
Dokter hendak menjawab tapi Aim lebih dulu menjawab, "Keadaannya tidak baik Gun, dia shock berat dan kemungkinan besar Kinan akan mengalami depresi ringan hingga menengah"
Aim mengedip pada Dokter Surya berisyarat untuk menyembunyikan kehamilan Kinan. Dokter Surya yang sedang menyeruput tea hanya menoleh tipis, diam diam menyetujui permintaan Aim.
Guna mengangguk pura pura paham, pasalnya Guna tidak tau alasan pingsannya Kinan dan depresinya karena pertanyaan yang di lontarkan sebelumnya belum dijawab Aim.
Selepas minum tea, Dokter Surya pamit pergi, sebelum pergi Surya sempat menuliskan resep obat untuk Kinan "Nanti kamu tebus di Apotik, minum dengan teratur," Aim menerima resep itu. Surya lalu berjalan kembali diantar langsung oleh Guna dan Aim.
Setelah Dokter Surya memasuki lift, Guna dan Aim bergegas kembali, masih banyak yang harus mereka berdua urus.
Aim duduk penuh fikir, ada rasa bangga dihatinya saat mengetahui kehamilan Kinan, namun sebuah pertanyaan juga menghampirinya.
'Apa anak yang Kinan kandung itu anakku?' pertanyaan itu terbersit. Mengenai kebenarannya Aim akan menyelidikinya sendiri.
Plakkk. Aim menerejab sadar, Guna sengaja menjatuhkan map beserta tumpukkan kertas dengan sedikit kuat.
Guna sudah memerhatikan Aim yang melamun sejak beberapa saat yang lalu, Guna juga mengajaknya berbicara tapi Aim diam saja.
Aim menoleh kesal lalu segera mengambil map yang dijatuhkan Guna.
"Gue sudah menyelidikinya" Guna menjantuhkan pantatnya dikursi, duduk berhadapan dengan Aim.
"Seberapa jauh?" Aim bertanya tanpa menoleh, membaca laporan dengan teliti.
"Hasilnya masih kecil sih, 10-20% lah"
"Segitu juga lumayan, daripada nggak sama sekali" Kata Aim setengah mengejek.
Guna mendelik bangga "Setidaknya gue ada usaha, dan sedikit berhasil menemukan kejanggalannya daripada loe?" Guna menaikkan sebelah alisnya, memandang enteng.
"Gitu aja bangga," cebik Aim "Apa yg bisa loe temukan?" Tanyanya serius.
Guna balas mencebik.
"Loe lihat deh kejanggalannya," Guna menarik map berisi biodata Amira lalu mencocokkannya dengan Biodata milik Kinan. "Bukankah Om Arman bilang Harimaja itu cuma punya satu anak kandung? Tapi kenapa pada Amira dan Kinan sama sama memiliki ayah Harimaja bukankah seharus salah satunya ya?" Guna menunjuk biodata yang tertera keduanya memang memiliki nama belakang Harimaja.
Aim menyernyit, "Kenapa tidak terpikir kesana" desis Aim.
Aim tersenyum tipis menyadari kebodohannya. Setelah mendapat penjelasan dari Guna Akhirnya dia paham letak kesalahan pada biodata tersebut.
"Salah satunya asli dan yang lainnya palsu?" Aim mengutarakan pendapatnya, Guna mengangguk mengiakan perkataan Aim.
"Tapi mana yang asli dan mana yang palsu?" ibuh Aim.
"Itu yang gue nggak tau Im" Guna menggaruk tengkuknya tak bisa memberi penjelasan.
Aim melempar map yang dengan frustasi, "Kenapa ayah ngasih tugas sulit begini si?" Aim mengacak rambut hitamnya.
"Oh ia, gue denger Kinan diusir dari rumah lamanya" Kata Guna.
"Diusir dari Rumah?" Aim Kenatap sekilas kearah Guna penuh tanya.
"Ia, dari yang aku selidiki ternyata Kinan diusir oleh perempuan bernama Mina yang sekarang menjadi pemilik rumah itu"
Mendengar penjelasan Guna Aim teringat akan sesuatu, saat Kinan membawa koper besar waktu itu, 'Kalau saja hari itu aku berhasil mengikutinya,' kata Aim dalam hatinya.
"Im, apa mungkin Kinan diusir karena bukan putri Harimaja?"
"Entahlah Gun" Aim merebahkan punggunya pada sandaran kursi, fikirannya melayang diliputi persolan Kinan.
Aim menatap Guna dengan pemikiran buntu.
"Apa perlu kita menanyai Kinan secara langsung?" fikir Guna memberi ide.
"Apa nanti dia tidak akan tersinggung,?" tolak Aim,
Aim yakin menanyai Kinan hanya akan membuat masalah semakin rumit, pasalnya yang akan ia tanyakan adalah masalah privasi, semua orang mungkin tidak akan nyaman dan tersinggung bila orang lain terlalu mengivestigasi dan ikut campur akan masalah keluarganya.
Lagi pula masalah saham ini tidak banyak orang yang tau jika harus mengintrogasi Kinan, khawatir malah membocorkan rahasia 25%saham ini.
Semakin banyak orang tau semakin sulit mendapat penyelesaiannya.
"Benar juga sih... Tapi apa kita bisa mendapatkan penyelesaian tanpa bertanya pada sumbernya?"
"Biodata Kinan dan Amira dipalsukan, aku yakin ada seseorang dibalik semua ini, dia mungkin punya tujuan tersendiri.
Kita harus waspada tidak boleh gegabah Gun, ingat kalimat ini 'jangan menggertak mangsa nanti dia akan lari" kata Aim, "Jika kita terlalu menampakkan diri bukankah situasi kita akan mudan terbaca? bukan apa apa takutnya apa yang kita lakukan malah memancing bidikan kita mengubah rencananya dan kita akan kesulitan"
"Bener juga sih" Guna menggaruk keningnya yang pening karena memikirkan masalah ini.
"Lalu sekarang rencana kita apa?" tanya Guna.
"Rencana ini biar aku yang susun"
Guna mengangguk setuju.
Setelah mendalami lebih jauh Aim akhirnya menemukan titik alur permasalahan ini, secara tidak langsung Aim bisa membaca jalan curang seseorang dengan cara sengaja memalsukan identitas. Aim yakin pemalsuan ini bertujuan untuk mengelabui pihak yang akan menyerahkan saham milik Harimaja agar dapat dialihkan kepadanya.
Memindah tangankan saham perusahaan.
Tapi Aim tidak bodoh setidaknya dia paham trik dia tidak mungkin bertindak gehabah, Aim akan terus berusaha membidik dan melumpuhkan mangsanya dengan cara yang halus dan sangat rapih.
Siapapun orang itu Aim yakin dia sudah lama mengetahui 25% saham yang dimiliki Harimaja.
Waktu sudah menunjukan pukul 02:00, Aim masih duduk didepan laptop mencoba mencari data pribadi harimaja dan mendiang Istrinya dijejaring sosial.
Lima belas menit kemudian rasa kantuk menyerang Aim, menoleh didepannya Guna sudah kerek sejak satu jam yang lalu.
"Dasar tukang molor!" Aim melepar Guna dengan pulpen, Guna tidak terbangun hanya bergerak sedikit menyusult iler didipipinya, Aim meringis jijik lalu pergi meninggalkannya untuk mengecek kondisi Kinan.
Didalam kamar Kinan terlentang sedang tenggelam dialam mimpinya. Lewat wajahnya yang cantik tergambar sejuta kelemahan yang selalu ia tutupi dengan tawa tegar, dari matanya yang terkatup Aim melihat betapa ketirnya kehidupan yang dialami Kinan.
Selama esok masih terbangun mata itu seakan tak henti bersyukur, bibir pasi itu yang selalu tersenyum lembut kepada semua orang. Aim tau semua itu hanya sebuah bingkai mahal untuk menghiasi roda kehidupan yang tak pernah adil.
Aim terus menatap mata Kinan.
Mata yang selalu menghipnotisnya, menariknya terjatuh pada bayangan yang enggan sirna, mata yang bisa menyihir tanpa bacaan mantra, mata yang ketika berhenti melihatnya rindu tidak berhenti menggelantungi fikiran.
Mata itu yang berhasil membuat Aim bertingkah bodoh, dan berhayal seperti orang gila.
...~~~...
...Siapa sangka, senyum yang setiap saat terbit dari bibirnya hanya sebuah bingkai mahal untuk menghiasi roda kehidupan yang tak pernah adil.....
Kutipan..
You are my life..