
"Kamu telat makan lagi?" Tanya Amora, Kinan langsung ingat kalau sejak kemarin malam dia belum makan. Kinan lalu mengangguk.
"Kalau gitu kita makan sekarang ya" ajak Amora, namun Kinan menggeleng, saat ini dia merasa malas untuk memakan sesuatu apalagi berbentuk karbohidrat.
"Tapi Nan, kamu sudah begini masih nggak mau makan, nanti kondisimu memburuk" sambil memapah Kinan kembali keruang tamu Amora mencoba membujuk.
"Enggak Mor, aku lagi nggak nafsu"
"Tapi Nan" potong Amora.
Kinan membuka tasnya mencari obat maag yang biasa dia konsumsi, tapi sayangnya sudah habis.
"Aku makannya dirumah aja Mor, obatku abis, aku nggak bisa makan sebelum minum obat maag"
"Kalau gitu biar aku pergi belikan, dan kamu harus janji untuk makan" antusias Amora, lagi lagi Kinan menolak.
"Aku pulang aja Mor, abis minum obat dan makan biasanya aku langsung tidur".
"Kalau gitu aku antar ya Nan" pinta Amora, kali ini Kinan mengangguk patuh.
Selepas membeli obat dan makanan, Amora lantas mengantar Kinan sampai di koskosan.
Sesampainya di area kosan Amora yang duduk dikemudi melihat seseorang berdiri didepan pintu, jengah sekaligus marah mengeruak diotak Amora ketika melihatnya.
"Perempuan itu, ngapain dia disini?" Decit Amora.
"Siapa?" Tanya Kinan. Dia belum melihat perempuan yang dimaksud Amora. Kinan lantas mendorong kaca helem untuk memperjelas penglihatannya.
Dia adalah Hanna, tampaknya dia sudah lama menunggu kedatangan Kinan, terlihat saat Kinan sampai Hanna langsung menghampiri mereka. Wajahnya muram seperti mengandung senyawa emosi yang siap meledak.
Benar saja, entah apa penyebabnya Hanna tiba tiba langsung memaki Kinan.
"Dasar perempuan tidak tau diri!" Pekiknya. Kinan yang masih duduk diatas motor didorongnya hingga Kinan dan Amora beserta motor termiring kesamping beruntung Amora menahannya dengan tangkas.
"Dasar bison edan" desis Amora dengan kaki tertahan menopang motor yang hampir ambruk.
Kinan turun dengan enggan, "Apa hak mu mengatai ku dengan kalimat kotor itu?!" Sahut Kinan, malas melihat wajah munafik Hanna Kinan berkata tanpa menolehnya.
"Berhenti berpura pura baik didepan ku Kinan!" Hanna merangsak hendak mencakar Kinan namun Amora segera menghalangi, entah apalagi yang membuat ibu hamil itu begitu emosi kepada Kinan.
"Loe!" Amora menunjuk ke arah kening Hanna, "Jangan harap bisa nyakiti Kinan lagi," Amora menatap Hanna dengan tajam penuh ancaman, sambil menatapnya Amora menyeret-seret tubuh Hanna dengan bencinya, "Loe sahabat yang kurang tau diri ya. Apa perlu gue tambahin?.
Apa belum cukup nyakiti Kinan dengan jadi penghianat? Dan Sekarang loe datang sebagai penyerang?, Loe menjijikan! Ya Han." Tekan Amora, wajahnya muram penuh kemarahan.
"Siapa loe?" Hanna mendorong Amora hingga terhuyung beberapa langkah "Loe bukan siapa siapa'kan? berhenti ikut campur kalau nggakak tau apa apa!" Teriak Hanna.
Amora kembali menghadang Hanna, "Gue tau semuanya, gue tau semua perilaku busuk yang loe lakukan kepada Kinan," Teriak Amora.
"Ya, gue memang busuk, tapi dia lebih busuk!" Teriak Hanna seraya menunjuk dengan angkuh kepada Kinan.
Amora sempat menoleh mengikuti telunjuk Hanna.
Kinan melangkah maju kemuka menarik Amora dari hadapan Hanna, "Bicaralah dengan jelas! Jangan terus berteriak. Apa yang kamu inginkan?" Tanya Kinan dengan wajah dingin.
"Dimana Dirga? Dimana kau sembunyikan suamiku?!" Hanna kembali berteriak menuduh seolah Kinan ambil bagian dari hilangnya Dirga.
Dirga, nama itu disebut mengingatkan Kinan akan kejadian menakutkan yang dia lakukan tadi malam. 'Menjijikan' itulah kalimat yang saat ini pantas Kinan ucapkan ketika nama Dirga disebut dihadapannya.
"Apa yang mendorongmu datang kepadaku?... Sebagai seorang istri apa pantas menanyakan keberadaan suaminya kepada perempuan lain?" sindir Kinan.
"Kenapa? Tak bisa menjaga suami yang kau rebut dari sahabatmu? Memalukan!" Sambung Amora sambil mendelik kesal.
"Dasar sialan!" Hanna kembali meremang hendak merangsak Amora namun Kinan menahannya, "Gue tau loe benci sama gue tapi loe nggak berhak ngancurin rumah tangga gue!. Gue tau kok seberapa busuknya loe Kinan, loe pura pura nyerahin Dirga dan sekarang loe datang kembali untuk merebut Dirga kepelukan loe'kan? Gue tau ini akal busuk untuk loe balas dendam."
"Merebut Dirga?" Kinan tertawa sumbang "Ciuihhh" Kinan membuang ludah denga jijik. "Gue bukan pemungut Sampah! Seperti loe, yang sudah gue buang jauh pantang gue pungut kembali." Tambah Kinan dengan menekan kata sampah sengaja untuk mencemooh Hanna.
"Loe.." Hanna bermaksud melayangkan pukulannya tetapi terhenti oleh teriakan Amora, "Apa? Mau mukul? Pukul saja kalau mau gue hajar sampai babak belur!?. Perempuan sinting loe ya?" Teriak Amora dengan berani. Hanna membuyarkan kepalannya.
"Dia yang sinting!" Teriak Hanna tak terima dikatai Amora.
"Loe! udah bunting sinting pula," Pekik Amora.
Hanna lalu merogoh sakunya membuka pesan singkat dari seseorang yang sempat mengirim gambar Dirga saat terelihat berdiri di lorong kos kosan Kinan.
Hanna menunjukan poto itu kepada Kinan dan Amora, "Apa loe masih mau mengelak? Tadi malam suami gue datang kesini kan?" Teriak Hanna emosi. Amora menatap Kinan penuh pertanyaan beralih menatap Hanna dengan kesal.
Kinan diam tak bisa menjelaskan. Ditengah itu..
Seseorang merebut handphone Hanna sambil berkata, "Benar, dia memang datang kemari," seluruh tatapan bergerak ke sumber suara.
"Aim" lirih Kinan.
Kinan terkejut dengan kehadiran Aim yang tiba tiba ada didekatnya.
"Bos Aim?" Amora terheran, setelah menoleh kerah Aiman dia beralih menatap Kinan penuh pertanyaan. Bagai mana Aiman bisa mengikutinya.
"Tapi karena telah berbuat tidak senonoh terpaksa saya kirim dia ke penjara" Aim menghapus gambar itu lalu menutup layar dengan wajah datar mendelik kecil berisyarat agar Hanna segera mengambil telpon genggamnya.
Amora semakin kebingungan menatap Kinan dan Aiman secara bergantian. 'Senonoh?' Gumam Amora tak mengerti.
Ada perasaan curiga dihati Amora mungkin telah terjadi sesuatu pada Kinan.
"Apa?" Teriak Hanna tak percaya.
Begitu juga dengan Kinan ia terkejut bukan main saat mendengar perkataan Aim.
Sementara Amora hanya diam penuh tanya, Amora merasa Kinan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Kinan sendiri tidak menyangka Aim akan memenjarakan Dirga yang telah melecehkannya, padahal Kinan pribadi tidak pernah berfikir untuk melaporkan kejadian itu kepada siapapun.
Kinan menatap Aim dengan berat.
"Apa benar itu Kinan?" Hanna menatap Kinan penuh selidik, tidak berhenti menyalahkannya.
Kinan menggeleng, "Aku sendiri tidak tau apa apa" lirihnya, ekor matanya diam diam membidik Aiman.
Untuk apa Bos Aim membelaku? Aku ini bukan siapa siapa, lagi pula tidak ada untungnya bagi dia, mau aku dilecehkan atau di apapun.
Kenapa dia harus repot repot lakuin ini? bagai mana kalau ada biaya yang harus aku keluarkan? aku dapat uang dari mana?
Kinan meringis dalam diam.