
Arman memperhatikan photo yang sedang di pegang Kinan, usang dan tampak sudah sangat lusuh, dia memang gambar mendiang Nayla Zia.
Bagai mana Arman bisa lupa tentang ini,
"Gadis (Kinan) ini memiliki photo Zia(Begitu Arman memanggilnya). Sementara Amira tidak terdengar mengungkit soal Zia, bagai mana aku bisa lupa tentang ini?" Arman merenung kebingungan.
Melihat Arman kebingungan Aim menyungging senang.
"Ayah sekarang tau 'kan siapa yang harusnya menandatangani berkas itu" Aim menunjuk meja dengan ekor matanya.
Mina tiba tiba dengan kasar merebut selembar poto yang di pengang Kinan.
Kinan menjerit, "Mah, apa yang Mama lakukan?"
"Photo ini tidak bisa membuktikan apa apa Kinan, mau kamu mengatakan seribu alasan pun, Amira tetap Anak kandung Harimaja, kau bukan siapa siapa.!" Tiba tiba Mina merobeknya dan membuangnya dengan kasar
Di situ Kinan semakin histeris, sambil menangis mengatakan, "Jangan lakukan itu kepada ibuku, aku tidak pernah melihat wajahnya, dan photo ini satu satunya yang tersisa. Aku mohon!" sedetik setelah Mina membuangnya Kinan langsung memungutnya dengan hati hampa.
"Padahal aku tidak berniat apapun" lirihnya sambil menangis pilu, "Ini satu satunya yang tersisa" menyeka Air mata yang tidak mau berhenti meski Kinan coba menahannya.
"Sayang" Aim berjongkok di hadapan Kinan, menyeka air matanya yang terlanjur mengalir deras. "Kamu bangun ya!" Membopong Kinan yang saat ini terlihat hancur, "Aku berjanji akan memperbaiki ini"
"Ibu Mina?" Sebut Aim dengan suara dingin, "Tampaknya ibu sangat ketakutan, apa ada yang ibu sembunyikan?."
Wajah Mina terlihat tegang saat Aim mmberkata demikian, "Ibu salah, karena telah menghancurkan photo ini, karena saya bisa memperbaikinya dan membuatnya utuh seperti semula. Jika ini adalah bukti kuat tentang siapa putri Harimaja, maka ibu sudah sangat kalah. Mungkin ibu secara tidak sadar telah menunjukkan sikap ibu yang sebenarnya, dan menunjukkan siapa Kinan sebenarnya" sindir Aim penuh tekanan.
Mina sempat gelagapan.
"Aim" sebut Arman, Arman seolah meminta agar Aim tidak ikut campur dalam masalah Kinan, namun Aim tidak memperdulikkannya.
"Im, jangan lancang kamu Nak, perempuan ini bukan siapa siapa. Jadi berhenti membela dia!" Sambung Rania.
"Sebenarnya apa alasan kau membawa Kinan kemari?. Apa jangan jangan kalian bersekongkol? Aku lihat kalian begitu kompak apa hasilnya akan di bagi dua?" Amira tertawa mencemooh, "Kau melakukan ini untuk apa? Apa kau tidak punya uang untuk biaya persalinan mu?" mengarahkan kalimatnya kepada Kinan.
Mendengar ucapan itu Arman dan Rania kompak menatap perut Kinan, mereka berdua menggeleng tak percaya. Mereka berfikir tidak mungkin Kinan sedang mengandung, pasalnya pernikahan mereka baru menginjak beberapa minggu.
Tidak mungkin juga akan mendapatkan anak secepat itu.
Arman dan Rania kembali saling menatap melemparkan pertanyaan.
"Amira, heh" Aim tertawa sinis, "Apa kau berhasil menandatangi pengalihan sahamnya?" Tanya Aim dengan nada mengejek.
Amira diam.
Pernyataan yang sangat masuk akan. Arman pun di sadarkan dengan ucapan yang di lontarkan Aim.
Saat gambar itu dirobek Amira memang tidak menunjukkan reaksi apa apa, seolah gambar itu tidak ada artinya buatnya.
Padahal damagenya dia adalah ibu kandung yang harusnya Amira lindungi dalam bentuk apapun.
Arman dibuat kalut dengan dua pilihan yang berdiri di depannya, Arman pun kebingungan untuk menentukan yang mana anak mendiang Sahabatnya itu.
"Oh ia Ayah, Aim juga mempunyai sesuatu yang ingin Aim tunjukkan kepada ayah"
"Sayang kamu tunggu sebentar ya" Pinta Aim dengan nada lembut.
Setelah sempat mengusap pipi Kinan, Aim bergegas mngambil sesuatu dari dalam kamarnya.
"Ayah bantu Aim melihat ini" meng asongkan map yang langsung di terima Arman.
"Ini adalah data data tentang Kinan, dan riwayat masa kecilnya. Dan ini" Aim memberikan selembar photo masa kecil Kinan, "Ini adalah gambar masa kecil Kinan, barangkali Ayah bisa mengingatnya"
Arman menilik file dan poto yang baru saja di berikan Aim, beberapa membuat Arman percaya tetapi beberapa hal juga masih meragukan Arman.
"Benarkah ini poto masa kecilmu?" Tanya Arman, dan Kinan langsung meng iakan.
Arman membalik gambar itu namun di sana tertulis tulisan tangan Kalimat Amira. Arman kembali meragukan Kinan, meski poto perempuan yang di bawa Kinan masih meyakinkan hati kecil Arman.
"Benarkah gadis kecil ini adalah kau?" Selidik Arman.
Kinan mengangguk pasti.
"Gaun yang aku pakai itu adalah baju yang ibu belikan untukku, kata ayah saat Ibu tau kalau dia mengandung anak perempuan ibu langsung membelikan gaun itu untukku," Jelas Kinan sambil masih terisak.
"Tidak! Perempuan ini sedang berbohong!" Potong Mina tak terima penjelasan Kinan, "Dia tidak tau yang sebenarnya" pekik Mina.
"Aku tidak berbohong Mah, aku masih ingat ayah pernah mengatakan ini kepadaku, aku tidak mungkin lupa."
"Tidak Kinan, semua itu hanya angan angan mu. Kau harus tau kebenarannya, kau harus tau kenapa baju, poto dan siapa nama aslimu.
Sebenarnya" Mina menunjukkan wajah sedih, "Itu semua aku yang memintanya kepada Harimaja. Kinan sebenarnya banyak hal yang tidak kau ketahui, tapi sekarang kau harus tau kebenarannya, karena Mama tidak mau kau salah paham kepada Amira lagi..
Sebenarnya 22 tahun silam...