
Beberapa saat ketika Amor datang bersama Surya dan Guna keduanya saling melepaskan pelukan.
Aim sengaja menghubungi keduanya untuk ikut mencari Kinan. Tidak disangka malah Aim orang pertama yang menemukan Kinan.
Ketiganya kini bisa bernafas lega, tapi masalah belum selesai.
Kinan masih dihadapkan dengan problema rumit. Pernikhannya dengan Dirga tinggal menghitung jam dan itu yang sedang Kinan khawatirkan sekarang.
Mereka berlima kini duduk mengelilingi meja, Aim, Kinan, Guna, Surya dan Amor.
Empat dari kelima orang tersebut terus menatap Kinan, menuntut penjelasan kenapa Kinan menghilang dan memilih menggugurkan kandungannya, terutama Aim.
Tapi Kinan belum memberi alasan yang jelas, masih kesulitan untuk mengungkapkan segalanya.
Kinan hanya menangis.
"Nan, kamu bisa menjelaskannya dengan perlahan." Ucap Amor sambil mengusap pundak Kinan.
"Nan," Surya angkat bicara, "Yang dikatakan Amor benar"
"Nan, kamu menghilang tanpa kabar sekian hari, apa kamu tidak memikirkan orang orang yang mengkhawatirkan keadaan kamu? Mereka tidak bisa tidur, mereka tidak bisa makan dengan tenang, apa kamu berfikir selama kamu menghilang tidak akan ada orang yang mengkhawatirkan kamu?" Kini giliran Guna angkat bicara.
Saat berbicara Guna berkali kali menoleh kearah Aim yang saat ini hanya diam, Guna berharap Kinan mengerti kegelisahan yang selama ini dirasakan Aim.
Kinan menatap Amora, Aim, Surya, dan Guna secara bergantian.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir"
"Kemana kamu Nan?" Tanya Aim lirih, "Aku cari kamu kemana-mana. Aku mengkhawatirkan kamu sampai aku lupa pada diriku sendiri"
Kinan sempat diam mengatur nafasnya, "Aku disekap Mama Mina" ucap Kinan, Air mata Kinan meleleh lagi, tak kuasa menerima perlakukan Mina.
"Disekap?" Bentak Amor.
"Disekap?" Guna terkejut.
Aim spontan menoleh dengan tidak percaya.
Surya pun ikut terkejut.
"Ya, Amira memberi tau kabar kehamilan aku sama Mama. Sementara kita semua tau Mama sangat terobsesi untuk menikahkan aku dengan Dirga. Dan pernikahan itu akan dilakukan besok" jelas Kinan sambil terisak sedih entah harus bagai mana menghadapi ini.
"Apa itu alasan kamu mengugurkan kandungan kamu?" Tanya Aim lembut. Berbeda dengan yang lain sikap Aim sangat lembut saat menanyai Kinan. Sikapnya setelah menemukan Kinan terlihat lebih tenang sekarang.
Kinan mengangguk.
"Aku tidak mau dinikahkan dengan Dirga. Tapi aku tidak bisa menolak permintaan Mama, aku fikir dengan menggugurkan kandungan ini Mama tidak punya lagi alasan untuk menikahkan ku dengan Dirga" Diakhir Kinan menunduk lemah. Aim yang kebetulan duduk disamping Kinan mencoba untuk menguatkan dengan menggenggam jemari yang sedari tadi Kinan sembunyikan dibawah meja.
Tapi Kinan malah berteriak kesakitan membuat Aim dan semuanya terkejut.
Kinan spontan menarik dan menjauhkan tangannya dari Aim.
"Ada apa Nan?" Tanya Aim terkejut begitu juga dengan yang lainnya, Kinan menggeleng. Tapi pergelangan tangan yang terluka teranjur ia tunjukkan.
Aim memegang tangan Kinan yang penuh luka "Apa ini Nan?" Bentak Aim terkejut dan telah timbul perasaan tak terima.
Kinan menunduk.
Amor pun baru menyadari ternyata sebelah tangan yang lain pun penuh luka, "Kenapa ini bisa terjadi Nan"
Guna dan Surya saling menatap lalu beralih menatap Kinan, sama sama terkejut.
"Apa mereka memperlakukan kamu dengan buruk?" Aim masih tak terima. Kinan malah meronta ingin melepaskan cengkraman Aim dilengannya.
"Aku mencoba melepaskan tali yang mengikat tanganku, tidak disangka aku terluka dibeberapa bagian" katanya.
"Surya" teriak Aim.
Aim menyuruh Surya untuk segera mengobati Kinan.
Surya terkesiap "Tapi maaf Im, gue nggak bawa peralatan medis" kata Surya sambil meringis.
Bukan setelan perawat yang dia pakai, tapi setelan tidur dilengakapi dengan penutup mata yang masih menempel dijidatnya karena terburu buru Surya juga tidak sempat membawa peralatan medis, lagi pula Surya tidak memindai hal ini akan terjadi. Aim pun baru sadar ternyata semua orang berpakaian sama kecuali dirinya dan Kinan.
"Apa kalian baru bangun tidur?," Tanyanya datar.
Ketiganya mengangguk.
"Ke rumah sakit sekarang" kata Aim. Tanpa fikir panjang Aim langsung membawa Kinan masuk kedalam mobilnya menuju rumah sakit.
"Aku tidak habis fikir kenapa ada ibu sekejam ini pada anaknya"
kata Aim seraya menarik tuas lalu melesat membelah jalan.
Selain mengobati luka lecet ditangan Kinan perawat juga mengecek kondisi Kinan beserta cabang bayi didalam kandungannya.
Aim bernafas lega saat Dokter mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Setelah semuanya dikatakan baik Aim beserta yang lain memutuskan untuk pulang, terlebih dahulu mengantar Kinan.
Ditengah perjalanan Kinan meminta berhenti.
"Ada apa Nan?" Aim menepikan mobil yang dikendarainya, ia lalu berhenti begitu juga dengan mobil dibelakang yang ditumpangi, Surya Guna dan Amor.
Kinan terdiam sesaat.
"Nan" panggil Aim lembut.
Suara itu meminta Kinan untuk terbuka terhadapnya.
"Kita mau kemana?"
Kinan tampak bingung, dihadapan mereka ada dua tikungan salah satunya menuju kos kosan milik Kinan.
"Kenapa kamu nanyanya gitu Nan? Aku antar kamu pulang'kan?"
"Aku tidak mau pulang. Lebih baik aku turun disini saja" suara Kinan masih sayu, begitu berat yang dialami Kinan.
"Disini?"
Aim menoleh sekeliling, ditempat ini Aim tidak melihat ada perumahan, sepanjang hanya ada toko toko dan ruko kecil, "Kamu yakin?"
Dibalas dengan anggukan.
"Ibu pasti akan menemukanku, dan aku akan dipaksa menikahi Dirga lagi," keluh Kinan.
"Nan, sebelum kamu turun boleh aku bertanya sebentar?" -Aim. Kinan kembali mengangguk, sisa tenaganya sudah tidak cukup untuk berbicara lebih banyak lagi.
Dibelakang Amor terdengar merengek kesal, pasalnya mobil Aim tidak juga kembali melaju hanya lampu kecil berwana orange berkedip kedip pertanda mobil berhenti untuk istirahat, padahal Amor sudah tidak tahan pengen buang Air.
"Apa yang dilakukan penghuni mobil didepan sih? Kenapa malah duduk diam, tau nggak aku kebelet" teriak Amor berapi api. Surya dan Guna yang duduk semobil hanya tersenyum puas.
Dalam hati saling berdoa, "Lebih lama lagi lebih lama lagi". kemudian tertawa dalam hati.
"Kamu kenapa bersikeras menolak menikahi Dirga. Amor bilang, dia kekasihmu dalam beberapa tahun ini, seharusnya tidak sulit menerimanya lagi'kan?" -Aim. Aim hanya ingin melihat dimana sekarang posisi Dirga dalam hati Kinan, dan alasan Kinan bersikeras menolak pernikahan.
"Ya, tapi menikah adalah pertimbangan besar yang harus aku ukur dengan hati dan fikiran. Dirga pernah aku cintai dengan tulus" Mendengar ini Aim tiba tiba sangat kesal, "Tapi Dirga mengkhianati ku, di detik itu tergambar bagai mana masa depan pernikahan ku dengan dia, saat seorang lelaki melakukan perselingkuhan aku tidak yakin kedepannya dia tidak akan mengulangi hal yang sama, dan aku tidak mau disakiti kedua kalinya"
"Jadi, itu yang membuat kamu menolak menikah dengan Dirga?"
Kinan kembali mengangguk.
"Lalu bagai mana dengan kehamilan kamu? Apa kamu tidak mau Dirga mempertanggung jawabkannya?" -Aim.
Kinan menggeleng,
"Aku rasa bukan dia pelakunya, dia tidak pernah menyentuhku"
"Lantas?" -Aim.
Kinan tersenyum ketir, "Kehamilan ini adalah hasil dari kecerobohan ku. Dan sekarang" Kinan membelai perutnya yang masih rata.