Oh My Boss.

Oh My Boss.
140



Saat nama Harimaja di sebut dua orang yang sedang duduk di ruang tamu berdiri dan menoleh ke arah mereka, Mina dan Amira tampak terkejut.


Arman memperhatikan Kinan dari atas hingga ke bawah.


Anggun, sopan dan tampak baik.


Menatapnya seperti menemukan wajah teman lama yang telah lama meninggal.


Tetapi dalam hati lain membantah anggapan itu, sebab di belakangnya duduk seorang gadis yang memiliki nama ayah Harimaja juga, nama persis seperti mendiang sahabatnya, bahkan biodata gadis itu lebih spesifik seperti gadis milik Harimaja yang ada padanya.


"Kinan" ucap Mina, ia tampak terkejut ketika melihat Kinan ada didalam ruangan yang sama.


"Kinan," Amira pun sama sama terkejut.


Mina dan Amira saling bertatap.


Wajah Mina memerah panik.


"Kenapa Ayah tampak kebingungan?" Tanya Aim ketika melihat Arman hanya diam sambil menyelidik Kinan


Arman masih terus berfikir mengenai Kinan, yang Aim katakan sebagai anak Harimaja.


"Selama ini aku tidak pernah mendengar Harimaja memiliki dua putri, siapa dia? Apa Hari memiliki anak dari perempuan lain? Tapi kenapa didalam surat wasiat saham itu hanya untuk anaknya yang bernama Amira?, tidak ada anak dengan nama Kinan" Gumam Arman dalam hati.


"Siapa kamu?" Selidik Arman. Jujur Arman sangat penasaran. Menoleh sekilas kepada Amira yang saat ini berjalan ke dekatnya.


Tetapi Arman tidak mememukan wajah Hari atau pun Nayla pada wajah Amira.


"Saya Kinan Anatasya, putri dari mendiang ayah Harimaja Adinoro dan istrinya Nayla Zia"


Arman semakin termenggu saat mendengar nama itu di sebut, bagai mana mungkin Harimaja memiliki dua anak gadis dengan nama ibu yang sama, padahal yang Ia tau Nayla meninggal saat melahirkan anak pertamanya, yaitu Amira.


"Tunggu, apa kau sedang menipu ku?" Tanya Arman dengan wajah tidak terima.


"Maksud Om?"


"Kau berniat menipu dengan memakai Harimaja di belakang nama mu'kan?" Pekik Rania membuncah.


Kinan menggeleng tak paham, "Tidak!"


"Ya, dia memang penipu" sambung Mina, tiba tiba telah berdiri di antara mereka.


"Mama Mina" ucap Kinan, Kinan terkejut saat melihat Mina tiba tiba berada di tempat yang sama dengannya.


"Tak cukup dengan menipu putramu, dia juga sekarang berniat menipumu dengan mengaku sebagai putra Harimaja, dia sengaja membuat mu bingung. Perempuan ini memang licik, selain menginginkan pamor dia juga menginginkan harta yang banyak dari peninggalan dari harta yang diwariskan Harimaja, kau memang licik!" Ucapan penuh tekanan.


"Harta warisan?" Kinan mengernyit tak paham.


"Apakah ada harta warisan yang ayahku tinggalkan?" Tanya Kinan, menatap Mina, menuntut penjelasan, berjalan bebera langkah kecil menuju Mina.


"Sebenarnya sedang apa kalian berdua di sini?" Tanya Aim, menatap Mina dan Amira dengan tatapan sinis, namun Mina atau pun Amira sama sama tidak menjawab.


Aim menoleh ke atas meja. Banyak sekali kertas berserakan di atasnya.,


"Sebenarnya siapa anak Harimaja?" Tanya Arman kemudian.


"Mah jawab Kinan! Apa yang Ayah tinggalkan? Warisan apa yang Mama maksud?" selidik Kinan menatap Mina menuntut penjelasan.


"Sayang, Om Hari adalah salah satu pemilik saham perusahaan LK, sebesar 23% lebih" jelas Aim. Kinan melongo tak percaya.


"Benarkah?" Tanyanya dengan mata membening, ada rasa tak percaya dengan semua ini, Ayahnya memiliki harta yang begitu banyak, namun Kinan tidak mengetahuinya. jadi benar berkas yang ia lihat beberapa hari yang lalu adalah benar benar atas nama ayahnya, bukan hanya nama yang sama.


"Tetapi Om Hari telah mewasiatkan harta itu untuk memberikan sahamnya kepada putrinya yang bernama Amira"


Menoleh spontan kepada Amira, "Tapi Amira bukan saudara kandungku, dia juga bukan anak ayahku" bantah Kinan.


"Hei, jaga mulutmu!. Kau juga bukan saudaraku" Tunjuk Amira.


"Kau berbicara seperti itu seolah olah kau adalah orang yang paling tau segalanya, padahal kau hanya anak pungut!" Pekik Mina, mencoba melindungi kebenarannya.


"Tidak! Aku bukan anak pungut, aku adalah putri Harimaja dan ibuku bernama Nayla Zia. Kalau kalian tidak percaya aku mau menunjukkan sesuatu" Kinan merogoh tasnya lalu mengeluarkan selembar poto usang, gambar milik Nayla Zia. "Dia adalah ibu ku, selama ayah masih hidup dia selalu mengatakan kalau perempuan inilah yang harus ku panggil Mama, ayah juga sering membawaku ke pembaringan terakhirnya. Aku adalah putri Harimaja"


"Tidak!" bantah Mina, "Poto jadul ini tidak akan bisa membuktikan apa apa. Karena yang tidak kau ketahui selama ini adalah kau hanya anak pungut yang di besarkan oleh keluarga Harimaja, aku adalah saksinya, aku berani bersumpah aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri dia(menunjuk Kinan) bayi merah yang Hari bawa dua minggu setelah kepergian mendiang Nayla Zia. Kau! apa jangan jangan kau anak hasil selingkuhan Hari?" mendelik penuh caci.


Keadaan semakin memanas.


"Tidak, ayah ku tidak mungkin serendah itu, dia terhormat, dia laki-laki yang baik!" Bantah Kinan, tak terima.


"Aku yakin ada sesuatu yang tanteu Mina sembunyikan dari kita semua" -Aim


"Lalu siapa kau sebenarnya? Kenapa kau muncul diwaktu penyerahan saham akan dilakukan?. Siapa kau sebenarnya?, Kau mau menipu kami?" Kali ini Rania mulai angkat bicara.


"Kami tidak akan tertipu, karena kau bukan Amira!" Teriak Mina.


Kinan diam sesaat, mencoba meredam emosinya, "Mama Mina," sebut Kinan dengan nada dingin "Apakah ini alasan Mama mengganti Nama ku?"


Mina jadi kalap, namun Mina yang licik memiliki sejuta wajah untuk menyembunyikan kebohongan.


"Yang aku ingat ayah selalu memanggilku dengan Nama Amira? Tapi setelah ayah meninggal, Mama mengubahnya menjadi Kinan, Mama 'kan yang menukar nama kami? Apa Mama sengaja melakukan ini untuk mengelabui banyak orang?. Atau apa karena Mama sudah tau ayah memiliki saham yang akan ia wariskan kepada anaknya yang bernama Amira?"


"Kau fikir aku serendah itu?" Bentak Mina tak terima.


"Tapi 23% saham itu tidak sedikit, harta sebanyak ini pasti akan mengubah seseorang menjadi jahat, manifulatip da pembohong, atau bahkan menjadi pencuri" sindir Aim.