Oh My Boss.

Oh My Boss.
102



Melihat ketakutan besar yang di tunjukkan Aim membuat Kinan tidak ingin berlama lama menggoda suaminya, walau sebenarnya menyenangkan melihat Aim ketakutan seperti sekarang.


"Baiklah, tadi aku memang sempat marah tapi sekarang aku sudah memutuskan untuk memaafkan kamu. Tapi itu tidak murah bagi kamu Mas"


Akhirnya Aimm terlihat lega walau belum sepenuhnya, tetapi setidaknya masalah ini tidak berlarut larut, "Kamu ingin tebusan dariku? Apa, apa yang kamu inginkan? Kamu mau pakaian mahal, perhiasan, tas? Mobil sepatu mahal edisi terbatas? Aku bisa memenuhi semuanya. Katakan saja"


Kinan menggeleng sambil tersenyum kecil. Bahwa bukan itu yang diinginkannya.


"Lalu apa yang kamu inginkan?" Tanya Aim lagi.


"Aku ingin kamu menjaga diri kamu, menjaga mata kamu dan menjaga fikiran kamu dan hati kamu. Karena, mata kamu fikiran kamu dan hati kamu harus tentang aku semua, tidak boleh ada siapapun dan perempuan mana pun. Apa itu bisa kamu lakukan Mas?"


Terlebih dahulu Aim tersenyum penuh keyakinan lalu mengangguk pasti, "Tentu sayang. Tentu di sini," Menarik tangan Kinan dan menempatkan di dadanya, "Akan hanya ada kamu, tidak ada siapapun. Hati aku fikiran aku jiwa ragaku milik kamu sepenuhnya. Ada lagi syarat yang tidak boleh aku lakukan?"


Kinan menggeleng, "Aku hanya ingin kamu sepenuhnya"


"Dan ini adalah aku yang kamu inginkan" Memeluk Kinan dengan penuh rasa sayang, "Sepenuhnya milik kamu" ucapnya hangat.


"Mm.. Nyaman sekali. Aku ingin memelukmu lebih lama lagi," -Kinan. Menghirup lebih dalam aroma tubuh Aim.


"Peluklah, aku nyaman bisa seperti ini" -Aim.


"Sayangnya Guna memperingatkan kamu untuk cepat, jadi.. " melepaskan pelukannya dari tubuh Aim, "Kamu harus bergegas mandi dan berangkat kerja"


"Tunggu, dari mana kamu tau Guna datang ke Sini?"


"Ya. Aku tau karena, pasti cuma dia yang bisa mengganggu kamu 'kan?" -Kinan.


Tersenyum membenarkan sambil menyentil pelan pucuk hidung Kinan, "Kamu benar."


"Tapi aku masih ingin disini" menepuk pangkuan Kinan dan malah merebahkan kepalanya, bermanja di sana.


"Cepatlah Boss, jangan bermalas-malasan lagi, cukup istirahatnya"


"Baiklah,"Aim pun bangkit "bagi seorang Boss tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, aku harus bergegas karena aku harus menjamin anak dan istriku makan enak setiap hari, dan memiliki pasilitas yang baik untuk hidupnya, begitu juga dengan karyawan ku yang banyak itu, mereka tak boleh ada yang kelaparan.


^^^Oh ia Nak, jangan lupa doain ayah ya, semoga semua pekerjaan Ayah hari ini dan seterusnya bisa berjalan lancar" berbicara sambil mengusap lembut perut Kinan.^^^


"Aamiin" Kinan yang mengaminkan.


Setelah mengecup pucuk kepala Kinan, Aim beringsut turun dari tempat tidur dan bergegas membersihkan diri. Menekan keinginannya untuk mencumbui istri cantiknya seharian, begitu niat awalnya.


Kinan tak bisa menyembunyikan senyum bahagia dari bibirnya, Aim memang sosok yang sempurna dalam segala hal, Kinan sungguh mengagumi lelaki ini.


"Sayang," Sebelum meraih pintu Aim sempat berbalik.


"Mm?" Kinan mendongak.


Kinan tersenyum canggung, "Sepertinya tidak Mas, aku belum pernah melakukan ini, dan sepertinya bakalan..." Ucapan Kinan menggantung.


"Bakalan apa?" Sahut Aim secepat kilat.


"Bakalan aneh aja, kita mandi bersama, kamu laki laki dan aku perempuan" menunjuk bergantian, "Apa..?" Kinan membayangkan perbedaan perbedaan bentuk tubuh diantara mereka berdua, "Hehe"


"Apa yang kamu fikirkan Nan?" Aim kembali menggoda istrinya semakin terlihat malu Kinan semakin terlihat menggemaskan.


"Ah, tidak ada" bantah Kinan, padahl Kinan sedang membayangkan beberapa bagian tubuh Aim yang sudah ia tau sepenuhnya.


"Mm, kamu pasti.(Memikirkan hal hal jorok). Ayolah Sayang, lagi pula apa bedanya, kita berdua 'kan suami Istri tidak ada salahnya mandi bersama, lagi pula sebelum ini kamu sudah pernah melihat tubuhku tanpa sehelai benang pun 'kan" Aim belum puas menggoda Kinan, "Aku yakin kamu tidak akan canggung lagi,"


Kinan berulang kali meng ibas-ibaskan tangan di wajahnya, dia juga terlihat gugup tatkala Aim menggoda dengan menceritakan auratnya. Perasaan malu yang bersembunyi di balik wajah merah padam itu membuat Aim tak bisa berhenti menggodanya.


"Mas, pergilah sekarang juga atau muka ku bisa meledak" usir Kinan, sampai saat ini Kinan tidak berani menunjukkan wajahnya didepan Aim.


Beberapa hal yang Aim ceritakan sungguh membuat Kinan malu semalu-malunya.


Kinan tau, beberapa hal yang dilakukan saat bercinta itu wajar, tapi entahlah Kinan masih takut membuat kesalahan yang akan membuat Aim merasa ilfieel, di beberapa adegan yang ia dominasi pun membuatnya merasa canggung sekarang, seperti reflek mendesah, atau mengigit bibir Aim saat mereka berciuman.


"Sayang, kenapa kamu diam?" tanya Aim ketika melihat Kinan melamun.


Spontan Kinan mendongak, "Ah tidak ada. Aku tidak memikirkan apa apa" jelas Kinan sembarang, padahal bukan itu yang Aim maksud, pada akhirnya setelah samar samar paham, Aim tersenyum geli. Tidak menyangka istrinya akan se sensitif itu.


"Apa kamu sedang memikirkan ... Tadi malam?" Aim masih belum puas menggoda.


"Tidak Mas. Aku hanya berfikir bagai mana cara agar kamu cepat pergi mandi" Kinan berupaya mengalihkan percakapan.


"Ahhh... Mungkin, kalau kamu yang mandikan aku bisa cepat cepat" berteriak,. sambil bergegas masuk kedalam kamar mandi.


"Mas, kamu ini."


Setelah memastikan Aim berada di kamar mandi Kinan cepat membuka kaca cermin dan melihat pantulan wajahnya.


Kinan menangkup kedua pipinya sambil mendesis, "Aduuhh kenapa merah begini sih. Oh Tuhan aku malu sekali. Ahhh" Kinan menepuk jidat sambil merutuki kebodohannya, "Bagai mana kalau Mas Aim masih ingat kejadian tadi malam, bodohnya aku, kenapa tubuh ini nggak bisa dikendalikan sih? Kenapa harus...(Membayangkan kejadian tadi malam membuat Kinan frustasi) Kenapa harus...?" Tadi malam di atas ranjang Kinan memang sedikit liar, dia begitu mendominasi bahkan dia sendirilah yang mengatur posisi dan mengubah-ubah permainan, yang awalnya santai terkendali malah menjadi semakin menggila dan panas, membayngkan hal ini Kinan ingin sekali bersembunyi dari Aim.


Dalam adegan itu terlihat senyum senang tergambar di wajah Aim.


"Ahhh gila. Aku harus bagai mana? Mas Aim pasti berfikir kalau aku ini perempuan nakal" Kinan mengacak rambutnya frustasi.


"Ya tuhan memalukan sekali," gumam Kinan.


Menangkup dan membuka wajah yang kini terasa panas karena malu.


Semakin di bayangkan perasaan itu semakin terasa.