Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.34



Setelah mematung menatap rumah dengan hampa kini setelah beberapa menit kemudian Kinan memutuskan pulang.


Sepanjang perjalanan Kinan tidak bisa berhenti memikirkan ucapan Mina, selama itu Kinan tidak bisa berhenti sedih, air mata pun akan tiba tiba berurai kala teringat kembali pada ucapan Mina..


Seratus meter sebelum kos kosan Kinan telah menghentikan angkot yang ditumpanginya.


Untuk menghilangkan kesedihannya Kinan memutuskan turun didepan sebuah mini market, memilih beberapa merek mie terpedas yang tersedia ditempat itu. Kinan ingin melupakan kesedihannya dengan memakan makanan yang ia sukai.


"Lebih baik sekarang aku makan makanan pedas saja dari pada terus bersedih oleh kata kata pedas" kata Kinan sambil memasukkan mie yang dia inginkan kedalam keranjang.


Kinan berulangkali terlihat menyeka air matanya,


Setelah merasa cukup Kinan lalu membawa keranjang ke kasir, menghitung lalu menyerahkan kartu ATM, melakukan pembayaran.


Sang kasir terlihat beberapa kali menggesekkan Atm pada mesin kecil dihadapannya.


"Maaf, kartunya tidak bisa digunakan untuk pembayaran" kata si penjaga kasir.


"Ahh?" Kinan mengernyit tidak percaya. "Boleh ulangi sekali lagi?"


Sang penjaga menuruti kemauan Kinan, diakhir dia menggeleng karena Atm yang diserahkan Kinan ternyata tidak berfungsi.


"Maaf, boleh menggunakan uang tunai? Mungkin masalah teknisi, kartu ini tidak bisa digunakan" kata penjaga sedikit ketus.


Kinan menggeleng...


"Kartunya tidak mungkin kosong'kan?" Tanya Kinan.


Penjaga menyerahkan kartu milik Kinan. Menggeleng kecil "Sepertinya tidak berfungsi"


"Mana mungkin, tiga hari yang lalu aku baru mendapat transferan buktinya juga ada" Kinan menunjukkan pesan m.banking yang beberapa hari lalu telah diterimanya, "Kau lihatkan?"


Sang penjaga kasir tetap mendesak Kinan untuk menerima kartu miliknya.


"Lalu belanjaan ku? Kau ceklah lagi barangkali sistemnya sekarang sudah membaik" kata Kinan.


Sang penjaga mendelik malas "Belanjaan mu Bisa tinggalkan disini, atau kembalikan ketempatnya" kata penjaga mulai berwajah merasa kesal.


"Tapi aku menginginkan ini" kata Kinan.


"Berikan uang tunai dan kau bisa membawa belanjaanmu pulang," ucap penjaga dengan sinis.


"Tapi aku tidak punya uang tunai,." Kinan menerimanya dengan berat. "Baiklah.. tunggu sebentar biar aku cek didepan, barangkali mesin ini eror."


Sang penjaga kasir merampas tas belanjaan Kinan dengan kasar.


"Tinggalkan barang mu dan segera pergi!. Cepat! Kau memperlambat antrean" pekiknya membuat Kinan terkejut.


"Baik"


Dengan berat Kinan melepaskan tas kecil yang dipertahankannya dari rebutan sang kasir. Kinan berniat pergi ke Atm yang tak jauh dari mini market itu.


"Tau nggak punya duit so so'an mau belanja ditempat seperti ini, kenapa nggak nyari warung pengkolan aja, biar sekalian bisa ngutang." gerutu Sang Kasir pelan dengan menekan kalimat terakhir. tapi Kinan masih bisa mendengarnya.


Ditengah itu.


"Berapa uang yang harus dia keluarkan?" Seorang lelaki dengan setelan kemeja rapi meng asongkan beberapa lembar uang. Kinan menoleh kearahnya.


Kinan terbelalak "Bos" Aim yang telah bediri di samping Kinan hanya menoleh sekilas, wajahnya muram penuh kekesalan.


"52,500" kata penjaga. Saat tau siapa yang bicara dengannya si penjaga langsung menunduk segan.


Penjaga mengambil selembar uang dari tangan Aim dengan hati hati dan sopan.


"Ambil semuanya" kata Aim dingin.


"Bos, tidak perlu seperti ini" Kinan tidak setuju.


Karena penjaga hanya mengambil selembar, Aim meletak'kan semua uang yang dipegangnya diatas meja dengan sedikit kasar, "Ini, kau ambil semuanya!"


"Booss" Kinan mencoba membujuk dan menenangkan. Khawatir Aim akan membuat keributan. Kinan melihat bosnya itu geram. Melihat sang penjaga juga sudah terlihat ketakutan.


"Lain kali kau tak boleh berbuat lancang! Bersikaplah baik kepada semua orang atau aku adukan kau kepada manager mu." Spontan penjaga kasir bergidik ketakutan dengan ancaman Aim.


"Petugas! Petugas!" Aim berteriak, lalu tiga petugas menghampiri dengan terbungkuk segan.


Kinan memperhatikan sekeliling yang tampak enggan mengangkat bahunya didepan Aim. Saat itu Kinan sadar posisi tinggi yang Aim miliki.


"Bos sudah, kita pergi saja" Kinan mentarik-tarik tangan Aim, namun Aim tidak bergeming.


Kinan menoleh kesekeliling dan dia mulai merasa canggung.


"Panggil manager kalian!" Titah Aim. Tanpa bantahan dua petugas menuruti perintah Aim.


Sang penjaga kasir mulai panik dan pucat.


"Bos, kenapa harus sampai begini? Jangan berlebihan, lagi pula ini masalah kecil tidak perlu dibesar-besarkan." Kinan terus membujuk tapi Aim pura pura tuli.


Manager pun datang dengan membungkuk segan dihadapan Aim.


Aim melirik name tag pelayan tadi, "Kalau tidak mau kehilangan pengunjung, didik pelayanmu dengan baik! perhatikan!.


Dan singkirkan pelayan seperti dia," Aim menunjuk Lina, sang manager menoleh kecil kearah Lina, terlihat Lina menunduk bersalah. "Sebelum toko mu ini mendapat predikat Swalayan terburuk diKota ini," tegas Aim.


"Kami minta maaf Bos, kami minta maaf!" kata Manager sungguh sungguh, "Kami janji akan mendidik karyawan kami dengan ketat,"


"Minta maaf padanya" Aim menoleh kearah Lina dengan tatapan dingin, "Minta maaf padanya!" Aim kali ini lebih tenang.


Kinan menggeleng menolak permintaan maaf yang harus dilakukan Lina terhadapnya.


"Tidak perlu, tidak perlu, aku sudah memaafkannya" tolak Kinan.


Manager terus membungkuk, sekilas menoleh kearah Lina memberi isyarat agar Lina segera meminta maaf.


"Saya minta maaf Tuan, Nyonya. Tolong maafkan ke lancangan saya!" Pinta Lina sungguh bersungguh. Lina masih belum berani mengangakat bahunya.


"Pecat dia!" Kata Aim datar.


Lina langsung berlari kehadapan Aim berlutut memohon ampunan.


"Saya mohon jangan pecat saya Tuan! Saya mohon! Saya mohon Ampuni saya! Saya bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi"


"Siapa yang tau kau akan mengingkari ucapan mu sendiri?" sanggah Aim tak percaya.


"Saya bersumpah akan memperbaiki diri, saya berjanji, tolong beri saya kesempatan" Lina terus memohon membuat Kinan merasa iba.


"Bos, tolong jangan pecat dia beri dia kesempatan," Bujuk Kinan dengan wajah memelas memohon.


Aim menatap lekat wajah Kinan yang sedang membujuknya, persis bocah kecil yang sedang meminta dibelikan peremen karet oleh pamannya. Aim diam diam tersenyum gemas melihat wajah itu.


"Keputusanku sudah bulat, dia harus dipecat!"


Kinan menyatukan kedua tangannya penuh permohonan, "Bos aku mohon jangan lakukan itu, kita lupakan kejadian hari ini anggap tidak terjadi apa apa, oke"


"Kinan, kau tidak boleh melakukan itu. Kalau tidak, orang orang akan semena-mena terhadapmu. Siapapun dia, orang salah tetap salah, harus diberi sanksi tegas," terang Aim, Kinan langsung mengatupkan bibirnya. Berfikir ingin menyerah untuk mendebati Aim.


Tapi melihat wajah memelas sang pelayan Kinan berfikir dua kali.


"Bos, sebenarnya aku juga salah," Kinan berkata dengan suara lirih, "Aku bersikeras menginginkan belanjaan ku, dan aku terus tidak mempercayai dia yang mengatakan kalau ATM ku bermasalah, aku terus ngeyel dengan memintanya mengecek kembali kartuku, dia berulangkali mengecek dan aku terus merasa tidak yakin kalau kartuku itu tidak bisa digunakan, sudah selayaknya dia kesal. Untuk itu aku mohon maaf kan dia, aku mohon beri dia kesempatan."


"Apapun alasannya, dia tetap harus mendapat sanksi" tegas Aim.


"Kalau aku yang ada diposisi dia apa Bos juga akan melakukan hal yang sama?" tanya Kinan.


Aim langsung diam tak memberi jawaban.