
Flashback.
Di suasana malam.
Brrrruukkkkk.....
"Aduh," seorang gadis mengaduh sambil mengusap kepalanya, dia tidak sengaja bertabrakan dengan tubuh seseorang, "Saya minta maaf" ucapnya kemudian. Gadis ini tidak melihat jalan didepannya, tampaknya karena terburu-buru. Tas plastik ditangannya begitu penuh dan tampak kerepotan, salah satu tas yang dibawanya bahkan ada yang sempat terjatuh.
Sambil menghela nafas frustasi gadis ini mengambilnya, tetapi naasnya masalah yang di hadapinya tidak selesai begitu saja, beberapa barang yang ia bawa malah semakin banyak yang berjatuhan ketika dia mencoba mengambil barang lain yang terlebih dahulu jatuh tadi.
"Ahhh.. kapan semua ini akan berakhir? Aku selalu melakukan ini, bahkan saat aku telah mendapat pekerjaan pun aku masih harus melakukan ini" rutuknya kesal.
Bahkan mata gadis ini pun terlihat membendung air matanya. Dia tampak kelelahan.
"Pekerjaan menguras otak, belum lagi harus bekerja dilingkungan orang orang tak berotak, bahkan di dalam rumah pun aku tidak memiliki waktu untuk beristirahat!" Gadis ini terus menggerutu sambil terisak sedih, memunguti barang belanjaan yang telah tercecer.
Kemudian dengan rasa simpati yang besar lelaki yang sempat ditabrak tadi berjongkok bantu memunguti barang bawaan gadis yang menabraknya, diantaranya sayur mayur, buah buahan, makanan ringan, makanan siap hidang, dan beberapa bahan makanan lainnya.
"Berhentilah mengeluh, kau masih muda dan penuh energi, hari ini memang sulit tapi dunia masih berlanjut, teruslah melangkah kedepan tanpa frustasi, karena kau tidak tau kebahagiaan sebesar apa yang menunggu kau jemput disana" ucap lelaki itu menyemangati.
"Ya semoga saja" bibir frustasi itu bergetar saat berucap demikian, "Tapi kalau tidak bagai mana?" Tanyanya tanpa menoleh ke sumber suara, suara isakkan terdengar merintih dibalik poni yang menutupi wajahnya.
"Yang terjadi biarkan terjadi karena yang seharusnya berlalu akan tetap berlalu. Bukankah saat itu kita tergolong manusia hebat? Kamu tau hidupmu begitu sulit tetapi kau mampu melewatinya terus dan terus. Jangan berhenti bersemangat, tetap lakukan yang terbaik. Suatu saat kamu akan menemukan buah manis atas kesabaranmu ini"
^^^"Kau boleh berkata seperti ini karena kau tak pernah di posisiku. Bagai mana kalau kau jadi aku, aku tidak yakin kau masih bisa berkata seperti ini lagi" tempas Kinan.^^^
Lelaki itu terdengar tertawa kecil. Sementara gadis dihadapannya masih tertunduk, dan terisak.
"Baiklah kalau begitu aku kagum kepadamu, kau perempuan kuat. Jangan lupa berdoa agar tuhan mempertemukan kamu dengan kebahagiaan"
Tak jauh dari tempat mereka seseorang terdengar memanggil, "Im.. Kita harus bergegas" teriaknya mengingatkan.
"Sayang sekali" desisnya. Lelaki ini kemudian meng asongkan sebuah saputangan berwarna hijau muda, warna yang cantik, "Pakailah ini untuk mengusap Air mata mu," gadis ini mengambilnya dengan ragu, mendongak sekilas dan menyadari kalau paras lelaki yang membantunya ini sangatlah tampan rupawan, dan tampaknya dia bukanlah lelaki sembarangan, pakaiannya pun terlihat mahal.
"Terima kasih"
"Kalau begitu aku pergi dulu" ucapnya sambil mengacak rambut gadis cantik dihadapannya ini.
Gadis.
Ini adalah pertama kalinya ia di sentuh di kepalanya setelah gadis ini dewasa, sentuhan hangat itu kembali, sentuhan yang kini telah hilang bersama perginya sang ayah, selama lebih dari 17 tahun tidak ada yang menyentuh kepalanya seperti ini lagi, dan hari ini dalam hari yang berat gadis ini seolah mendapatkan lagi semangat dari sang ayah.
Gadis ini mendongak untuk menatap lelaki yang sedang mengusap kepalanya, dia ingin menemukan sosok ayah yang selama ini pergi.
"Senang bertemu dengan mu" ucap lelaki dihadapannya, gadis ini masih menatap lekat lelaki yang tersenyum hangat kepadanya.
Hingga akhirnya lelaki ini beranjak sesaat setelah seseorang kembali memanggilnya, "Aim. Penerbangannya setengah jam lagi" lelaki dengan usia hampir setara memanggilnya dari sebrang.
Lelaki yang diketahui bernama Aim pun sempat berbalik, rupanya gadis itu ingin memberikan satu setrip permen kopi kepada Aim.
"Semoga perjalananan mu menyenangkan," sambil meng asongkan setrip tersebut "Terima kasih telah menyemangati ku"
Aim menerima itu dengan hati senang bibir tersenyum berisi ucapan terima kasih yang banyak.
Mereka berdua sempat saling menatap cukup lama saat sama sama memegang setrip peremen yang di asongkan sang gadis.
"Semoga kita bisa bertemu lagi" kata sang gadis.
Aim pun mengangguk setuju, "Selamat tinggal. Aku akan sangat bersyukur bila dapat bertemu dengan mu lagi" -Aim.
Kinan tersenyum kecil, setelah tangisan yang memborbardir itu, Aim akhirnya melihat senyum manis yang terbit dari gadis cantik yang sempat dibantu olehnya ini.
Aim dibuat kagum olehnya, dia adalah gadis yang wajahnya sangat sempurna, cantik dan manis tak ada celah keburukan ketika memperhatikannya.
Setelah itu keduanya kemudian saling meninggalkan dengan harapan keduanya akan saling dipertemukan lagi di lain waktu.
Namun saat diluar Negri Aim mendapat kabar bahwa orang tuanya telah mengatur pernikahan untuknya, dan waktu itu Aim telah dipaksa untuk kembali, untuk melakukan pernikahan.
Padahal saat itu Aim telah mengatur waktu untuk mencari gadis yang waktu itu ditolong olehnya, Aim telah berjanji untuk menemuinya. Namun pernikahan ini membuat Aim terpaksa mengurungkan niat tersebut, dan menghargai pernikahannya.
Flahshback off.
Kinan tersenyum berkali kali saat diam diam mencuri pandang dari lelaki yang saat ini duduk disampingnya.
Aim tampak sibuk membandingkan isi kertas di pangkuannya dengan tulisan di Ipad nya.
"Ada apa?" Tanya Aim, pertanyaan itu membuat Kinan terkejut, Kinan mengerejab, "Kau mencuri curi pandang? Apa tidak bosan dari malam hingga pagi sampai sekarang menatapku?" Goda Aim, padahal Aim sangat senang diperhatikan demikian, namun tatapan Kinan membuatnya berdebar dan tidak berkonsentrasi.
Kinan tersenyum dan meringis malu, yang dikatakan Aim memang benar, Kinan merasa terus ketagihan untuk menatap wajah Aim, apalagi saat fokus bekerja seperti ini ditambah lagi wajah samping Aim sangat mempesona, mata sipit dan hidung mancung sempurna untuk menjadi bayangan sepanjang hari.
"Mas, apa didalam mobil pun kamu harus tetap bekerja?" Tanya Kinan ketika mendapati Aim sibuk dengan kertas pangkuan dan ipad di tangannya.
Saat ini Kinan dan Aim sedang berkendara menuju kantor.
Aim menoleh, "Mas minta maaf kalau pekerjaan ini mengganggu mu, tapi deadline ini cukup penting dan pekerjaan di kantor sangat banyak, jika tidak diperiksa sekarang Mas khawatir tidak sempat memeriksanya"
^^^"Tidak tidak, aku tidak berfikir ke sana, hanya saja mata kamu terlihat lelah, dan aku yakin kamu juga merasa pusing 'kan?" -Kinan.^^^
Aim kembali tersenyum, "Ia, yang kamu katakan benar. Kemarilah!" Aim menuntun kepala Kinan untuk bersandar di bahunya, "Ini bisa menghilangkan lelahku" sambil sekilas mengecup kepala Kinan.
"Mas, aku turun sebelum kantor ya" pinta Kinan.
Aim sempat mengernyit sesaat, "Kenapa?" tanyanya.