Oh My Boss.

Oh My Boss.
128



Dengan raut berat Kinan merelakan.


Saat ini menahan Aim hanya akan mengundang banyak pertanyaan, apalagi yang meminta adalah keluarganya.


"Kamu harus pergi Mas, jangan menolak permintaan Mama. Kita bisa pergi ke klinik sama sama di periksaan berikutnya"


"Tapi kamu? Pergi sendiri, aku minta Guna temani ya" Aim sungguh merasa bersalah, "Atau kamu batalkan dulu saja jadwalnya, kita pergi besok"


"Tidak Mas, tidak apa apa. Percaya padaku ok. Kamu pergi saja, dan ingat! saat berada di sana kamu jangan lupakan aku ok. Aku ingin kamu terus mengingat aku"


Aim menangkap kekhawatiran di mata Kinan, "Apa kamu mengkhawatirkan aku sayang?" Tanya Aim.


Kinan mengangguk, "Aku gelisah, aku akui Shina begitu sempurna, bahkan di saat pertama kali aku melihatnya, aku merasa akan tersingkir seketika. Lelaki mana yang mampu menolak karisma Shina"


"Tapi sayang, aku bisa. Dia bukan siapa siapa untukku, baiklah jika kamu katakan dia cantik, tapi yang dia lakukan kepadaku, semua sikap yang dia berikan selama kami menikah, membuat aku tidak pernah mau berfikir untuk kembali kepadanya, hatiku sudah mati dan keputusan ku sudah bulat," menggenggam jemari Kinan dengan erat, "Kamu harus yakin sayang, kamu harus percaya. Kamu harus percaya perasaan apapun telah mati untuk Shina" menatap dengan penuh permohonan, "Kamu mau percaya sama aku 'kan?"


Kinan mengangguk, menyunggingkan senyum penuh keyakinan, "Kamu harus menjaga kepercayaan ku,"


"Aku bersumpah, sayang" sambil mengangakat kedua telunjuknya.


"Baiklah, aku bisa tenang sekarang" Tersenyum lega.


Begitu juga dengan Aim, wajahnya tidak lagi penuh dengan ketakutan.


"Kemari lah!" Pinta Aim sambil merentangkan kedua tangannya, "Berikan pelukan pada suami mu ini" Kinan datang ke pelukan, Aim langsung mendekap dan mengecupi pucuk kepalanya dengan sayang.


"Aku mencintai mu, dan hanya akan mencintai kamu, sekarang nanti hingga selamanya hanya akan ada kamu di hati aku," ucap Aim di tengah memeluk Kinan, "Dunia akan berbicara tapi yang harus kamu percaya hanya aku, paham"


Kinan mengangguk mengerti.


"Kalau begitu aku turun sekarang ya" pinta Kinan ketika memasuki area tempat dirinya turun, seperti biasa.


"Tidak" tolak Aim., "Aku ingin kamu terap di sini sampai ke kantor,"


"Tapi Mas!?" Kinan tidak setuju.


"Kalau begitu aku tidak akan pergi untuk mencari kado, aku akan menunggumu di kantor"


"Mas" Kinan tidak tau lagi harus membujuk suaminya dengan cara apa, pada akhirnya Kinan menyerah, "Baiklah. Tapi aku minta turun di area parkir, bukan di depan kantor"


"Baik" setuju Aim.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Rania.


Shina tampak tersenyum licik ketika Rania menyampaikan bahwa Aim telah setuju untuk pergi menemaninya.


Ternyata Shina sengaja melakukan itu lantaran sebelumya di dalam apartemen Shina menemukan sebuah kartu nama dengan tertera obgyn Bima, Shina merasa penasaran akan kartu nama tersebut, lalu Shina memutuskan untuk melakukan panggilan dan menanyakan beberapa jadwal Bima hari ini. Dan Shina menemukan salah satu pengnujung atas nama Kinan dengan nama Suami Aiman Kraditaputra.


Di dalam kantor, Aim tampak begitu gelisah. Aim tidak bisa berhenti merasa bersalah dan berhenti memikirkan Kinan.


Dan akhirnya Aim memutuskan untuk turun ke ruang devisi tempat Kinan bekerja setelah sempat melakukan pangghilan yang tidak juga di terima oleh Kinan.


Di sana Aim melihat Kinan sangat sibuk, berkali kali mengecek layar komputer dan kertas kertas di hadapannya.


Di situ Aim dibuat kagum dengan ke gigihan Kinan dalam bekerja.


"Jangan terlalu lelah sayang, jangan lupa istirahat. Ingat suami mu adalah Bos perusahaan Sayang ku tidak akan kekurangan apapun" Aim mengirimkan pesan teks.


Kinan tampak menoleh ke layar yang menyala, membukanya kemudian. Lalu memindai sekitar untuk mencari Aim setelah melihat pesan 'Aku di sini'.


Tak lupa Aim melayangkan ciuman semangat untuk Kinan.


Spontan Kinan melotot terkejut dengan itu, segera menyapu sekitar dengan tatapannya, khawatir orang lain akan melihat Aim di sana.


"Pergi sana" usir Kinan dengan isyarat.


Aim tak bergeming, membuat Kinan semakin khawatir.


Kinan berusaha membuat Aim pergi, namun lelaki itu tampak tak perduli.


Lalu Kinan berjalan ke dekat Aim, Aim tersenyum senang dibuatnya.


Tetapi hal yang menggelik'kan di lakukan Kinan.


"Ah, Bos?" Sebut Kinan dengan suara sedikit lantang, sehingga menarik perhatian.


Orang orang menoleh ke arah Kinan berdiri, berpuluh pasang mata menyambut Aim.


"Bos?" Seisi ruangan mencari keberadaan sosok yang di sebut Kinan tadi.


"Bos ada di sini" teriak Kinan kembali dengan menahan tawanya.


Mereka yang telah melihat Aim segera berdiri untuk memberi hormat, hingga mau tak mau Aim masuk kedalam ruangan untuk menyapa para pekerjanya. Tidak enak jika pergi begitu saja, fikir Aim.


"Halo," sapa Aim.


"Halo Bos" mereka serentak.


"Selamat bekerja semuanya" sepatah kalimat terucap dengan formal, para pekerja terlihat sedikit aneh dengan sapaan tersebut.


Kinan tertawa sendiri sementara yang lain tampak sangat ter wah ada juga yang tercengang dan terkagum kagum, tak percaya sedikit takut dengan kedatangan Aim yang tiba tiba.


"Maaf jika kehadiran saya membuat pekerjaan kalian terganggu"


Gagu gagu Aim mencoba menyusun kalimatnya, karena memang tidak ada niat untuk menyapa karyawan baik secara formal mau pun non formal.


Aim kebingungan saat hendak menyapa, ini sungguh kali pertama untuknya.


Orang orang pun tak ada yang berani mengeluarkan suara lebih, mereka gugup bahkan untuk sekedar menatap sekalipun.


Kedatangan Aim yang tiba tiba membuat para karyawan berspekulasi buruk tentang pekerjaan mereka.


"Kalau begitu saya tinggal"


Pada akhirnya itulah sepatah kata yang diucapkan Aim dalam kebingungannya. Bergegas keluar ruangan setelah sesaat melayangkan tatapan ancaman (Awas kau istri nakal) kepada Kinan yang saat ini cengengesan tidak jelas setelah membuat Bosnya terpaksa menyapa karyawan.


"Awas! semuanya akan aku perhitungkan nanti di rumah"


Aim kesal lalu mengambil langkah lebar untuk meninggalkan ruangan.


Sekembalinya dari Devisi Kinan, Aim tidak sengaja melewati ruangan Arman, Aim melihat Mina masuk membawa berkas berkas pemerintahan, menarik perhatian Aim.


Aim lantas mengikutinya masuk kedalam ruang kerja Arman, duduk berbaur untuk mendengarkan apa yang akan di sampaikan Mina.


Aim baru sadar bahwa penyerahan saham tinggal sebentar lagi, ..