Oh My Boss.

Oh My Boss.
151



Keesokan harinya, Dirga benar benar datang, namun bukan untuk menandatangani kontrak kerja, melainkanbahas akuisi yang sebelumnya Aim bahas, akhirnya Dirga memilih akuisi dibanding menceraikan Hanna.


Dirga terpaku ketika melihat Kinan berada didalam perusahaan LK.


Dirga sempat memantau Kinan yang tampak serius dengan pekerjaanya.


Setelah itu Dirga bergegas menuju ruangan wakil CEO dengan fikiran menerka-nerka.


'Benarkah lelaki yang ia lihat malam tadi adalah pemilik perusahaan?' jika bukan, sungguh Dirga berniat akan mencelanya sampai mati.


Di dalam kantor Amira melihat Dirga sedang melakukan perjalanan menuju ruangan Aim dan tampak sedang mencari sesuatu.


"Dirga" gumam Amira, mata Amira berbening terang ketika melihat Dirga.


"Hah siapa?" Tanya teman yang Amira dapatkan setelah bekerja di perusahaan Lk.


Teman di samping Amira mengikuti arah mata Amira tertuju, kepada seorang lelaki tampan dengan pakaian yang mewah.


"Lelaki itu? Kau mengenalnya?" Tanyanya kemudian.


"Ia," jawab Amira cepat.


"Siapa dia?"


"Dia suami ku" jawab Amira dengan bangganya.


"Dia datang ke sini apa untuk mencari mu?" Selidiknya penasaran.


"Tentu saja ia" jawab Amira penuh percaya diri, "Kami sedang saling marah aku lari dari rumah, dan sekarang dia datang untuk membujuk ku"


"Mm so sweet" teman di samping sangat terkagum oleh lelaki yang di ceritakan Amira.


"Dia kadang menyebalkan tapi dia sangat mencintaiku.


Dia tampak kebingungan mencari ku, apa aku samperin di aja kalinya" menoleh kepada teman untuk meminta saran.


"Samperin aja yuk, sekalian kenalin aku sama dia" ajaknya antusias.


"Kamu benar juga" sambut Amira, "Kalau begitu yuk" Amira menuntun temannya lalu bergegas mendatangi Dirga yang saat ini tampak kebingungan.


"Kamu percaya nggak kalau dia romantis?" teman Diam tak memberi jawaban, lalu Amira antusias untuk memberitahu alasan suaminya Romantis.


"Hai Dir" Amira menyapa dengan penuh percaya diri akan di sambut dengan baik oleh Dirga.


"Amira" sapa Dirga, "Ngapain di sini?" Tanya Dirga tampak tidak peduli pada kehadiran Amira.


Teman di samping Amira hanya melongo bingung dengan pertanyaan Dirga yang terdengar tidak seperti seorang suami yang romantis, padahal dia membayangkan adegan saling peluk dan cium yang menggemaskan.


"Dir," Amira pun tampak terkejut dengan reaksi datar Dirga, "Ngapain di sini tanya mu Dir? Harusnya aku yang bertanya ngapain kamu di sini?".


Amira keheranan, "Ya ini perusahaan aku mau apapun yang aku lakukan di sini ya terserah."jawab Amira pasti,


Dirga berfikir sesaat.


"Kamu yang punya perusahaan ini?. Kenapa nggak pernah cerita?" Dirga sangat menyayangkan hal itu.


"Ya, karena aku pengen terlihat sederhana," Amira merendah diri dan mencebik kesal karena ternyata Dirga tidak menyambut hangat seperti yang di harapkannya.


Dirga mengangguk seadanya, tampak wajah kurang yakin.


Teman di samping terlihat canggung dengan percakapan Amira yang ternyata diluar ekspektasi.


Teman berfikir Amira pasti sangat kecewa.


"Kalau gitu aku masuk dulu ya," pamit Dirga lalu melengos meninggalkan Amira dengan wajah Datar, tak terlihat rasa rindu sedikit pun dalam wajah Dirga


Sebaliknya tatapan rindu malah Dirga tunjukkan kepada Kinan. Kinan kebetulan berada di tempat yang sama, memeluk berbagi dokumen penting yang hendak ia serahkan kepada Aim.


Namun saat melihat Dirga Kinan memasang wajah datar dan tak perduli, meski Dirga sempat memanggilnya beberapa kali.


masuk kedalam ruangan Aim, Kinan tidak lupa mengetuk pintu, setelah di persilahkan Kinan lantas masuk.


"Sayang" Aim langsung menyambut dengan merentangkan tangannya.


"Sttt ini kantor" Kinan menepis tangan yang ingin bermanja, Kinan tak perduli meski Aim memasang wajah masam karena permintaan di tolaknya.


"Siapa yang peduli" Aim mengikuti Kinan yang duduk di sofa.


Saat Kinan duduk Aim langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Kinan.


"Mas kamu apa apaan si?" menyingkirkan Aim dari pangkuannya.


"Sayang, bisa diam gak?" Aim merengek kesal dan semakin erat memeluk paha Kinan.


"Aku tidak tanggung jawab kalau sampai ada orang melihat kelakuan kamu Mas"


"Tidak perduli, lagi pula kita ini pasangan sah, bermesraan seperti ini juga bisa dilakukan di mana saja, lagi pula kamu bukan selingkuhan yang harus aku sembunyikan. Coba terangkan apa yang kamu dapatkan?" perintah Aim. Yang Aim maksud adalah tentang dokumen kepemilikan saham LK atas nama Harimaja.


Kinan lalu membeberkan apa yang ia temukan, sementara Aim mendengarkan dengan cermat.


Di tengah Kinan menjelaskan rinciannya, Aim tiba tiba mendapat telpon dari orang suruhannya, sebelum ini Aim memang mengutus seseorang untuk mencari data Kinan dan Amira, namun orang suruhan itu gagal mendapatkan informasi yang Aim ma.


Setelah berbincang sebentar dengan Kinan, Aim akhirnya mutuskan untuk ter DNA..


Aim segera menghubungi dokter yang ia kenal di sebuah Rumah sakit A yang cukup terkenal namun Dokter menyarankan untuk mencari tempat lain yang akan lebih bisa di percaya agar hasilnya lebih efektif.


Dokter yang Aim hubungi malah menyarankan untuk memanggil Dokter Ahli dari luar negri.