Oh My Boss.

Oh My Boss.
48



Mila tampak meragukan Heru.


Meniliknya penuh perhati dan memindai, apa bisa mengandalkan utusan Kinan ini.


Mila menimbang beberapa saat, menidal nomor Kinan berkali kali, tetapi sayang tidak tersambung.


"Apa saya bisa mempercayai Anda?" Tanya Mila masih meragui.


Aim/Heru mengangkat sebelah alisnya "Itu terserah anda, saya hanya bisa melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan, selebihnya kurang Ibu yang menilai saya"


"Kapan Kinan akan memiliki waktu senggang?" -Mila.


"Saya tidak bisa menjawab. Karena beliau telah memutuskan untuk tidak menemui ibu, saya rasa kedepannya klien saya akan melakukan hal sama. Boleh saya tanya sesuatu?"


Mila mengangguk.


"Beliau sepertinya enggan menemui Ibu, apa mungkin ibu punya sesuatu yang mengecewakannya?"


Sejak dulu Aim penasaran akan batalnya pernikahan Kinan dan Dirga, dari Mila mungkin dia bisa mendapat jawaban yang dia inginkan, selain itu Aim ingin memastikan antara Kinan dan keluarga Dirga sudah tidak ada kontak hubungan lagi.


Mila langsung menunduk penuh salah, "Ya, keluarga kami sangat bersalah, terutama Dirga, Dirga menghamili sahabat Kinan dan memutuskan menikahinya dihari yang sama, dihari dimana Kinan merencanakan hari bahagianya dengan Dirga."


Saat bercerita Mila berulangkali terdiam menahan sesak didadanya, jujur kegagalan pernikahan itu Mila masih menyayangkannya.


"Kami tidak menduga itu sampai sekarang, tapi apa boleh buat kami tidak bisa menolak takdir, dan juga tidak mungkin menolak Hanna dan kehamilannya meski sampai sekarang kami masih mengharapkan Kinan"


Aim sedikit terkesiap mendengar perkataan Mila.


Seperti ada yang menyerang dirinya, merasa tersaingi dan ada lawan.


"Pertemuan yang Ibu minta ini ada sangkutannya dengan kegagalan pernikahan itu?"


Aim berfikir Mila akan membujuk Kinan untuk menjadi menantunya.


Mila menggeleng kecil, "Memilih mengakhiri hubungan adalah keputusan yang telah Kinan ambil, kami akan menghormatinya. Tapi Nak Heru ada hal penting lain yang ingin aku bicarakan dengan Kinan, untuk itu tolong agar Nak Heru membantu menjadwalkan pertemuan untuk kami berdua, ini sangat penting saya harap Nak Heru mau membantu saya membujuk Kinan."


Mila tampak begitu serius ingin menemui Kinan, hal ini membuat Aim benar benar penasaran.


"Mohon maaf sebelumya, tapi bolehkah saya menanyakan satu hal?"


Mila mengangguk, "Ya, silahkan"


"Kira kira menurut ibu saya ini siapanya Kinan?" -Aim.


"Pengacara?" Mila menerka. Dan Aim menggeleng.


"Bukan"


"Saya hanya perwakilan yang diutus Kinan. Saya rasa dia masih keberatan untuk bertemu dengan siapapun yang ada sangkutannya dengan Dirga, ibu mengerti bukan? jadi meskipun saya berusaha mengatur waktu untuk ibu dan Kinan keputusan akhirnya tetap sama, saya yakin ibu lebih paham situasi Kinan saat ini" -Aim.


Mila mengangguk paham.


"Baiklah, yang dikatakan Nak Heru memang ada benarnya, kalau begitu tolong sampaikan kepada Nak Kinan, sampaikan ajuan permohonan keluarga saya agar Nak Kinan bersedia menarik gugatan hukum yang dilakukannya kepada anak saya, Dirga," Aim sedikit tercengangang mendengar permintaan Mila.


"Jadi ini alasan dia melakukan pertemuan dengan Kinan?" Batin Aim, "Aku fikir dia peduli dengan Kinan, nyatanya karena ada maunya. Kinan, kamu ternyata sangat menyedihkan, hidup dikelilingi orang orang munafik yang mencintai tapi memanfaatkan mu, mereka juga mengkhianatimu" Aim sungguh merasa miris.


"Gugatan? Jadi Kinan pernah mengajukan gugatan kepada Dirga?" Aim pura pura pura tidak tau, "Kasus apa?"


"Masalah sepele," mendengar Mila menyepelekan masalah yang menimpa Kinan Aim mulai geram. "Gagalnya pernikahan itu membuat Kinan merasa dirugikan, dia lalu mengajukan gugatan dengan skema ajuan 'Perbuatan tidak menyenangkan' kekakanak kanakkan bukan?. Untuk itu mewakili Dirga saya mengajukan permohonan damai dan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Saya paham kalau Nak Kinan merasa dirugikan, tapi dalam hal ini putra kamilah yang sangat dirugikan, untuk itu lewat Nak Heru saya mohon dengan sangat sangat agar Nak Kinan bersedia menarik kembali gugatannya."


Sungguh Dirga adalah lelaki yang pandai memanipulatip keadaan.


"Ooo" Aim ber Oh sambil mengangguk angguk kecil meremas jari jemarinya seolah mengerti kerugian Mila atas ajuan yang dilakukan Kinan, "Ini memang sangat kekanak-kanakan, saya pun berfikir bagitu"


Mila tampak senang karena secara tidak langsung Aim telah menyutujui pendapatnya. "Tapi, apa Ibu Mila sudah yakin akan hal itu? Jangan jangan yang Ibu fikirkan tidak sesederhana yang terjadi dan tidak sesepele yang Ibu kira,"


Mila berkerut penuh tanya, "Apa maksud Nak Heru ini?"


"Apa Ibu tau detile permasalahan yang menimpa Kinan dan Dirga?" Mila terdiam tak menjawab, "Saya fikir Ibu tidak mengetahui apa apa, untuk itu ibu berani mengatakan kalau masalah Kinan ini masalah sepele, benar bukan?"


Mila terlihat berfikir, diakhir mengangguk mengiakan dan Aim sudah tidak bisa menahan diri.


Mila memang tak banyak tau alasan kenapa Dirga harus mendekam dipenjara karena memang Dirga tidak pernah terbuka akan hal itu, Dirga hanya berpesan agar meminta Kinan segera menarik gugatannya, sementara Dirga hanya mengatakan kalau Kinan menggugatnya dengan skema 'Perbuatan tidak menyenangkan'


"Tapi sebelumnya saya mohon maaf .. Saya tidak bisa mengabulkan permintaan Ibu, saya keberatan untuk menarik kembali surat ajuan penahanan yang sudah saya serahkan kepada pihak yang berwajib,"


"Loh kenapa?"


Mila terkejut akan keterberatan Heru akan permintaanya.


"Sebelum ibu bertanya kepada saya, lebih baik ibu tanyakan secara jelas apa yang telah dilakukan anak ibu kepada saudari Kinan, lalu setelah Ibu tau giliran saya mengajukan pertanyaan, apa perlu saya menambah skema baru untuk memperpanjang masa tahanan? Atau memberikan kesaksian yang akan meringankan hukuman?"


"Nak Heru! Jangan sekali-kali membuat saya bingung!" Bentak Mila, "Lagi pula saya tidak meminta pendapat anda, saya juga tidak mengundang anda datang kemari, yang saya mau hanya Kinan, dimana dia?" Teriaknya.


"Ibu Mila, jangan sekai-kali menyebut Kinan, karena yang memenjarakan Dirga bukan Kinan, tapi saya Bos kami yang meminta, skema 'Perbuatan tidak menyenangkan' itu saya yang buat bukan Kinan"


"Kenapa harus kamu? Apa hubungan kamu dengan Dirga? Apa salah dia sehingga kamu dengan tidak punya hati memenjarakan dia. Kamu tau? Sebentar lagi dia akan punya anak! Bagai mana jika anaknya nanti harus lahir tanpa didampingi sang Ayah" Mila berteriak teriak.


"Yang dia lakukan kepada Bos saya tidak banyak, dia hanya sedikit menggores tulang pipinya, itu pun tidak parah, jadi kapan saja ibu ataupun saya bisa mengeluarkan Dirga dari penjara dengan mudah, tapi.. jika saya melaporkan perbuatan keji yang dilakukan Dirga kepada Kinan sampai kapan pun Ibu tidak akan bisa mengeluarkan anak ibu dari balik jeruji besi dengan mudah. Harusnya ibu berterima kasih kepada saya, karena saya telah mengajukan skema ringan untuk hukuman Dirga, jadi masa penahanannya pun mungkin bisa sedikit ringan. Tapi ingat! Sekali saja ibu mengusik Kinan saya pastikan bukti bukti serta skema penahannya akan saya tambah beberapa kali lipat.


Untuk itu dalam masalah ini saya minta ibu jangan pernah melibatkan Kinan, karena yang memenajarakan anak ibu itu saya. Kinan mana punya kemampuan melakukan hal seperti ini, tapi ibu tau saya bisa!"