
"Ada apa lagi dengan kalian Amira!" Pekik Mina, mencekal Amira dan menghempasnya kasar, Mina yang baru saja mendengar Amira bertengkar dengan Dirga sedang diliputi rasa geram., Pertengkaran itu membuat Mina naik darah pasalnya pertengkaran ini bukan pertama kalinya terjadi "Kapan kalian akan akur heh? Dengar Amira! Sebagi istri harusnya kau baik baik dengan suami mu jaga sikap mu."
"Aku, menjaga sikapku? Lalu bagai mana dengan dia, dia yang selalu semena-mena dengan ku"
"Apa kurangnya Dirga? Dia dan keluarganya telah menjamin kita hidup mewah, tapi kau! Selalu saja berulah! Kau selalu bertingkah semau mu Amira! Kau selalu menuntut ini dan itu, harusnya kau bersyukur karena kau diperlakukan baik oleh mertua mu, dan Dirga dia juga mencukupi mu, meski semua orang tau kau hanyalah perempuan pengganti!" Pekik Mina. Mendengar itu Amira langsung geram, menatap Mina dengan kemarahan yang tertahan.
"Ya, aku memang perempuan pengganti semua orang juga tau itu, tapi meskipun aku hanya perempuan pengganti aku juga berhak mendapatkan perhatian dari suamiku, aku juga berhak diperlakukan baik oleh dia, dia tidak berhak memperlakukan aku nomor dua, aku mau dia adil, aku mau semua orang adil memperlakukan aku!"
"Apalagi yang kurang?! Kau! Kehidupan mewah yang kau punya sekarang kau fikir itu dari mana? Kau bisa mendapatkannya dengan tangan mu? Sadar Amira sadar! Kau tidak tau bekerja bahkan untuk sekedar mencuci piring pun harus orang lain yang melakukannya, Lalu untuk mengalah apa kau juga tidak bisa?!"
"Silahkan teruskan teriakan Mama. Amira tanya, Kenapa, Kenapa aku harus jadi pengganti lalu menerima ini, sementara Kinan dan Hanna dia mendapatkan segalanya, dia mendapatkan suami yang sangat mencintai dia, mereka mendapatkan suami yang diinginkan semua perempuan, sementra aku! Aku hanya menjadi istri kedua yang harus selalu mengalah, suamiku lebih mencintai istri pertamanya, mertuaku selalu mengistimewakan dia, dan sekarang ibu ku sendiri meminta aku untuk mengalah, terus mengalah, mengalah! Apa dengan mengalah cukup membut ku menang?! Mama tidak tau 'kan bagai mana Kinan sekarang? Dan aku? Apa yang bisa aku harapkan sekarang?"
Mina merasa bersalah karena telah mengungkit status Amira sebagai istri pengganti, suara Mina melemah "Kau tunggulah dulu, beri suami mu waktu, sampai istri tuanya melahirkan, setelah itu kau bisa menguasai suami mu" bujuk Mina.
"Tunggu? Aku harus menunggu lagi? Tidak! Aku sudah muak!" Dengus Amira, dia lantas pergi meninggalkan Mina, Amira tidak berhenti meski Mina terus berteriak
"Pergi ke mana kamu Amira! Amira! Amira berhenti"
Mina lantas berlari mengejar Amira, menahan Amira agar tidak pergi meninggalkan rumah.
"Mir, Mama minta maaf, Mama tidak bermaksud menyinggung kamu, Mama minta maaf, kamu jangan pergi" mohon Mina sambil menahan stir yang hampir dikemudikan Amira.
"Lepaskan," sorot Amira.
"Tidak Nak, kamu nggak boleh pergi" mohon Mina.
"Terserah Amira, di rumah ini tidak ada lagi yang menghargai Amira, rumah ini neraka" Amira terus memaksa melajukan kendaraannya namun Mina masih menahan stir.
"Amira, Mama minta maaf, Mama akan membantu mu mendapatkan perhatian dirga Mama akan membujuknya untuk mu, Mama akan melakukan apapun asal kamu jangan pergi Nak"
"Sekarang tidak ada lagi yang Amira inginkan, Amira akan mencari kebahagiaan Amira sendiri. Mama sendiri yang bilang 'kan kalau Amira ini tidak bisa apa apa? Sekarang Amira akan membuktikannya kepada Mama" Melepaskan pegangan Mina dengan kasar, "Amira juga bisa hidup sendiri, dan ingat! Jangan cari Amira" Amira lantas melesat dengan mobilnya meninggalkan Mina yang berteriak histeris memanggil Amira agar kembali.
"Amira, Amira" teriak Mina.
Mina kemudian bergegas kedalam rumah untuk mencari keberadaan Dirga, Dirga tidak ditemukan di kamar Amira melainkan tidur dikamar lain.
"Dirga!" Pekik Mina, Dirga spontan terbangun karena terkejut "Cepat susul Amira sekarang!"
"Susul kemana Mah?" Tanya Dirga dengan datarnya,.
"Kau memang payah, kau memang tak pernah berusaha menyenangkan anak ku, bahkan disaat seperti ini pun kau masih sempat untuk tidur, apa kau tak pernah memikirkan Amira!" Teriak Mina.
"Cari Amira sekarang juga!"
"Dia pergi dari rumah? Yaudahlah Mah dia paling pergi sebentar, dia sengaja pergi supaya aku mencari dan membujuk dia begitu 'kan? Nanti juga bakal balik sendiri, Mama tau sendiri 'kan bagai mana sikap Amira"
"Dirga!" Bentak Mina, "Bagai mana kalau dia nggak mau kembali, kau memang tak pernah memperdulikan anak ku Dirga!" Teriak Mina sambil terisak.
Dirga kemudian bangkit, "Baik saya minta maaf, kita cari kemana Amira?" Berucap dengan malas.
Dirga dan Mina lalu bergegas mencari Amira, mendatangi setiap tempat yang mungkin akan didatangi Amira.
Namun hingga malam menjelang Amira masih belum ditemukan.
"Kita cari kemana lagi Mah?" tanya Dirga, sejenak menepi untuk melakukan panggil pada nomor Amira namun panggilan tidak juga terhubung.
Mina semakin cemas dan gelisah dibuatnya.
Selama perjalanan hingga kini Mina tak henti menyalahkan Dirga.
Hingga Dirga pun menjadi geram, namun Dirga mengendalikan diri dengan tidak berkata apa pun.
"Ini semua salah mu Dir, coba saja kau lebih memperhatikan istrimu,"
Dirga akhirnya angkat bicara, "Aku harus bagai mana Mah?, apanya yang kurang? aku sudah memberikan semua yang aku bisa, bukankah Mama tau selain Amira aku juga punya Hanna, saat ini dia sedang mengandung anak aku, aku harus memberi perhatian lebih padanya"
"Ya, kamu memang selalu mengistimewakan dia memperhatikan dia, hingga kamu lupa memperhatikan Amira, itu yang kurang dari mu Dir, kau tidak bisa mencintai Amira seperti kamu mencintai Hanna, selalu kehamilan Hanna yang jadi alasan" sungut Mina berapi api.
"Ya, karena prioritas ku sekarang hanya Hanna, sementara Amira aku tidak pernah meminta dia masuk kedalam rumah tangga ku, Mama yang memaksa dan Amira yang bersedia dan sekarang Mama menyalahkan aku seolah aku yang bersalah dalam permainan ini? aku tidak pernah meminta Amira dia sendiri yang datang"
"Lalu saat itu kenapa kau harus menerima pernikahan itu, saat kau tau bukan Kinan yang aku bawa kenapa kau nikahi Amira harusnya kau pergi dan tinggalkan pernikahan itu Dir." potong Mina.
"Karena aku tak mau terus terusan mempermalukan orang tuaku Bu! Dengan membawa Amira ke pernikahan saja cukup membuat orang tua ku menanggung malu lalu apa jadinya kalau aku kabur saat tau bukan Kinan yang ibu bawa! ibu fikirkan itu" pekik Dirga.
"Kau berani berbicara seperti ini kepada mertua mu Dir?" ucap Mina dingin namun syarat akan kemarahan.
"Itu karena kalian selalu menuntut ku, menuntut semuanya, bahkan sedikit pun kalian tidak pernah memikirkan perasaan ku, orang tua ku dan Hanna, padahal tak ada yang menginginkan pernikahan ini kecuali ibu!"
"Hentikan bicara lancang mu Dirga!" teriak Mina berapi api..