
"Kinan masalah yang aku punya tidak seberat yang kamu hadapi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, yang perlu kamu khawatirkan adalah dirimu sendiri" ucap Amor sambil menggenggam tangan Kinan.
Kinan tersenyum tegar, "Aku tidak apa apa ko' kamu tidak usah khawatir" katanya enteng,
Amor menghela nafasnya lega walau sebenarnya dalam hati tidak semudah itu, Amora takut suatu saat Kinan tidak sanggup lagi menghadapi orang lain, Amor yakin masalah yang dihadapi Kinan sangat sulit dan pasti menyulitkan dan menekan hatinya.
Seperti pagi ini semua orang heboh mencibir Kinan karena pernikahannya yang gagal, semua orang sedang berbicara miring tak berperasaan.
Mengetahui kegagalan Kinan orang orang malah menertawakan dan mengoloknya dengan tidak pantas, tak ada satupun dari mereka yang berniat memberi dukungan.
Namun hebatnya Kinan dia tidak menanggapi itu dia tetap santai dengan kepala dingin sekalipun orang orang sengaja menguatkan suaranya agar didengar Kinan, Kinan tetap menyapa dengan senyum tegar seolah kemarin tidak terjadi apa apa dan sekarangpun tidak mau memperdulikan apa apa.
Padahal jika hal itu menimpa orang lain mungkin dia akan tersinggung dan marah besar.
Akhirnya Kinan dan Amor saling menatap dan saling tersenyum senyum Kinan menyembunyikan kesedihan dan senyum Amor yang penuh dengan kekaguman.
"Kinan" tidak sengaja Amor melihat seseorang sedang memerhatikan mereka berdua, dari tatapannya yang teduh Amor memastikan tatapan lembut itu milik Kinan, tertuju kepada Kinan.
"Ya" sahutnya.
"Seseorang memperhatikanmu Kinan" ucap Amor tanpa mengalihkan matanya pada sepasang mata yang sedang memerhatikan Kinan, tapi saat Kinan menoleh kearah yang ditunjuk oleh mata Amor orang itu sudah pergi.
"Siapa?" Tanya Kinan setengah tak percaya.
"Dia..." Amor mencoba mengingat ingat siapa orang itu, Amor seperti pernah melihatnya sekilas, "Aku pernah melihatnya tapi dimana?..." Amor mencoba mengingat ingat tapi tetap lupa.
"Sudahlah kamu salah kali, barangkali saja dia sedang memperhatikan hal lain disekeliling kita, bukan sedang memperhatikanku" ucap Kinan masih tak percaya ada yang memperhatikannya, namun Amor yakin lelaki itu sedang memperhatikan Kinan dengan lembut Amor juga melihat lelaki itu tersenyum hangat saat menatap Kinan dari kejauhan.
"Oh ia, sore ini mau mampir di tempat aku yang baru?" Tanya Kinan mengalihkan permbicaraan.
"Mau dong" jawab Amora penuh semangat.
"Yeee" Kinan bersorak riang merentangkan tangannya karena senang "Selesai ini ya!" Ucap Kinan Amor mengangguk dan tersenyum setuju.
...
"Disini rupanya kamu Im" Guna berdiri dibelakang Aim yang sedang duduk dikursi tepi kolam ikan belakang kantor, semilir angin yang sejuk dipayungi rindangnya pepohonan sangat cocok untuk menyendiri.
Guna mendapat perintah dari Arman untuk mencari Aim, setelah mendengar luahan keinginan Aim serta bukti yang ditunjukan kepadanya Arman sedikit memikirkan kekacauan yang melanda pernikahan putranya dia juga merasa khawatir, jika pun Aim tidak pernah bicara Arman dengan jelas melihat ketidak bahagiaan Aim dalam pernikahannya.
Di setahun ini mereka tidak pernah terlihat bersama saat berkunjung dihari kebesaran seperti ulang tahun Arman/Istri/perayaan Aniv pernikahan dirinya/lebran dan lain sebagainya Aim dan Shina tidak pernah datang bersama saat Arman mencoba bertanya kemana Shina Aim hanya akan menjawab 'sibuk' atau ada keperluan lain tak jarang Aim diam tanpa jawaban.
Guna duduk disebelah Aim membelakangi kolam sementara Aim menghadap kesana.
"Disuruh Ayah?" Aim tau betul alasan Guna mencarinya. Arman sedang mencoba membujuknya.
"Loe balik dulu aja Gun, gue lagi pengen sendiri" Usir Aim lirih..
Guna mendesah putus asa, "Andai gue jadi Pak Arman, sudah gue kabulkan permintaan loe sejak dulu Im" Guna tau alasan Aim pergi meninggalkan kantor, Arman yang memberi tau kejadian itu.
Aim menoleh lalu tersenyum miris, "Sayangnya bukan" Aim menunduk putus asa.
"Ia.. gue bingung Im, sebenarnya apa yang memberatkan orang tua loe untuk melepaskan Shina, gue fikir nggak mungkinlah dia nggak tau perilaku Shina dibelakang kita semua,"
Aim mengangguk membenarkan, "Entahlah Gun, gue sendiri nggak ngerti.
Sekarang membina rumah tangga dengan Shina gue sudah hilang akal untuk bertahan gue nggak tau harus gimana lagi, gue nggak bisa terus ngejalani ini dan parahnya gue juga nggak bisa mengakhiri ini" Aim menunduk frustasi.
Guna mengingat sekelebat ucapan, waktu itu Shina mendatangi Guna di unitnya dengan mengenakan pakaian sexy, Guna tau Shina mencoba menggodanya, Guna sebisa mungkin menghindar walau Shina terus mengikuti kemana Guna pergi.
Shina terus membuat alasan agar bisa dekat dengan Guna
Waktu itu Guna sempat mengusir Shina dengan lembut menyuruh dia segera pulang, namun bukannya menurut Shina malah menyeret dan menekan Guna menggoda Guna dengan mengatakan, "Kenapa? Kamu khawatir akan tergoda?" Bisik Shina tepat ditelinga Guna.
Shina mengekang Guna diatas sofa memamerkan pahanya didepan Guna dengan sengaja dan dalam keadaan tidak terpengaruh alkohol.
"Shina sadar! Apa yang kamu lakukan? Ini tidak benar!" Guna mencoba menyadarkan Shina dan menjauhkannya, namun perempuan itu malah semakin menggila mengekang dan menindih Guna sampai sampai Guna tidak mampu menandingi tenaganya.
Shina berbisik menggoda "Tenanglah Guna..." Shina mengusap halus pipi Guna dengan penuh gairah, "Aku sedang dalam kondisi sadar kamu tidak perlu khawatir".
Mendengar itu Guna semakin panik, Guna takut ada sesuatu yang sedang direncanakan Shina dalam menggodanya, Guna sebenarnya sudah tau Shina selalu berusaha mencari celah untuk bercerai dari Aim dan mendekatinya mungkin cara terbaik untuk membuat Aim membencinya.
"Lalu apa yang kamu inginkan Shina, aku yakin kamu tau hal ini tidak boleh kamu lakukan kepada lelaki lain" ucap Guna waspada. Sementara Shina, dia asik merangsak melepas kancing kemeja Guna sambil melepaskan kecupan kecupan kecil keleher Guna.
Mendengar perkataan itu Shina menghentikan aksinya sepertinya dia muali sadar atau malah tersinggung. Shina duduk sedih disamping Guna.
"Salahkah aku yang menginginkan kehangatan?" Ucapnya menunduk lirih.
"Kehangatan macam apa yang kamu inginkan Shina?" Tanya Guna pura pura tidak mengerti "Bukankah Aim selalu memperlakukanmu dengan baik?" Guna menyelok, mencari tau apa yang diinginkan perempuan gila ini.
"Aku hanya ingin melakukan yang perempuan lain lakukan dengan pasangannya Gun, Aku ini perempuan normal" jerit Shina diakhiri dengan tangis kecewa.
Guna menyernyit tak mengerti, "Apa maksudmu Shina,"
"Sahabatmu... " Shina berjalan kecil menjauh dari Guna, "Dia tidak bisa menafkahi ku secara batin Gun" terang Shina.
Guna mengernyit terkejut tapi masih belum percaya, "Apa?" Guna berdiri dalam hatinya bertanya 'Benarkah Aim seperti itu?' lima belas tahun bersahabat dengan Aim Guna tidak pernah mendengar Aim bercerita tentang penyakitnya.
"Aku rasa aku dijebak Gun, aku sengaja dinikahkan dengan lelaki impoten, aku sekarang tau tujuan mereka menjodohkan aku, aku harus bagai mana?" Ucap Shina pilu.