
"Kinan" Aim berkata dengan sangat lembut. Diusap rambut Kinan yang sedikit berantakan.
Dimulai dari pucuk kepala mata Aim terus berjalan memperhatikan setiap jengkal tubuh Kinan tanpa ada yang terlewat, lalu saat turun diarea perut mata Aim berhenti, menatap dengan teduh sesuatu yang tumbuh dibalik perut Kinan. Dengan harapan benih itu miliknya
Ini terdengar bodoh namun Aim amat mengharapkannya. Kalo boleh egois Aim menginginkan janin itu hadir sebagai putranya untuk membuktikan diri bahwa dia baik baik saja, tidak impoten seperti pengakuan Shina.
Tangan Aim tiba tiba bergerak dengan sendirinya membelai perut Kinan yang masih belum berbentuk tanpa perintah.
Menyentuh perut Kinan tangan Aim bergetar, ada sebuah harapan yang tibul dihatinya, "Aku harap anak yang kamu kandung ini anak kita Kinan, andai itu terjadi aku akan mempertaruhkan apapun demi kalian, seandainya dunia milikku demi kamu aku rela menukarnya" Aim terus menatap perut Kinan dengan segenap perasaan yang dia miliki...
Entah kenapa saat mendengar Kinan mengandung perasaan Aim tiba tiba terasa hangat dan penuh semangat meski belum tentu anak yang dikandung itu anak kandungnya tapi Aim sangat bahagia dia tak pernah sebahagia ini sebelumya. Perasaan yang dirasakan itu seperti burung terlepas dari sangkar lalu melayang dialam bebas.
Pagi menejalang, ayam jantan berkokok bersahutan seiring fajar menyingsing diutara Kinan pun mulai terbangun, matanya memicing beberapa saat perlahan dan pelan pelan terbuka.
Menghela nafasnya dengan teratur. Tidur malam ini seperti tidur dalam mimpi, dalam mimpi itu banyak hal buruk menimpanya tapi biar begitu Kinan merasa tak bisa terbangun dari mimpi menyeramkan itu.
Kinan kembali menghela nafasnya dengan teratur mencoba membuang semua lintasan mimpi buruk dari fikirannya.
Dalam mimpi itu Kinan melihat seseorang sedang memperdayanya tapi beruntung seorang lelaki datang dan menolong dirinya.
Setelah beberapa saat mengumpulkan kesadarannya Kinan mengedarkan pandangannya kesekeliling, tempat yang berbeda, ini bukan kamar besar miliknya dahulu atau kamar sepetak yang dimilikinya sekarang, kamar ini terlalu luas dan megah juga artistik Kinan tidak pernah memiliki kamar seindah ini sebelumnya.
Kinan terus memandang penuh tanya kamar itu.
Kinan tersenyum kagum sambil beringsut berniat mencari tau pemilik kamar yang ditempatinya sekarang juga berniat mencari orang yang membawanya ketempat ini Kinan sungguh merasa tidak mungkin datang sendiri.
Kinan merasa penasaran siapa yang membawanya ketempat seperti ini.
Saat sedang beringsut tidak sengaja tangan Kinan menyenggol sesuatu, "Apa?" Kian terkejut "Dikamar ini ada orang lain?" tanya Kinan saat tidak sengaja tangannya menyentuh rambut seseorang.
Kinan menyadari diatas kasur ini tidak hanya dia sendiri tapi ada orang lain, Kinan menoleh dengan hati hati sepenuhnya merasa enggan melihatnya, Kinan terlalu takut, takut kejadian beberapa minggu yang lalu terulang kembali.
Kinan meringis mengingat ingat saat terakhir sebelum dia terlempar ketempat ini, saat telah yakin dirinya tidak sedang menenggak alkohol seperti saat itu Kinan menghela lega.
Dengan hati hati Kinan memberanikan diri untuk melihat orang tersebut, meyakinkan diri sendiri kalau tadi malam tidak terjadi apa apa pada dirinya.
Kinan sangat berharap siapapun yang akan dilihatnya masih dalam keadaan berpakaian lengkap.
Kinan menoleh dengan was was.
Manik mata Kinan menangkap seorang lelaki duduk tidur tengkurap memeluk perutnya, wajah itu tidak begitu familiar tapi Kinan yakin sebelum ini pernah melihatnya.
Kinan akhirnya menghela lega.
"Siapa dia?" Kinan memperhatikan dengan seksama, wajah ini yang tadi ada dimimpinya, Kinan terdiam sejenak "Orang ini? aku kira hanya ada dalam mimpi" Dia kembali teringat saat terakhir sebelum tidak sadarkan diri.
"Dirga" Kinan bergumam getir karena teringat kejadian menakutkan yang menimpanya tadi malam "Jadi tadi malam bukan mimpi?" Kinan termenung penuh fikir. Benar tadi malam Kinan melihat wajah ini sekilas, dan keberadaannya saat ini membuktikan tadi malam telah terjadi sesuatu pada dirinya, dia adalah dewa penolong yang menyelamatkannya dari terkaman iblis.
Kinan menatap wajah Aim yang masih terlena diambang kesadaran "Terima kasih. Ini memang tidak sepadan, saat kamu melihat senyumku nanti kamu akan tau betapa aku sangat ingin melakukan hal lebih dari sekedar berterima kasih untuk membalas kebaikanmu"
"Tapi... siapa dia? Kenapa tidur di sini?" Kinan terus memperhatinya dari dekat "Apa dia yang membawaku kesini?"
Kinan kembali meneliti wajah kelaki yang tengah terbenam dalam mimpinya,
Awalnya Kinan berniat membangunkannya untuk menanyakan apa yang telah terjadi padanya, "Sepertinya dia sangat lelap" Kinan bergumam, melihat lelapya Aim tertidur Kinan mengurungkan niat untuk membangunkannya.
Senyum kagum terbit dibibir Kinan, semakin diperhatikan wajah ini ternyata semakin ditemukan celah ke tampanannya, kulit putih hidung mancung Kinan tidak tahan untuk tidak menyentuhnya bulu mata indah melentik sempurna, dalam hati Kinan bergumam terpesona 'Seindah inikah ciptaan tuhan?' tak bisa terkontrol tangan Kinan merayap menyentuh bulumata dan mengelus bulu alis Aim yang hitam sedikit tegas, Kinan tersenyum gemas dalam hati tak bisa berhenti mengagumi wajah rupawan itu.
Drrrtttt.. Drrttt..
Keasikan Kinan terusik oleh dering handphonenya yang berdengung terus menerus Kinan segera menidal khawatir suara itu akan membangunkan Aim.
Saat dilihat ternyata Amora,
"Kenapa lama sekali? Kamu kemana? Tau nggak sih aku khawatir?!" teriak Amora membuat gendang telinga Kinan terasa nyeri, Kinan reflek menjauhkan handphone dari telinganya.
Rupanya saat ini Amor sedang berdiri mondar mandir didepan kos kosan yang Kinan tempati, tak jauh dari Amora beberapa polisi berkerumun mengecek TKP, ada beberapa rentang garis polisi yang Amora lihat disana.
Saat pertama kali melihat itu fikiran Amora langsung tidak baik, pasalnya dari yang ia dengar tadi malam telah terjadi perundungan kepada seorang perempuan dilakukan oleh pemabuk.
Amora tau betul perempuan yang seharusnya lewat itu adalah Kinan.
Amora semakin panik tatkala datang ke kos kosan Kinan dan tempat itu kosong.
"Mor gue" Kinan berkata dengan sangat pelan khawatir membangunkan lelaki yang sedang tertidur pulas.
"Posisi loe dimana biar gue jemput, loe baik baik aja kan? nggak kenapa kenapa'kan?" Amora memberondoli Kinan dengan beberapa pertanyaan.
Menatap kesekeliling tapi masih tak menemukan jawaban karena dia juga tidak tau posisinya dimana?.
"Nan, kenapa nggak langsung jawab aja? tinggak bilang kamu dimana, Apa susahnya sih?" Amor terus berteriak khawatir sampai sampai tak memberi ruang untuk Kinan menjelaskan keberadaannya.
Kinan menghela kecil, "Mor tunggu dulu, jangan terus bertanya biar aku jawab satu persatu oke" ucap Kinan setengah berbisik.
"Kamu lagi ngapain sih? Kenapa bisik bisik? Ayo jawab sekarang! Kamu lagi dimana dengan siapa dan ngapain?. Dimana kamu? biar aku datang jemput sekarang juga."
Kinan kembali berdecak kali ini dia benar benar habis cara untuk menghentikan pertanyaan Amora Kinan juga kesulitan harus menjawab pertanyaan yang mana dulu.
Kutipan Novel You Are My Life.
"Terima kasih, Ini memang tidak sepadan, saat kamu melihat senyumku nanti kamu akan tau betapa aku sangat ingin melakukan hal lebih dari sekedar berterima kasih untuk membalas kebaikanmu"