Oh My Boss.

Oh My Boss.
84



"Apa yang bisa kamu rasakan? apa makanannya tidak enak?" Tanya Kinan saat Aim hanya memainkan dan sedikit menyendok untuk mencicipi bubur yang disuguhkan Kinan. Malah mengedusnya berkali kali.


"Aromanya sangat enak, tapi rasanya pahit, pasti lidahku yang bermasalah, andai saja aku sehat pasti bubur ini rasanya sangat nikmat" menatap mangkuk berisi bubur dengan penuh kecewa.


"Tidak apa apa, mekanlah walau cuma sedikit, nanti saat kamu sudah sehat akan aku buatkan menu yang sama" -Kinan.


"Tapi mungkin akan terasa manis kalau kamu yang menyuapi aku, hem" Aim memberikan sendok yang dipegangnya kepada Kinan, "Aku akan makan kalau kamu menyuapi aku"


Mendelik, "Dih, manjanya kamu Bos," mengambil sendok yang di asongkan Aim, "Apa istrimu memperlakukan mu dengan manis setiap hari, sehingga kau ingin aku melakukannya juga?" Tanya Kinan penasaran. Padahal, mengenai pernikahan Aim dengan Shina Guna sudah menjelaskannya secara detile, namun Kinan sungguh penasaran, ingin pengakuan itu keluar dari bibir Aim langsung.


"Mm, yang aku lakukan kepadamu, dan yang kamu lakukan kepadaku tidak pernah terjadi pada aku dan Shina, dan percayalah! Yang aku rasakan kepadamu tidak pernah aku rasakan kepada Shina. Sekarang! Kamu tidak punya alasan untuk cemburu padaku, kamu tidak boleh cemburu saat orang lain membicarakan Shina, karena bagi aku dia tidak pernah ada" -Aim.


Kinan diam mencerna sesaat.


"Oh ia Bos, sudah waktunya meminum obat, aku ambilkan air hangat sebentar"..


Beberapa saat kemudian Kinan kembali dengan segelas air ditangannya.


"Aku bantu buka," ucap Kinan sambil merobek kertas obat sesuai yang dianjurkan Surya, Aim mengangguk dan tersenyum senangnya bukan main. Semua yang di lakukan Kinan pada dirinya adalah mimpi Aim sejak dulu.


"Aku mau pulang sekarang" pinta Aim penuh semangat sambil melahap obat yang di asongkan Kinan, melahap langsung dari tangan Kinan, Kinan meremang dibuatnya.


"Tunggu sampai Guna kembali, ok" -Kinan,


"Aku maunya sekarang, tapi kemarilah!" Aim menepuk tempat kosong disebelahnya, "Duduklah di dekatku."


Saat ini Kinan hanya bisa mengikuti,


Permintaan manja Suaminya, entahlah, padahal bukan wajah ini yang setiap hari Kinan temui di kantor. Dia (Aim) biasanya cuek dingin ditambah sedikit kaku, kesan elegan dan tegas terpancar tajam.


Kinan tidak pernah berfikir bisa menemukan sikap lain dalam diri Aim, sikap manja, cengeng dan yang paling parah adalah tidak mau ditinggal barang sejengkal pun, padahal Aim bukan lagi anak SD yang bisa merasa ketakutan ketika sendirian.


Sebelum sampai kedekat Aim, Kinan melihat layar handphone Aim menyala, panggilan dengan id name Guna menyalakan layar handphone.


Sekalian Kinan bantu mengambilkannya untuk Aim.


Panggilan diterima "Halo, Gun, ada apa?"


"Amira diperjalanan menuju ke sana" jawab Guna.


Aim langsung berubah Air mukanya, "Ngapain dia kesini? Kau memberi tahu dia kalau aku sakit?"


"Aku tidak memberitahunya. Amira bertanya dan aku hanya menjawab, itu bukan berarti aku memberi tahunya'kan?" -kilah Guna mengatakan dengan sangat datar,


"Gun, Loe sengaja membuat keributan ya? Lu,"


Guna memotong, "Sudah, terima saja dia, gue tau Lu seneng melihat Kinan cemburu 'kan? Jadi, biarkan Amira masuk dan buat Kinan cemburu, gue yakin loe bakal senang melihatnya, oke. Gue tutup dulu"


Panggilan telah terputus tetapi Aim belum menurunkan handphone dari telinganya, Aim terus berfikir bahwa yang dikatakan Guna ada benarnya, mungkin harus mengambil kesempatan untuk melihat lagi kecemburuan Kinan.


"Nan, Guna bilang Amira akan datang untuk menjenguk ku"


Spontan Kinan melayangkan tatapan tidak sukanya, "Kamu nggak apa apa 'kan?" Tambah Aim.


Kinan tampak kesal, "Kamu memberitau dia kalau kamu sakit?" Tanya Kinan dingin, namun aura kematian berdesir seiring ucapan yang keluar dari bibir Kinan.


"Tidak Sayang, Guna yang memberitahu dia. Amira, dia mungkin terlalu bersikeras untuk bertemu dengan aku, padahal aku tidak mengaharap kan dia datang, aku takut kamu cemburu. Tapi dia bukan perempuan yang bisa dihentikan dengan alasan," diam diam bahkan dengan ucapan yang sangat lembut Aim terus memanas manasi Kinan.


Kecemburuan mulai tertulis di dahi istri menggemaskannya.


Kinan tidak berbicara lagi, dia terlihat sangat kesal dibuatnya.


Ting tung ting tung,


Ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan istrinya kepada Amira.


Saat pintu telah dibuka Amira langsung nyelonong begitu saja, dia mengabaikan kehadiran Kinan didepannya.


"Aim," sapa Amira, so imut, "Kamu sakit apa? Apa kamu sudah pergi ke Dokter? Kalau belum aku bisa pergi menemani kamu" Sok perhatian.


Amira hendak duduk disamping Aim, namun Kinan langsung mendahuluinya.


"Tidak perlu, lagi pula Dokter Surya sudah mengeceknya" Kinan menjelaskan sambil melayangkan tatapan dingin.


"Terima kasih atas tawarannya, tapi sekarang aku sudah tidak memerlukan itu," -Aim, Kinan menoleh dengan tak suka kepada Aim. Tak suka Suaminya menanggapi permintaan Amira dengan sopan.


"Baiklah," tersenyum imut "Bos Aim ternyata orangnya sangat sopan dia bahkan menolak tawaran dengan sangat baik" Amira, dia sengaja datang untuk mencari perhatian dengan Aim.


"Ada perlu apa kamu datang kesini?" Tanya Kinan, judes. Amira tak menanggapi.


"Bos kamu harus melihat ini," Amira mendorong sebuah map untuk diteliti oleh Aim, meski sebenarnya Map itu hanya sebuah alasan agar bisa menemui Aim, "Aku sengaja datang karena ingin menyerahkan ini,"


Kinan terlebih dahulu mengambil berkas tersebut disaat Aim merongkong hendak mengambilnya.


Kinan lalu membuka dan membacanya.


"Kertas ini harusnya kamu kirim kepada defisi hukum bukan kepada Bos Aim"


"Ya, aku memang berniat mengirimnya kepada defisi hukum tapi sebelum itu aku membutuhkan saran dari Aim, barangkali ada yang harus aku ubah dan aku perhatikan lagi,"


"Aim? Tunggu, Amira bahkan lancang memanggil nama suamiku langsung, sok akrab, menjengkelkan" gerutu Kinan dalam batin.


"Baiklah, aku akan bantu melihatnya nanti," -Aim.


"Terima kasih, Im terima kasih" -Amira.


"Kinan, boleh ambilkan Air untuk tamu kita?" Pinta Aim. Kinan terpaksa mengiakan. Lalu menuruti permintaan Aim meski dalam hati sangat tidak senang.


Amira terus berbicara dengan Aim menganggap Kinan tidak ada dihadapannya.


Didepan Amira, Kinan terus menunjukkan kepemilikan dirinya terhadap Aim, tak membiarkan Amira mendapat kesempatan mendekati Aim sedikit pun.


Kinan terus memberikan penjagaan ketat.


"Kamu ada pulpen Mir?" Tanya Aim.


"Ada," Amira merogoh tas dan memberikan peulpen yang diminta Aim, memberikannya dengan gaya tubuh menggoda.


Kinan merampas lalu memberikannya kepada Aim.


"Terima kasih" Aim tersenyum kepada Kinan.


"Apa kamu harus terus bekerja? Kenapa orang orang tidak mengerti kalau kamu sakit?" Sindir Kinan.


"Tidak apa apa, ini nggak terlalu berat kok" tersenyum untuk meyakinkan Kinan.


"Oh ia Nan, kamu kenapa tidak pulang saja? Kau disini bukankah hanya akan mengganggu waktu istirahat Bos mu?" Tanya Amira. Amira tampak tidak senang dengan kehadiran Kinan disisi Aim.


"Tidak apa apa, lagi pula Guna menyuruh aku agar menjaga Bos Aim, lagi pula aku buka perusuh yang akan mengganggu istirahat Bos Aim" -Kinan.


"Ooh, cuma disuruh Guna, aku kira Aim yang minta" berkata lirih sambil memalingkan wajahnya ke sisi lain.


"Uhhh.." Amira mengipas-kipas tubuhnya menggunakan buku, Aim menoleh diikuti Kinan kemudian "Panas, kenapa di sini gerah sekali" ucap Amira sambil membuka satu kancing bajunya, "Apa kalian tidak menyalakan Ac?" Tanya Amira, mengerak gerakkan baju dan sengaja menamerkan belahan dadanya.