
**Author ingin menyapa.
Tinggalkan komen agar bisa saling menyapa.😍😍😍
Author Cinta kalian semua🥰
terima kasih telah mengunjungi lapak sederhana ini**.
Arman mendorong kertas yang sempat di asongkan Aim."Tes yang mengandalkan kemiripan fisik? Kamu melakukan tes ini seolah olah telah menemukan anak Harimaja?" Arman menggeleng "Ayah tidak bisa meyakini itu Im"
"Aim tidak sedang meyakinkan ayah, Aim juga tidak memaksa ayah untuk percaya dan yakin kalau Kinan adalah anak Om Hari, tapi setidaknya ayah lihat dulu perbedaan antara Kinan dan Amira, juga persamaan yang kita dapat dari Om Hari dan istrinya pada keduanya. (Kian. dan Amira)"
Aim kembali menyodorkan kertas yang sempat ditolak Arman, "Ini adalah sembilan warisan genetik seorang ayah kepada putrinya juga sembilan warisan genetik ibu kepada Anaknya. silahkan ayah perhatikan baik baik. Aim rasa Ayah cukup dekat dengan Om Hari dan juga mendiang istrinya, setidaknya tidak akan sulit untuk membandingakan baik dengan Kinan atau dengan Amira"
Arman lalu menerima kertas itu dengan tidak yakin, "Membantu atau tidaknya tes ini ayah tidak akan bisa yakin. Tapi setidaknya ayah bisa membuktikan kalau tes ini tidak ada gunanya"
"Baik, kalau ayah tidak yakin dengan tes ini. Toh ayah sudah tau mana Amira dan mana Kinan, kalau begitu apa yang harus Aim selidiki Aim anggap selesai, tugas Aim selesai dan Ayah tinggal serahkan warisan itu, mudahkan?"
Arman menatap Aim sambil mempertimbangkan ucapannya.
Tapi sejauh ini Arman tidak bisa yakin kepada Amira.
Amira yang pernah ia lihat 20tahun yang lalu cukup berbeda dengan Amira yang ia temui setelah dewasa sekarang.
"Ayah mungkin perlu melihat ini. Kamu duduklah disana sebentar"
Setelah itu Aim beralih duduk ke kursi yang lebih luas, terdapat didalam ruangan tersebut.
Aim duduk bersandar dengan kaki merebah semau dia.
Berulang kali mengecek handphonenya, ingin menghubungi Kinan, menanyakan apa yang dia kerjakan sekarang. Ingin tau apa yang perempuan itu lakukan didalam apartemennya.
Membuka dan menutup handphonenya dengan gundah.
"Apa yang sedang dia lakukan sekarang,? apa dia tidur? menonton telvisi? atau, makan?. Pasti Kinan sangat menggemaskan," fikir Aim.
Banyak alasan untuk Aim bisa tau apa yang sedang Kinan lakukan saat menelpon, tapi entahlah, tiba tiba Aim merasa perlu menjaga imagenya dihadapan Kinan.
Aim berputar memindai sekeliling, barangkali ada ide yang bisa dia dapat dari yang ia lihat.
Beberapa kali memindai Aim tak mendapat alasan yang cukup spesifik.
Lalu tidak sengaja Aim melihat kamera pengawas di ruang Arman.
"Ahh, kenapa aku bisa lupa kalau aku bisa melihat gerak gerik Kinan, tanpa diketahuinya?."
Gumam Aim dalam hati..
Kemudian Aim tergesa membuka aplikasi yang tertaut dengan kamera pemantau di setiap penjuru Apartemennya.
Senyum bahagia merekah dibibir Aim, ketika melihat Kinan didalam layar. Senyum hangat seperti menemukan kebahagiaan yang pernah padam.
Kehangatan yang ia mimpikan selama ini.
"Kinan, kau tak perlu melakukan itu," Dilayar Kinan sedang merapihkan tempat tidur, setelah selesai beralih merapihkan ruang bacap mengambil pakaian kotor milik Aim lalu memasukkannya kedalam tempat pakaian yang tersedia, membawanya ketempat cuci digital.
Sebenarnya Kinan tau, Aim biasa menggunakan jasa laundry, dari sebuah kertas laundry service vvip yang miliki Aim, Kinan tidak sengaja menemukannya dimeja tak jauh dari tempat baju kotor diletakkan.
Tapi Kinan melihat mesin digital, dan Kinan ingin mencobanya sekedar untuk membuang jenuh.
"Hei," Aim berteriak membuat Arman terkejut mendongak sigap kearah Aim.
"Kau tidak boleh melakukan itu. Pakaian itu berat kau tidak boleh mengangkat itu Nan. Apa kamu tidak memikirkan kandungan kamu?"
Nyerocos kemana mana membuat Arman bingung jadinya, dengan siapa Aim berbicara.
"Anak ini selalu begitu" gumam Arman diakhir memperhatikan Aim.
Kinan masih belum selesai.
"Nan, di sudut sana ada ada vakum cleaner, kenapa harus nyapu dan geser geser kursi segala" Aim meringis khawatir di dibuatnya.
"Kamu'kan tinggal pencet tombolnya dan dia bakal jalan sendiri. Kamu tinggal duduk bersantai saja" Aim belum berhenti dengan kalimat kalimatnya.
Kinan belum berhenti melakukan pekerjaan yang menurut Aim cukup berat.
Aim berfikir perlu menelpon Kinan untuk menghenti'kannya.
Sebelum menidal nomor sebuah pesan telah masuk.
Tanpa melihat pengirimnya Aim langsung membuka pesan tersebut tanpa memikirkan apa apa.
Dan..
"Apa tempat ini masih jadi mimpimu Im?."
.
Tanya Shina sengaja ingin menyinggung Aim.
Ditempat ini Aim pernah menaruh mimpinya bersama pasanganya nanti, menjadikan tempat ini sebagai tujuan menghabiskan masa masa honeymoon, masa masa termanis dan terindah yang tidak akan pernah bisa dilupakan sampai pasangan itu menua.
Aim sungguh ingin menyuguhkan tempat itu kepada pasangannya, memberikannya sebagai kado untuk waktu waktu berharga yang akan mereka lalui bersama.
Aim pernah berrencana untuk pergi bersama Shina, namun Shina menolak langsung dengan mengatakan "Aku tidak akan mendatangi tempat yang akan mengingatkan aku kepadamu, aku benci bila harus mendatangi tempat itu dengan kamu seperti aku benci melihat wujud mu" begitu yang ditegaskan Shina.
"Bagai mana Im?. Aku rasa tempat ini masih menjadi mimpimu"
Shina beralih menelpon.
Aim diam tak menjawab.
"Kalau begitu biar aku bantu mewujudkannya untuk kamu" tawanya mencerca.
Aim masih diam tak menjawab. Emosi didadanya mendidih.
Kenapa harus tempat itu Shin, gue tau se benci apa loe sama gue, tapi Loe nggak harus menghancurkan mimpi gue dengan membawa lelaki lain kesana. Dari semua tempat yang ada di dunia kenapa harus kesana?.
Gumama Aim tak terima.
Tidak percaya Shina akan melakukan hal kejam itu, Aim lantas mengeceknya sendiri ke bandara.
Aim merasa tidak percaya Shina membawa lelaki lain ketempat yang akan ia jadikan sembagai tempat paling indah di dunia, bersama istrinya kelak. Baik itu Shina atau perempuan lain yang menggantikan kepergian seperti yang dia inginkan.
Berkat bantuan petugas Aim menemukan Shina, dia dikatakan duduk disamping seorang lelaki.
Aim tidak ingin mendengar nama itu dari orang lain, Aim ingin melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Aim rasa yang Shina lakukan kali ini benar benar kelewatan.
Aim lalu memesan satu tiket yang berbeda menuju belitung.
Sesampai nya dibelitung, Aim diantar oleh seorang supir yang kebetulan menjadi pengantar Shina.
Sehingga Aim langsung ditunjukkan ke depan hotel yang dipesan Shina.
Dengan penuh emosi Aim gegas masuk kedalam hotel.
Saat akan mendatangi resepsionis Aim tidak sengaja melihat Anton. Berada diarea hotel.
Tanpa bertanya lagi Aim langsung mengikutinya. Lelaki yang duduk disamping Shina yang tidak diberitahukan namanya itu pasti Anton.
Saat melihat Anton berseliweran di area hotel, Aim semakin marah dan ingin menghabisinya langsung.