Oh My Boss.

Oh My Boss.
59



"Bos, apa kita akan melanjutkan mencari Kinan?" Tanya Amor. Menatap sekilas untuk melihat bagai mana Aim menjawab pertanyaannya.


Aim menghidupkan layar handphone melihat pukul berapa saat ini. 22:24


"Besok saja kita lanjut. Semoga besok ada kabar baik" harap Aim.


Amora mengangguk setuju.


Aim menidal satu nomor menunggu sebentar lalu tersambung. panggilan di load speaker "Halo Guna"


"Ya, Bos" suara disekeliling Guna terdengar sangat bising. Guna masih menyusuri kota untuk mencari Kinan sesuai yang di pinta Aim.


"Apa sudah ada kabar?" Tanya Aim.


"Belum"


Aim sejenak terdiam.


"Apa sudah mengecek semua cctv?" sambung Aim kembali bertanya.


"Cctv rumah sakit sudah aku cek semua, beberapa Cctv jalanan kota juga sudah aku cek, tapi Kinan masih tidak terlihat"


"Pergi kemana Kinan" gumam Aim dalam hatinya. Aim sangat cemas.


"Bos, apa aku perlu melapor?"


"Tunggu dulu Gun, lagi pula ini belum genap 24 jam polisi juga tidak akan menerima laporan kita."


"Jadi, selanjutnya apa yang harus aku lakukan?"


"Kamu istirahatlah dulu, barangkali besok Kinan akan datang untuk bekerja. Kita berdoa saja semoga besok ada kabar baik"


"Baik Bos" ucap Guna diakhir panggilan.


Setelah itu Aim dan Amor kembali kekediaman masing masing, Aim terlebih dahulu mengantar Amor pulang.


Dasi dilonggarkan dengan sembarang, rambut berantakan, kemeja kacau jas dipegang menjuntai setengah dituntun, inilah Aim sekarang. Memencet tombol lift, lift terbuka dan Aim pun keluar dengan lunglai menuju unit miliknya.


Saat Aim masuk lampu pintu menyala setelah beberapa langkah melewatinya lampu kembali mati.


Melepas sepatu lalu, beranjak mengambil air putih Aim lalu duduk menyandarkan pundaknya yang lelah. Memejamkan mata yang sangat berat.


Saat mata hampir terlelap bayangan Kinan lantas mengganggunya.


Kinan tersenyum dengan anggun, dalam senyum itu ia berisyarat "Aku tidak baik baik saja, duniaku sangat sulit tapi dengan tersenyum bisa meringankannya"


Deeeeggg.. Aim seperti digertak untuk bangun.


Bagai mana ia akan tidur sementara Kinan belum pasti keadaannya. Aim menoleh keluar, diluar hujan cukup deras.


"Kinan dimana kamu? apa kamu baik baik saja?"


Aim lalu bangkit, berjalan pelan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.


Menyeret pintu lemari dan memilih piama tidur yang akan ia kena'kan.


Setelah mendapatkan pakaian yang dia inginkan Aim menutup kembali pintu lemari. Sebelum pintu habis tertutup tidak sengaja Aim melihat pakaian yang dilipat dan diletakan di tempat yang terpisah, baju Kinan.


"Andai besok kamu datang, aku bersumpah tidak akan melepaskan kamu lagi, barang sejengkal pun, aku akan terus menjagamu dan melindungimu Kinan"


Seperti kehilangan serpihan perasaannya, begitulah kelunya hati yang tidak bisa Aim ungkapkan saat ini.


Keesokan harinya,


Aim mendatangi rumah sakit untuk menjenguk Ayah Dheo (mertuanya) rencananya Aim akan menyerahkan Shina kekeluarganya, tapi sebelum itu Aim hendak berbicara empat mata menjelaskan dan memberi alasan dengan baik kepada Dheo, tapi tidak disangka Arman malah datang untuk mengikutinya.


Aim menaruh parcel buah diatas nakas samping ranjang rawat Dheo.


"Aim, Arman" sapa Dheo menatap mereka secara bergantian.


Keadaan Dheo sudah membaik, oprasi yang hampir direncanakan saat ini urung dilakukan Dheo sudah melewati semuanya untuk saat ini oprasi belum terlalu dibutuhkan.


"Ayah" Aim menarik kursi lalu duduk disamping Dheo. Dheo menatap Aim dengan hampa lalu beralih menatap Arman.


"Apa kabar Ayah?" Dheo hendak menjawab tapi Aim menyambung ucapannya sehingga Dheo urung berbicara,


"Aim terus berdoa agar Ayah segera pulih dan segera kembali dan berkumpul di rumah dengan"


Aim menoleh Arman, Aim yakin Arman mengerti akan maksud rumah yang diucapkan Aim. Selepas kepulangan Dheo Aim berniat melakukan sesuatu.


Dheo tersenyum putus asa, "Heemmh.. Laki laki tua dan berpenyakit sepertiku tidak mengharapkan banyak hal, mati hari ini atau besok lusa juga sama saja"


"Ayah, kenapa ayah berkata seperti itu. Ayah harus semangat Ayah harus sembuh"


"Im... Kamu sudah tau kondisi ayah seperti ini, cepat atau lambat ayah akan mati juga, disisa umur ayah hanya ingin melihat keluarga ayah utuh, ayah ingin kamu terus mendampingi Shina, kamu bimbing dia dan kamu kembalikan dia seperti dulu, sekarang anak itu semakin hilang arah. Ayah tidak tau lagi harus berbuat apa" di akhir Dheo berkata dengan frustasi.


Aim sempat diam tak bersuara batinnya dihimpit beban perasaaan yang sulit menentukan antara Kinan dan Shina. "Ayah...Aim mengerti keinginan ayah, Aim akan mencoba yang terbaik untuk Shina."


"Kamu harus janji Im" Dheo menatap Aim dengan penuh pengharapan. Menggenggam jemari Aim diatas tempat tidur.


"Dhe.. Aim akan melakukan yang terbaik untuk Shina, percayalah Aim tidak akan mengecewakanmu"


Aim mengangguk sambil menyunggingkan senyum kecil, senyum penuh tekanan.


Sepulangnya dari rumah sakit Aim duduk termenung dengan jiwa yang hampa. Teringat percekcokannya dengan Arman di area parkir sesaat setelah keluar dari ruang rawat Dheo.


"Ayah sengaja ngikuti Aim?" Aim menghentikan langkahnya, Arman yang berjalan didepan juga berhenti beberapa detik kemudian menoleh dengan wajah kecewa.


"Ya, Ayah memang sengaja ngikuti kamu Im" Wajah Arman terlihat berkabut menahan kemarahan.


"Kenapa Yah? Ayah sengaja mau ngalangin aku untuk bicara dengan Om Dheo?"


Arman maju selangkah mata penuh emosi terarah benci pada pemikiran Aim. "Apa kamu sudah gila Im? Kapan kamu akan memikirkan keluarga ini? Kapan kamu akan memikirkan ayah, memikirkan Dheo?" Arman mengangkat telunjuknya, wajah mengerat emosi"Tindakan yang kamu lakukan ini, apa kamu pernah berfikir? langkah yang kamu ambil ini akan membunuh Dheo?" Bentak Arman.


"Semuanya sudah seperti ini apalagi yang harus aku pertimbangkan? Aku muak terus seperti ini aku muak terus diinjak injak oleh Shina. Apapun yang akan terjadi Om Dheo harus tau perilaku buruk Shina" Teriak Aim.


"Itu semua karena kamu bodoh! Sebagai suami kamu tidak bisa membuat istrimu nyaman, kamu bodoh memenangkan hatinya, kamu terus bersikap dingin, kamu terus membiarkan Shina, kamu sendiri yang membuat Shina menyerah dengan sikapmu"balas Dheo tak kalah kuat.


"Aku?" Aim menunjuk dirinya.


Aim kemudian menggeleng putus asa "Kenapa harus aku yang terus disalahkan? Kenapa bukan Shina? Kenapa dia yang terus memenangkan hati Ayah? Hati semua orang?. Sementara Aku bagai ikan didalam wajan, dan kalian semua adalah kucing sedang memainkan ku, aku tidak bisa berbuat apapun, aku tidak bisa mengambil keputusanku sendiri, aku hanya boleh tunduk dibawah kaki kalian! Sehingga saat Shina menginjakku aku masih harus menerima, aku harus sabar aku harus pura pura tidak melihat, aku tuli, aku bisu, tapi kalian lupa kalau aku aku juga manusia, aku punya fikiran dan hati seperti kalian! Aku tak bisa diam saja dan menganggap enteng kegilaan Shina, aku sudah lelah aku muak, aku muak!"