
Suasana di Aula pernikahan sederhana tampak sedang riuh.
Dirga mendapat penanggalan hukuman selama tiga hari untuk melaksanakan pernikahan.
Dirga duduk berhadapan dengan penghulu, disampingnya Hanna duduk dengan wajah berkabut, tak ada kebahagiaan.
Hanna tidak rela Dirga dinikahkan dengan Kinan, sedikitpun tidak bisa menerima kenyataan akan serumah dengan madunya sendiri, Kinan.
Meskipun Hanna sadar telah merebut Dirga dari Kinan tapi sedikitpun tak pernah terbersit akan melepaskan Dirga untuk siapapun.
Air mata telah menggulung disudut mata Hanna.
Ingin menolak pernikahan ini, tetapi Hanna tidak bisa egois. Dirga harus keluar dari penjara dan Mina menjanjikan itu.
Lagi lagi Dirga dibuat menunggu.
Mina dan Kinan tak juga muncul kepermukaan.
Di selang itu, terdengar teriakkan.
"Jangan mempermainkan ku!" Bentak Hadi.
Dibelakang, Hadi sedang berbicara dengan utusan Mina. Menyampaikan kalau Kinan telah hilang..
...
Tuuuuuuuttttt..
Hadi melakukan panggilan kepada Mina.
Mina yang masih sibuk mencari Kinan memutuskan menepi untuk menerima panggilan.
"Pernikahan hari ini nggak boleh batal, Ibu Mina terus mengulur Kinan, apa ibu sengaja mempermainkan kami?" Hadi berteriak.
"Ti tidak, pak. Sungguh saya tidak bermaksud melakukan itu" Mina gemetar takut, "Tapi semalam Kinan kabur, dan kami masih mencoba mencarinya" Mina sangat sopan.
"Tak usah lagi membawa Kinan, bawa saja pengantin lain. Aku muak terus dipermainkan begini!" bentak Hadi dengan emosi meluap luap.
Hadi menutup panggilan dengan sepihak.
Mina terdiam beberapa saat. Berfikir, tidak mungkin lagi mencari Kinan, dan mengulur waktu lebih lama.
Mina masih mempunyai satu anak perempuan, tak peduli menggantikan Kinan dengan Amira yang terpenting tidak mempermalukan meluarga Hadi yang kedua kalinya.
Lagi pula Mina sudah lelah mencari Kinan. Mau Kinan atau Amira, keduanya tetap sama, yang terpenting jadi besan keluarga kaya.
...
Beralih kedalam mobil yang dikemudikan Guna, Aim dan Amor duduk bersebelahan.
Saat keluar dari palang pintu security mobil Guna tidak menyadari telah berpapasan dengan seseorang yang mengenali Aim dan Shina.
Dia melihat seorang perempuan duduk bersama Aim yang dia tau Shina tidak mungkin mengenali perempuan yang satu mobil dengan suaminya tersebut.
Dia yakin akan hal itu.
Untuk menguatkan bukti, perempuan itu diam diam memotret Amor tanpa ada yang menyadarinya.
Topik pembicaraan yang mengasikkan.
Didalam ruang apartemen, Kinan mulai merasa bosan, hanya duduk dan berguling, tidur, bangun yang membosankan.
Diruang luas itu Kinan hanya ditemani suara telvisi yang tidak bisa Kinan ajak bercerita apalagi bercanda.
Kinan ingat, harusnya hari ini adalah hari pernikahannya dengan Dirga.
Pernikahan penuh paksaan, tapi kini Kinan biaa bernafas lega, pasalnya tidak ada siapapun yang bisa menemukan dirinnya disini, ditempat Aim.
Sambil menatap jam yang berputar tanpa irama Kinan mulai menghitung mundur. Pernikahannya tidak akan pernah terjadi.
Di Aula, kasak kusuk pembicaraan mulai terdengar tidak enak, Dirga masih menunggu Kinan dengan sabarnya, tapi penghulu sudah tidak bisa duduk sabar lagi.
Terlewat tiga jam, baginya sudah tidak ada ampun lagi. Penghulu berpamitan untuk meninggalkan acara pernikahan.
Hadi tampak geram atas ini.
Mencoba membujuk penghulu agar bersedia menunggu sebentar lagi.
Ini yang kedua kalinya bagi Hadi, merasa sedang dipermainkan oleh Mina. Kalau sampai pernikahan ini gagal lagi Hadi bersumpah akan mendenda Mina dengan dendaan yang tidak bisa membuat Mina bernafas sedetikpun.
Hadi tak banyak bersuara, duduk simpu menunggu kedatangan Mina.
Menghitung mundur, sambil menyiapkan nominal yang besar yang akan dia minta sebagai ganti rugi.
...
Bapak Penghulu menoleh beberapa kali kepada Hadi, barharap Hadi segera mempersilahkan ia untuk pergi.
Akhirnya setelah beberapa kali menoleh, Hadi mempersilahkan penghulu untuk pulang.
Dirga mendesah kecewa, sementara Hanna kembali menyunggingkan senyum cerah.
Hadi menunjuk satu orang "Siapkan pengacara untuk melaporkan Mina" ucap Hadi.
"Bubarkan acara" Hadi memerintah.
"Tunggu," Mina berteriak, tergopoh dari luar masuk kedalam ruangan..
Seketika semua orang menoleh ke sumber suara.
"Pernikahannya harus di laksanakan" imbuh Mina penuh keyakinan.
Hanna terbelalak saat melihat siapa yang datang, tadinya Hanna mengira pernikahan akan batal dan dirinya tetap akan menjadi satu satunya untuk Dirga.
"Mah,"
Amira tampak keberatan dengan terlaksananya pernikahan ini, dengan dirinya yang sebagai pengganti Kinan.
Mina menyungging Amira, "Sudah lakukan saja apa yang Mama perintah, ini sebagai balasan karena telah membuat Kakak mu kabur" tekan Mina berbisik pelan.
Amira ingin sekali menangis saat tau dirinya akan dipaksa menikahi Dirga, tapi apa boleh buat tidak ada lagi tempatnya bernaung, Mina satu satunya. Mau lari seperti Kinan tapi Amira bukan perempuan mandiri seperti Kakaknya.
Amira bahkan tidak tau menjalani kehidupan diluar, selain ke mall dan jalan jalan, atau makan makan.
"Tapi bagaimana dengan Juan? (Kekasih Amira). Amira juga tidak mencintai Dirga," eluhnya keberatan.
"Persetan dengan siapapun. Jangan jadikan alasan, siapapun yang dekat dengan kamu tidak akan baik melebihi Dirga, ingat itu!. Kapan lagi kamu punya suami kaya raya seperti dia Amira,"
Ucap Mina membujuk. Menggandeng Amira berjalan kedekat Dirga.
"Tapi Dirga sudah menikah" tmpas Amira.
"Perempuan itu telah merebut Dirga dari Kakak kamu, ini waktunya kamu merebut dia dari perempuan ini" Mina berkata tanpa menoleh kepada Amira.
"Tapi Mah,"
...
"Tanteu, kenapa tanteu membawa Amira?" tanya Dirga.
Mina tidak menjawab Dirga.
Malah memepersilahkan Dirga dan Amira untuk duduk bersebelahan.
Mengenakkan kain panjang di kepala kedua mempelai.
"Kinan kabur lagi. Sekarang aku membawakan Amira, perempuan baik baik yang jelas, tidak akan mengecewa dan meninggalkan kamu dengan alasan apapun, sekalipun menghamili perempuan lain" Ucap Mina setengah berbisik, sambil membenahi tudung dikepala Dirga.
Dirga hanya diam tak menjawab Mina, sekilas menoleh perempuan yang kini duduk tertunduk disampingnya.
"Tidak ada waktu lagi. lagi pula keduanya sama saja., Sebut nama dia dan semuanya selesai, cepat lakukan agar tidak ada yang dipermalukan," tekan Mina. Lalu duduk disamping Amira.
Aku terus menikahi perempuan pengganti Kinan, walaupun Amira adalah adik Kinan, tapi mereka berdua sangat berbeda, Kinan tetap Kinan dan Amira tetap Amira tidak akan ada yang sama.
Setelah menatap Amira dalam waktu yang singkat, Dirga beralih menatap Hanna, Air mata mulai menganak sungai dipipi Hanna.
Hanna menatap tegas menunjukkan kekecewaan diwajahnya kepada Dirga.
Tapi Dirga sungguh tidak bisa berbuat banyak, tidak mungkin mempermalukan dirinya dengan membatalkan pernikahan.
Tidak ingin menambah garam diwajah keluarganya.
Dirga menatap Hanna dengan penuh penyesalan.
....
"Ayah," panggil Aim.
Arman yang sedang fokus mengetik mendongakkan kepalanya menoleh kearah Aim.
Arman mempersilahkan Aim untuk duduk.
"Ada apa Im," Menyematkan semua jarinya.
Aim duduk berhadapan dengan Arman.
Mengasong'kan beberapa lembar kertas beserta poto Kinan, mendiang ibunya juga sang Ayah Harimaja.
"Aim rasa putri Om Hari itu, Kinan"
ucap Aim penuh keyakinan.
Arman tertawa samar, "Bagai mana bisa Kinan, Im? sebelum sakit jelas jelas Hari mengatakan kalau putrinya itu bernama Amira"
Arman seperti tidak yakin akan kesimpulan yang diberikan Aim.
"Aim melakukan sedikit tes biologis dan fisik pada ketiganya dan 80% dari tes itu mengatakan kalau Kinan putri Alm."