
Kinan menghela pasrah, tempat ini jauh lebih kecil dari kamar miliknya, namun apa boleh buat semua sudah bukan miliknya lagi.
Kinan menatap seluruh ruangan yang telah ia sewa, gaji bulan lalu dan tabungannya sudah habis dipakai biaya pernikahan dan sebagiannya dipakai untuk memenuhi hidup mewah Mina dan Amira kini yang tersisa hanya cukup untuk menyewa kamar lepas ini.
Kinan membuka dompetnya melihat uang yang tersisa tinggal 55 ribu berapa hari Kinan bisa bertahan dengan uang 55ribu ini sementara waktu untuk menerima gaji masih seminggu lagi.
Kinan membuka gorden dan menatap nanar keluar jendela, matahari saat ini hampir tenggelam sinarnya yang berwarna jingga menyilaukan matanya yang basah.
Kinan menghela berat nafasnya, 'Semua yang aku miliki adalah titipan aku harus pasrah saat pemiliknya (Tuhan) mengambil kembali apa yang aku punya, aku sudah merelakannya, tak akan ada yang tersisa aku rela kehilanhan semuanya,' rintih Kinan dalam batinnya.
Dikamar sepetak ini Kinan tinggal dan memulai hidupnya yang baru, Kinan berjanji tak akan ada lagi air mata yang tertumpah, semua sudah berakhir dia sendiri yang mengakhirinya, sesulit apapun nanti hidupnya Kinan bersumpah tidak akan menengok apalagi kembali ke masa lalu.
"Mah, Kinan yakin Kinan kuat melewati ini" Titik airmata membasahi secarik photo yang hampir usang, Dipeluknya dengan erat photo itu, hanya itulah semangat yang tersisa untuk Kinan, Kinan menghela nafasnya dengan letih sesaat kemudian kembali mengangkat kepalanya menatap ke jendela menumpukan semangat juang didadanya, Kinan yakin ada hari yang cerah menunggu didepannya.
....
"Apa yang perlu aku selidiki? Tak ada yang aneh." Aim mengurut dahi, bingung.
Aim sedang meneliti kejanggalan pada biodata Amira dan photo yang diberikan Ayahnya, semuanya sudah benar dan tidak ada yang janggal namun Aim penasaran karena menurut Sang Ayah pada biodata mungkin ada kesalahan.
Aim berulangkali bahkan setiap hari menelaah dengan teliti kedua photo tersebut, hampir sudah tiga minggu tapi tidak ada yang bisa ditemukannya.
Beberapa hari yang lalu Aim bahkan sempat menyelidiki Amira, datang langsung berkunjung ke kediaman Amira berharap ada sedikit celah yang ia dapatkan, namun hasilnya nol besar.
Gambar gadis kecil seperti yang Aim pegang saat ini juga banyak tergantung di kediaman Amira sedikit banyak membuktikan bahwa dua gambar yang dipegang Aim adalah orang yang sama "Kenapa terlihat berbeda, apa saat dewasa perempuan akan menunjukan perubahan besar?" Aim membandingkan poto Amira sewaktu kecil dan ketika sudah dewasa, lalu mengambil kembali secarik undangan pernikahan Kinan untuk membandingkan poto keduanya.
Aim mendesah bingung karena tidak mendapat jawaban kali ini sudah tiga jam lebih dia duduk memperhatikan itu tapi tidak juga mendapat jawaban, bolak balik membaca biodata dan membandingkan photo tetapi otaknya terus buntu tidak mendapat penjelasan, tidak juga menemukan kejanggalan.
"Harus minum dulu kali ya?" Aim menjatuhkan dengan kasar surat undangan Kinan beserta biodata Amira, bergegas mengambil air mineral, setelah meneguknya beberapa kali Aim berjalan ke balkon menghirup udara segar untuk sedikit mendinginkan otak yang terasa mendidih, 'semoga setelah ini aku, bisa menemukan celah kejanggalan itu' harapnya.
Menghirup lalu mengeluarkannya dengan teratur, benar saja setelah menghirup udara yang lebih segar otaknya sedikit berjalan kembali, bersamaan dengan itu tiba tiba Aim teringat kepada Kinan, hati Aim terenyuh dan berat mengkhwatirkannya.
Bertanya tanya dimana dia dan bagai mana keadaannya, Aim sangat resah pasalnya terakhir Kinan terlihat sedang menangis, menderek koper besar seperti akan berpergian jauh jika mengingat pada keadaanya (gagal menikah) semua orang pasti akan bersedih hati.
Aim mengutuk dirinya karena gagal mengikuti Kinan.
Aim kemudian duduk kembali meletakkan gelas yang dipegangnya lalu mengambil biodata kali ini dia harus menemukan kesalahannya.
Tapi otaknya malah semakin buntu kekhawatirannya kepada Kinan membuat otaknya tak bisa berfungsi dengan baik.
Aim melempar biodata dengan kasar, mengusap wajahnya karena gusar "Tuhan, aku mohon pertemukan kami, aku hanya ingin tau keadaannya, aku yakin setelah ini hatiku akan sedikit tenang" ucap Aim memohon sambil terus menatap wajah Kinan pada surat undangan yang dia robek bagian pengantin lelakinya.
"Halo Gun" setelah tersambung dan beberapa kali tak mendapat jawaban akhirnya Guna menjawab suaranya terdengar berat dan malas sudah dipastikan sahabatnya itu sedang lelap lalu kebangun karena terganggu oleh panggilannya yang berulang-ulang
"Im" Guna menjawab singkat antara sadar dan tak sadar dia menerima telpon itu
"Tolong cari tau keberadaan perempuan kemarin!" Titah Aim tak sabar.
"Kinan?" Tanya Guna singkat, Guna mengetahui nama perempuan itu dari surat undangan, Guna yakin dialah perempuan yang dimaksud Aim karena setelah menunjuknya kemarin Guna melihat Aim langsung mengikuti Kinan.
"Ya" jawab Aim mendesah lega karena sahabatnya mengerti tujuannya.
"Baik" jawab Guna asal.
"Sekarang Gun"
"Ya" sahut Guna sembarang saja, jika menolak Aim tidak akan berhenti menelpon dan mengganghunya.
Dia lalu menutup panggilan secara sepihak. Guna mengganti nada panggilannya handphonnya ke hening lalu menindihnya dengan bantal tidur kesal pada Aim yang terus mengganggunya, memintanya melakukan hal yang sedikit diluar nalar.
"Sudah malam begini jangankan mencari tau keberadaan mahluk hidup yang bisa pergi kemana aja jalan nyari WC yang jelas dekat buat buang hajat saja malas' gumam Guna, Guna meringkuk sambil menekan burungnya yang sudah terasa sedikit berat, karena mengantuk Guna memutuskan menahannya sebentar lagi, "Harusnya kamu hubungi polisi Im bukan aku" desis Guna sambil memejamkan matanya.
Pagi pagi Aim terbangun dia baru sadar semalaman dia tidur sambil memeluk photo Kinan,
"Gun, apa sudah ada kabar?" Tanya Aim pada sambungan telepon.
Guna yang sedang sarapan melotot terkejut sandwich di mulutnya sempat berhenti dikunyah ia baru ingat tadi malam Aim memberinya tugas untuk mencari Kinan.
Guna meringis bagai mana ia harus memberi alasan "Tadi malam aku sempat nyari informasi lewat teman sekantornya tapi tidak ada yang tau" jelas Guna berbohong, padahal tidak ada pergerakan apapun yang Guna lakukan demi mencari Kinan.
"Oo begitu ya, yasudah," Aim pasrah, Guna menghela lega awalnya Guna berfikir Aim akan memarahinya.
"Kita bertemu dikantor, gue mau mundur dari mencari informasi Amira,"
Guna kembali mengunyah "Loh kenapa bos?" sahut Guna sedikit kaget.
"Gue buntu, sekarang gue mau fokus nyari Kinan saja, urusan Amira loe aja yang selidiki" Aim lalu menutup telponnya.
Guna mengernyit.
Hidup kembali kegelisahan dihatinya entah kenapa saat melihat gambar Kinan Aim spontan merasakan resah dan gelisah, perasaan macam apa ini? kenapa susah sekali dikendalikan?.