Oh My Boss.

Oh My Boss.
136



"Martabak, yang aku ingat keduanya martabak" Jawab Aim di tengah mengunyah makanannya.


Kinan kembali terkekeh, "Bagai mana enak?"


"Ini sangat lejat," Aim sampai mengangguk angguk saat menikmatinya, "Perusahaan LK harus membuat makanan semacam ini" berbicara dengan mulut penuh.


"Apa kamu akan memikirkan bagai mana akan membuatnya? dan membuat makan ini bertahan lama?"


"Akan aku usahakan. Bang!" Aim memanggil si penjual martabak, abang si penjual menyahut dengan ramah, "Buatin lagi, masing masing satu ya!" Pinta Aim, abang penjual martabak meng-iakan dengan senang hati.


"Sekarang kita kemana lagi?" Tanya Kinan.


"Mm, kamu yang tentuin, aku ikut kemana pun kamu mau. Aku ingin menghabiskan malam kita dengan bersenang senang" antusias.


"Baiklah, masih ada satu spot yang harus kita datangi. Dan ini wajib"


"Benarkah?" Mendongak penuh semangat.


"Yaps,. Dan kali ini pun kamu akan sangat menikmatinya, sangat sangat menikmatinya" kata Kinan.


"Benarkah?" Penasaran, "Baiklah, kita pergi sekarang" ajak Aim.


"Yuk" ajak Kinan.


Setelah merapihkan dan membayar belanjaannya Kinan dan Aim bergegas menuju spot berikutnya.


"Waah, ternyata begini suasana malam di pinggir kota," Aim ber wah kagum pada suasana malam yang terasa sangat khas, jajanan jajanan malam berjejer memenuhi trotoar yang beberapa diantaranya Aim telah mencicipinya.


Aim tak henti menyunggingkan senyum saat berjalan diantara kerumunan orang yang datang untuk sekedar jalan jalan dan menikmati kuliner.


"Aku sungguh terpukau, ini adalah kali kedua aku merasakan indahnya pinggiran kota di malam hari" sesekali menoleh sambil menyunggingkan senyum.


"Awal awal aku bekerja di perusahaan LK, hampir setiap malam setiap kali ketinggalan bus aku dan Amor akan berjalan kaki di tempat ini"


"Ke sini?. Kenapa?"


"Ya, karena tempat ini ramai, jadi kami sedikit tenang kalau harus terpaksa berjalan kaki malam malam, bahkan aku hampir bosan setiap kali harus jalan kaki ketempat ini. Keributannya, bau asapnya sangat khas, kadang kalau kami sama sama abis dapat gajian, kami akan jajan jajan di tempat ini, dan Amor adalah orang yang paling heboh saat menemukan makanan yang menurutnya enak"


"Ooh, terdengar seru."


"Ya seru, tapi tak seseru jalan jalan keliling eropa, 'kan?"


"Ia juga sih" mengangguk kecil.


"Dan di sini, kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang, cukup beberapa ratus ribu, aku udah merasa seneng banget" -Aim.


"Benarkah kamu se senang itu?" Tanya Kinan tak yakin.


"Ya tentu saja" Aim langsung menjawab tanpa memikirkannya dahulu.


"Baiklah, aku ajak kamu jalan jalan di tempat ini, dan kamu harus membawaku jalan jalan ke Eropa" -Kinan.


"Baik," Berkata tanpa beban, "Kapan kamu mau pergi? Besok, sekarang? Lusa?" Aim berturut turut.


"Bisa pelan pelan 'kan bicaranya. Aku sampe kesulitan menerjemahkannya.


"Baiklah apa perlu aku ulangi?"


"Tidak, kamu diam saja, karena kita sudah sampai" Ucap Kinan (Ceria) sambil menunjuk gerobak tukang nasi goreng.


"Nasi Goreng" Aim membaca baliho dengan seksama.


"Nasi goreng, bukankah aku juga sering makan menu ini ya".


"Ia tapi kamu akan mendapatkan rasa yang berbeda, kalau makannya di tempat ini"


"Benarkah?" Aim sedikit tidak yakin.


"Sudah jangan banyak berfikir. Ayok!" Kinan menarik tangan Aim untuk masuk di kedai nasi goreng Kalong, mereka menamainya demikian.


Setelah memesan makan dan minuman, Kinan melanjutkan bercerita tentang tempat yang saat ini mereka datangi.


Ketika asik mengobrol, tiba tiba datang seseorang yang langsung mengenali wajah Aim, dia menyapa.


"Oh, Bos. Suka makan di sini juga?" katanya, berbicara sambil menyelidik perempuan yang saat ini duduk bersama lelaki yang ia panggil Bos.


"Ya, tapi ini baru kali pertama kami makan di sini" -Aim.


"ooh," lelaki itu tertawa lirih, "Ngobrol ngobrol ini siapa?" lelaki tersebut meneliti dan menagap Kinan dengan seksama.


"Apakah? ,