gila kalau kau membuat panggung sandiwara di sini"
"Sandiwara kau bilang?!" Shina melentik tak terima, "Perempuan itu yang merebut suamiku!"
"Merebut kau bilang?. Ya, dia memang merebut suamimu, tapi Om Dheo tau semua kebusukan kamu, dia mengetahui perselingkuhan kamu dengan Anton. Dan satu lagi, Om Dheo sudah tau kabar pernikahan Aim, dan kau tau reaksi dia apa? dia sangat senang dan turut bahagia, dia tak memperdulikan kamu. Menurutmu, kalau kau mengacau di sini sekarang, siapa yang akan membelamu? kau mau memperlakukan dirimu sendiri?!" lelaki itu terus memberikan pengarahan.
"Lihatlah! banyak sekali wartawan di luar, berfikirlah lebih jernih sebelum membuat kekacauan!" setelah itu dia (lelaki) langsung pergi meninggalkan Shina, Shina berteriak kesal.
"Bagai mana apa kau masih gugup?" tanya Aim.
"Aku merasakan jantung yang mau copot, apa kita akan lama, aku tak ingin mati sesak di sini, ini benar benar bukan tempatku, aku tidak biasa berpakaian seperti ini, dan heels ini membuat perutku tidak nyaman." jawab Kinan dengan setengah berbisik.
"Tidak apa apa, kita hanya datang untuk mengucapkan selamat kepada Om Dheo setelah itu kita bisa pergi,"
"Mas," Kinan sempat memundur seketika saat melihat mertuanya berdiri menatapnya benci.
"Mama ku menakutkan?" Kata Aim sambil tertawa kecil.
"Sudah ku bilang ini bukan tempatku".
"Kamu benar, tetapi di sini tidak ada orang yang menguasai tempat ini, dia yang berdiri dialah yang pemiliki tempatnya" maksud Aim adalah tempat yang pantas di katakan milik adalah ruang yang di gunakan seseorang untuk berdiri, selebihnya maka bukan tempatnya, siapapun berhak untuk datang dan tinggal.
"Selamat ulang tahun Ayah" Aim menjabat tangan Dheo, Dheo menyambutnya dengan hangat, namun Liza yang berdiri di samping Dheo menatap penuh intimidasi.
"Om" Aim menunjuk Kinan dan memperkenalkannya, "Ini Kinan, istriku"
"Ooh jadi dia orangnya" Kata Dheo sambil tertawa, menyambut Kinan dengan ramah.
"Kenalkan, saya ayah mertua Aim, tapi nak Kinan boleh memanggil saya 'Ayah' "
Kinan mengangguk kecil, menyalami Dheo dengan ramah.
Setelah mengucapkan selamat kepada Dheo, Aim berniat menyapa Liza, namun Liza sengaja menghindari Aim dengan pergi dari sisi Dheo.
Setelah berbincang sesaat, Aim memutuskan untuk pulang lebih cepat, selain takut membuat Kinan tidak nyaman, Aim juga merasa malas untuk berkecimpung dengan orang orang yang di otaknya hanya ada uang dan jabatan saja.
..
"Jeng Rania," saat Rania sedang mengamati Kinan dari kejauhan, seseorang tiba tiba menghampirinya.
"Hei, aku kira tidak datang" sambut Rania (Melakukan cepaka-cepiki)
"Hei, bagai mana bisa aku tidak datang, ini adalah undangan orang ternama aku tidak bisa melewatkan ini" jelasnya berterus terang.
"Kau memang tidak pernah merubah sikapmu" sindir Rania.
Perempuan itu tertawa, "Kau rupanya lebih paham dari aku. Kau juga sepertinya tau apa yang ada di otakku saat ini (Nyinyir)" mata menoleh sinis ke arah Aim dan Kinan.