Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag 16.



Guna kembali dari lamunannya, dia meringis jijik saat membayangkan Shina sedang merangsaki dirinya.


"Aim," Guna menatap Aim dengan tidak enak, namun dia sangat penasaran benarkah yang dikatakan Shina itu?.


Aim menoleh dan mendapati Guna sedang menatapnya penasaran.


"Boleh gue bertanya sesuatu? Tapi sebelumnya gue minta maaf kalau pertanyaan gue nyinggung perasaan loe".


Aim mengangguk sekilas, dahinya berkerut menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan Guna tampaknya serius.


"Apa bener loe mempunyai penyakit?" Guna sampe meringis ragu dan hati hati melontarkan pertanyaannya.


"Penyakit apa?" Jawab Aim tak mengerti.


"Penyakit itu" Guna kembali meringis, rasanya tak pantas Guna melontarkan pertanyaan intim seperti ini.


"Itu apa?" Aim masih tak paham akan pertanyaan Guna.


"Itu Im,"


"Ia itu apa?"


Guna mengacak rambutnya was was.


"Penyakit, penyakit...."


Aim menjitak pelan kepala Guna, "Ngomong yang bener!" Aim mengeratkan giginya karena kesal dengan pertanyaan Guna yang tidak jelas.


Lalu Guna berbisik dengan hati hati berkata "Penyakit burung"


Aim menjauh kan telinganya karena geli, menatap Guna Intens "Flu burung maksud loe?"


Guna menggeleng, bagai mna menjelaskannya.


"Bukan burung itu," Guna meringis.


Aim mengernyit


"Bukan yang itu, tapi burung itu" guna mengarahkan matanya tepat diburung Aim, Aim turut mengikuti arah mata Guna.


Blukkk.. Guna kembali mendapat pukulan dari Aim, "Maksud loe?" Aim melotot membuat Guna meringis panik, spontan tangannya melindungi diri dari kepalan mentah yang dilayangkan Aiman


Aim sejenak terdiam, "Siapa yang ngasih tau lo?"


"Seseorang," Guna berniat menyembunyikannya namun Aim langsung tau.


"Shina?" Karena penyakit itu hanya Shina yang tau.


"Gue minta maaf Im, gue nggak bermaksud nyinggung loe, tapi jujur gue penasaran" Kata Guna tidak enak.


Aim memandang lurus kedepan dirinya merasa bingung dengan hal itu, jika benar dia sakit harusnya kepada Kinan dia tidak akan bisa melakukannya, merasakan sesuatu yang robek saat barangnya menerobos masuk dan Kinan memekik merasakan sakit dan nikmat datang bersamaan, tapi jika tidak sakit kenapa setiap kali mendatangi Shina burungnya selalu menunduk malas.


Untuk sekarang ini Aim tidak dapat menjelaskan apapun.


"Ya, mungkin gue benar sakit" jawab Aim, Guna tampak terdiam prihatin, menyayanhkan atas nasib yang dialami sahabatnya, ternyata apa yang dikatakan Shina memang benar.


Guna menepuk pundak Aim, menguatkan "Loe yang sabar Im" katanya.


Aim tersenyum tipis dalam hati berkata ada yang salah dengan dirinya Aim mengakui selama ini dia tidak memiliki riwayat penyakit itu namun setelah menikah dengan Shina dia malah tidak bisa melakukan apapun.


"Loe disuruh ayah datang kesini buat apa?" Aim menoleh.


"Nggak tau, dia cuma minta gue susulin loe aja"


Aim tertawa sayu "Gue kira dia mau ngajak bicara buat nyari jalan keluar masalah gue, nyatanya dia tetap tidak peduli.


"Tapi bos bagai mana?"


"Gue tetep disini sebentar lagi"


"Bos, Bos nggak akan ngelakuin hal hal diluar dugaan kan?" Guna bertanya karena khawatir.


Aim spontan menoleh dan melayangkan tatapan kesalnya pada ucapan Guna. Secara tidak langsung mata itu meminta agar Guna tidak banyak bicara lagi, langsung pergi saja tanpa protes.


Guna meringis, "Ba, baik Gue pergi"


Dikos kosan, Kinan dan Amora sudah sampai.


Kinan lebih dahulu turun sementara Amora masih duduk diatas motor yang dikendarainya, hati Amor merasa teriris saat melihat tempat baru Kinan yang lusuh sangat berbanding terbalik dengan kediaman Kinan yang lama.


"Yuk Mor!" Kinan menuntun Amora turun dan mengikutinya, seperti biasa Kinan tetap tersenyum ceria seolah tidak ada sedikitpun masalah pada dirinya.


"Nan kamu yakin?'' Amor menatap seluruh ruangan yang ukurannya setara dengan kamar miliknya. Tiba tiba Amor kembali ingin menangis melihat keadaan Kinan.


"Ya" Kinan menghela nafasnya, tegar "Apa boleh buat, aku memutuskan untuk tidak diperbudak lagi" Kinan tersenyum menyembunyikan lukanya.


Amora yang sudah tau semua tentang Kinan segera mengerti akan kalimat 'diperbudak' yang Kinan ucapkan diperbudak oleh Mina dan Amira.


Amora mengerti menerima kenyataan 'diperbudak' itu sangat berat tapi menerima dengan lapang dada kehidupannya yang baru juga cukup sulit, perlu waktu yang lama untuk Kinan terbiasa, terlebih menghilangkan rasa trauma dan sakit atas semua yang dilakukan orang orang terdekat terhadap dirinya terutama Dirga.


"Apa kamar ini tidak terlalu kecil?"


Kinan kembali tersenyum, senyum tegar yang tak pernah hilang dari bibirnya.


"Kinan, harusnya sebelum kamu pindah kamu bilang dulu ke aku, kamu kan bisa tinggal dirumah ku"


Kinan menggeleng, "Tidak usah Mor, aku nanti ngerepotin kamu," Kinan menghamparkan karpet kecil untuk Amora duduk "Duduk Mor!" Pinta Kinan, Amora segera duduk, matanya tak bisa berhenti beredar ke sekeliling.


"Enggak Nan, kamu nggak ngerepotin lagian dirumah aku banyak kamar kosong orang tua aku pasti tidak akan keberatan kamu tinggal bareng," Amora mencoba membujuk Kinan agar bersedia pindah dan tinggal dengannya.


Kinan tersenyum penuh terima kasih senyum yang berkata 'aku baik baik saja' "Tidak apa apa disini nyaman ko' tempatnya juga tidak terlalu jauh dari jalan, didepan ada halte, jalan kaki sebentar nggak perlu waktu lama untuk sampe."


Amora menggeleng bingung harus bagai mana membujuk Kinan, gadis ini memang keras kepala dibujuk dengan cara apapun pasti tidak akan berhasil.


"Baiklah ini pilihan kamu" Amor menarik tangan Kinan lalu menggenggamnya, "Tapi kamu harus janji! Kalo ada apa apa harus aku orang pertama yang kamu hubungi"


Kinan mengangguk setuju


Aim berdiri mematung didepan rumah Shina beberapa saat kemudian Aim berjalan gontai menuju kamar Shina yang selayaknya menjadi miliknya juga, Aim menatap nanar daun pintunya beberapa detik kemudian pintu terbuka Shina yang sudah berpakaian santai sehabis pulang kantor keluar darinya, Shina tampak terkejut melihat Aim sudah berdiri tegak didepannya.


"Im" Sapa Shina gugup.


"Malam ini aku akan tidur disini" ucap Aim saat melewati Shina yang masih berdiri ditempatnya. Tanpa mengiakan Shina malah terlihat kaku, sepermenit kemudian ikut masuk untuk mengambil handphonen lalu bergegas keluar tanpa memperdulikan Aim, Aim hanya menoleh dengan ekor matanya.


"Sayang..." Sebuah panggilan tersambung, Shina sedang menelpon Anton untuk memberi tahunya kalau malam ini Aim datang.


"Ada apa sayang kamu kangen ya?" Jawab Anton manja, "Aku belum jauh, kalau kamu kangen berat aku bisa kok putar balik" kebetulan Anton baru kembali setelah mengantar Shina pulang.


Shina tertawa geli, "Jangan kepedean kamu," balasnya.


"Nggak apa apa dong pede, aku tau kok itu yang sedang kamu rasa sekarang". Goda Anton tanpa teralih dari fokusnya mengemudi.


"Ia, ia.. emang kamu paling jago nebak perasaan orang, kayak dukun aja tau nggak" timpal Shina, terkikik geli.


"Jadi gimana, aku putar balik nggak?" Anton masih belum selesai menggoda kekasihnya.


Shina sejenak terdiam "Anton" Suara Shina berubah serius.