
Masalah serangga hampir selesai, tetapi kini masalah lain datang.
Aim mendengus, kesal dengan posisinya saat ini.
Sejenak menilik keluar, melihat posisi Lia dan Kinan sekarang.
Tampak aman Aim lalu memutuskan menyelinap kebelakang.
"Nan, Aim mana?" pertanyaan Guna masih sama.
Kinan bingung harus memberikan jawaban apa, tidak mungkin memberikan jawaban yang akan mengundang curiga Lia, lebih baik kembali berpura pura, untuk mengalihkan pertanyaan Guna, "Aaahh perutku, aku harus ke kamar mandi sekarang juga"
Kinan hendak beranjak tanpa memperdulikan pertanyaan Guna.
Lia cengengesan saat melihat Guna yang tampan berdiri di hadapannya, "Malam Pak Guna" sapa Lia menyelaraskan suaranya se merdu mungkin, barulah Guna sadar mengapa Kinan tidak menjawab pertanyaannya.
Rupanya ada orang lain selain Kinan di tempat ini, Guna sempat tidak menyadarinya.
Kinan melanjutkan langkahnya tapi alangkah sialnya, Lia malah memberinya pertanyaan penuh selidik.
"Tunggu" Lia menahan., "Aim?. Apa yang pak Guna maksud adalah Bos Aiman?" Tanyanya, menatap Guna dan Kinan secara bergantian.
Terpaksa Kinan berhenti untuk memberi alasan.
"Eehhh,, bukan. Dia orang yang berbeda" bantah Kinan.
Saat bersamaan Guna malah reflek meng ia 'kan membuat Kinan spontan memelototi Guna.
Guna mengusap wajah, menyadari kesalahannya lagi.
Tetapi mata Lia cukup jeli.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Lia. Ketika melihat Guna dan Kinan saling berisyarat.
"Ah, tidak apa apa" bantah Kinan,. Secepatnya mengalihkan percakapan, "Apa kita bisa pergi ke kamar mandi sekarang?" Ajak Kinan tergesa. Menarik Lia untuk pergi ke kamar mandi bersamanya.
"Aku heran dengan kalian" Lia mengernyit, bingung. Lia merasa sangat heran palagi saat mendengar ucapan panggilan (Aim) yang di lontarkan Guna kepada Kinan terdengar cukup akrab.
Meski masih banyak kejanggalan yang di rasakan Lia. Lia lebih memilih untuk menyimpannya sejenak, Lia berniat mengintrogasi Kinan selepas kembali lagi dari kamar mandi.
Aim merongkong pelan, berniat kabur dari situasi mencekam ini.
Ahh.. tetapi saat mereka (Kinan dan Lia berbalik untuk pergi ke mamar mandi, malah melihat Aim yang sedang merongkong di lantai, keluar dari tempat persembunyiannya.
Lia dan Kinan spontan berkata, "Bos!"
Saat bersamaan handphone Aim di dalam saku berdering.
"Ah, sial" Aim merutuk dalam batin.
"Apa yang bos lakukan di sini?" Tanya Lia, terkejut.
Guna yang sedang melakukan panggilan kepada Aim menoleh ke arah suara, Guna pun melihat Aim merongkong, Guna mengerutkan dahi merasa aneh dengan tingkah tak wajar bosnya.
Guna segera mendatangi Aim, "Bos apa yang kamu lakukan?" Tanya Guna dengan tawa kecil, terkikik lucu.
Sedikit banyak, Guna bisa menangkap alasan Aim melakukan tingkah aneh ini.
Tapi sebelum itu Aim sempat berbalik sebentar, "Kalian berdua sedang apa di sini?" Tanyanya. "Pulanglah, jangan tinggal lebih lama, didalam kantor banyak terjadi hal hal mistis (Menyindir). Aku sarankan cepat tinggalkan pekerjaan kalian".
Kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangan, di belakang layar Aim mendengus dan merutuk kesal atas kejadian yang menimpa dirinya.
Setelah itu Guna pun pamit, untuk menyusul Aim kedalam kendaraan.
Guna dan Aim berjalan pergi, sementara Kinan menyunggingkan senyum lucu atas kejadian yang baru di alaminya dengan Aim. 'Betapa lucunya Aim dengan gerakan rangkak seperti itu'
Berbeda dengan Lia, ia masih termenggu bingung dengan keadaan yang telah terjadi.
Dalam hati Lia bertanya tanya dari mana asal mulanya Aim, kenapa bisa tiba tiba merongkong di lantai. Sementara sejak tadi Lia tidak melihat ada tanda tanda kehadiran orang lain didalam ruangannya.
"Nan," sebut Lia penuh tekanan dan selidik.
"Ya" Kinan menyahut sambil segera menyembunyikan uluman senyum di bibirnya.
Lia menatap Kinan dengan tatapan selidik, membuat Kinan sedikit merasa diintimidasi.
"Apa kau diam diam dekat dengan atasanmu?" Selidiknya.
Pertanyaan itu spontan membuat Kinan gelagapan.
"A a..atasan?" Kinan kembali bertanya untuk menemukan alur pertanyaan Lia. Kinan menebak Lia mencurigainya dekat dengan Aim.
"Apa kau diam diam dekat dengan pak Guna?" Tanya Lia kemudian. Saat nama Guna di sebut Kinan langsung menghela lega.
Perasaan berat di hatinya langsung plong, dan terasa ringan. Kinan pun kini bisa menjawab dengan santai, "Ah No, mana mungkin orang sepertiku bisa begitu dekat dengan lelaki yang sangat aku segani seperti pak Guna." Di akhiri tawa kecil.
Lia mengangguk setuju, "Ah, kau benar"
"Mm kalau begitu, aku pulang saja ya kak" ucap Kinan sambil bergegas pergi menyimpang tasnya dan setengah berlari meninggalkan Lia.
Kinan bergegas karena tidak bisa berhenti memikirkan Aim.
Sejak melihat raut kesal di wajah Aim tadi, fikiran Kinan mulai tidak bisa tenang dan akhirnya memutuskan untuk mengejarnya, mengabaikan teriakan Lia.
"Ey Nan, kau akan meninggalkan aku?."
"Maaf, tapi aku ada urusan penting," sahut Kinan.
"Tapi, kau meninggalkan aku sendirian" teriak Lia lagi.
"Maaf!" hanya terdengar kalimat itu dalam wujud yang mulai tidak terlihat.
.
"Ada apa dengan wajah mu Im?" Tanya Guna, tertawa kecil saat melihat wajah Aim kusut Aim dari kaca mobil.
Aim berdecak, melepas dasi dan jas dari tubuhnya dengan kasar. Menggigit jari saking jengkel pada nasibnya hari ini, didalam kantornya sendiri.
"Kau pernah merasa hilang wibawa Gun?" Tanya Aim dengan nada yang kurang bersahabat.
Guna terkikik saat mendapat pertanyaan tersebut, seolah diingatkan kembali pada kejadian di dalam kantor barusan.
Kalau saja waktu bisa di putar kembali, Guna sangat ingin mengabadikannya.