Oh My Boss.

Oh My Boss.
119



Seiring hentakan kaki yang mengetuk mendekat ke mejanya.


Kinan panik kelimpungan mencari tempat untuk menyembunyikan Aim.


"Kolong meja, kolong meja!" titah Kinan sambil meruku'kan Aim, untuk masuk kedalamnya.


"Ini mana cukup?, aku tinggi sedangkan meja ini. Aku akan sesak duduk di sana." tujuk Aim dengan wajah keberatan, pada kolong sempit d bawah Kinan


Langkah Lia semakin mendekat, tergesa-gesa.


"Tapi kita tidak punya cukup waktu," ringis Kinan, Panik.


"Kinan" Lia memanggil. Beberapa ayunan lagi Lia akan sampai.


"Ahh.." Kinan mendesis bingung.


Apa yang akan ditanyakan Lia bila ia mendapati Aim bersamanya, fikiran Kinan mulai ke mana mana.


"Kamu tunggu di situ ok!" Mendorong Aim ke dalam dengan sedikit kasar.


"Tapi Sayang,"


Dukkkk


Aim terpaduk, tapi tak kuasa menolak untuk bersembunyi.


Kinan terus menahan, "Jangan keluar sampai aku izinkan keluar ok. Dan ingat jangan timbul kan suara apapun yang akan mengundang curiga Lia" perintah Kinan mengingatkan, walau Aim tampak enggan.


Ditengah itu..


"Nan, panggil Lia"


Panggilan yang membuat Kinan terkejut bukan main.


Kinan masih berjongkok dengan wajah cemas, mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Lia penasaran. Pasalnya Lia melihat Kinan tampak sedang bercakap dengan orang lain.


"Ah tidak." Kinan berdiri sambil merapihkan pakaiannya "Aku melihat kecoak berlarian,"


Lia merinding mendengar cerita Kinan,


"Lalu apa yang akan kamu lakukan di sana? Apa kau berniat mengambil dan memberikannya kepadaku?. Kau kesal karena aku memberimu banyak tugas?" Lia mengerucut ketakutan.


"Tidak, aku hanya memastikan dia ada di tempat yang tepat, kalau merayap kemana mana kan nggak asik" -Kinan memberi alsan


Lia mengangguk, namun masih terlihat waspada.


"Ngomong ngomong, apa yang Kak Lia lakukan di sini? Apa ada barang yang tertinggal di Kantor?" Tanya Kinan mengalihkan perhatian.


Seketika Lia memasang wajah kesal.


Menghentak hentakkan kakinya seperti anak kecil tidak diberi jajanan kesukaan.


"Tidak! Aku diminta mengecek dokumen hotel Graha. Bos mu sangat kejam Nan, apa mereka tidak bisa membiarkan aku bersantai sejenak saja?" Ucap Lia setengah frustasi, sementara Kinan hanya mendengarkan dan mengangguk sesekali, dalam hati tersenyum kecil mendengarkan suaminya di kata'in yang mungkin sekarang Aim juga sedang mendengarkannya.


"Selalu saja ada alasan untuk menarik aku kembali ketempat kerja" Desis Lia kemudian. Saat ini Lia terlihat sangat jengkel..


"Memangnya ada apa dengan hotel Graha?" Tanya Kinan sekedar menambah kuota perbicangan.


"Mereka akan mengakuisi Hotel Graha besok. Tapi aku heran, kenapa bisa tiba tiba jadwalnya berubah, bukankah Akuisinya masih sebulan lagi?" Lia bertanya kepada diri sendiri.


"Mm, mungkin telah terjadi sesuatu yang membuat akuisinya terpaksa di percepat" -Kinan.


Dibawah meja, Aim mencermati setiap luahan kekesalan dari mulut Lia, Aim mengernyit dibuatnya.


"Kalau saja kau tidak berbuat seenaknya kau juga tidak akan aku perbudak" geram Aim. Berbisik pelan.


"Ya tidak apa apa. Bukankah setiap kali perusahaan berhasil mendapatkan projek besar kita semua mendapatkan bonus?" -Kinan.


Lia tampak mengangguk berat, "Ia sih, tapi tetap saja mereka yang kaya"


"Mm.. Apa kak Lia berfikir mereka kaya itu karena Kita bekerja di perusahaan mereka?" -Kinan.


"Ya, karena seorang Bos juga tidak akan menjadi Bos kalau kita tidak menjadi karyawan mereka" -Lia.


"Ia semua itu benar adanya. Tetapi kekayaan mereka itu bukan karena saya atau kakak Lia bekerja di perusahaan mereka, tetapi karena potensi perkembagan perusahaan sangat besar. Sementara kita, bekerja karena kita yang menginginkan pekerjaan ini, bukankah bisa bekerja di perushaan ini adalah mimpi banyak orang?. Lagi pula, kita bekerja sesuai arahan mereka, kita ditempatkan sesuai potensi kita. Mereka tidak akan gegabah menempatkan pegawai. Posisi saat ini, apa tidak membuat Kak Lia bangga?"


"Jadi menurutmu, aku ditempatkan sebagai notaris itu karena akun pantas?. Tapi masih banyak perusahaan yang mau memperkerjakan aku Nan," Wajah Lia tampak senang, meski di akhir tampak menyombongkan diri.


Kinan mengangguk, sejauh ini Lia tampak berubah senang dan percaya diri kalau dirinya begitu pantas dalam pekerjaan ini.


Dibawah meja pun, Aim tampak tersenyum-senyum sendiri ketika mencermati penjelasan Kinan, sepenuhnya perkataan itu adalah benar.


Aim memuji dan terkagum pada ucapan yang Kinan lontarkan,


Percakapan berlanjut cukup lama. Aim yang meringkuk dibawah kolong meja mulai merasa tidak nyaman, dan mulai merasa sesak.


Kemudian ia mencoba menjulurkan handphonenya ketempat yang masih bisa di lihat oleh Kinan.


"Bisakah kalian berhenti bercerita?, Aku tidak bisa terus di sini" ungkap Aim dalam layar yang coba ia tunjukkan.


Namun sayangnya Kinan tidak sempat melihat ke bawah hingga layar tertutup dengan sendirinya. Kinan juga tidak mengerti dengan isyarat yang Aim berikan


Aim benar benar benar tidak sabar lagi, untuk menunggu.


Melonggarkan dasinya dan menggerutu kesal.


"Keterlaluan",


Percakapan ini malah semakin jauh, karena Lia kali ini malah menceritakan kisah cintanya bersama lelaki yang baru di jumpai nya di laman media online.


Dia menceritakan lelaki itu secara detile penuh ekspresi. Bagi hal hal yang ia sukai, Lia tampak tersanjung, namun hal hal yang membuat dia i-lfiel Lia akan menjerit kesal bahkan sampe menggebrak meja yang otomatis membuat Aim terkejut.


"Gila perempuan macam apa yang sedang berbicara dengan Kinan ini?" Desis Aim pelan.


Aim memompa dada, menambah lagi siklus kesabarannya untuk menunggu Lia selesai bercerita. Sambil menunggu dengan sabar Aim melihat betis yang tidak sengaja kain membalutnya sedikit menyingkap, mungkin Kinan tidak menyadarinya.


Kemolekan tersebut membuat Aim terpesona dan mulai menyentuhnya dengan halus.


Berkali kali Kinan tampak mengisyaratkan Aim untuk berhenti, namun Aim sangat senang menggodanya, sambil memberikan sentuhan sentuhan isyarat kepadanya.


Kinan tampak sibuk membenahi tangan yang terus mengelus elus'kan kakinya. Aim masih belum berhenti hingga akhirnya Kinan memegangi tangan Aim berharap suaminya akan berhenti. Namun nyatanya tidak sama sekali.


Kinan berharap bisa menegur Aim namun mata Lia tidak pernah jauh darinya membuat Kinan gelagapan sendiri.


Sialnya hal tersebut malah menarik perhatian Lia.


Lia langsung bertanya, "Nan. Apa yang kamu lakukan? Kau tampak tidak nyaman, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan di bawah mejamu?" Spontan Kinan melepaskan pegangannya dengan sedikit kasar hingga tidak sengaja memberi dorongan kecil yang membuat Aim terdorong mentok ke belakang, Aim meng-aduh kesakitan.


Meski berusaha menahan suaranya, nyatanya Lia dan Kinan bisa mendengar aduhan tersebut.


Lia terkejut spontan. Namun baiknya Lia tidak curiga.


"Oh Nan," Lia menohok, mata berputar memindai sekeliling "Apa di tempat ini ada orang lain selain kita?" Tanyanya. Lia merasakan bulu bulunya berdiri, "Apa kamu berfikir di tempat ini ada mahluk halus yang terganggu denga suaraku, apa kamu merasa suara ku terlalu lantang?" Lia Gugup dan khawatir, berisut mendekat kepada Kinan.