Oh My Boss.

Oh My Boss.
73



Di suasanauasana senyap, tiba tiba terdengar teriakan, dan langsung mengubah semuanya.


"Kau sengaja kabur dari pernikahan 'kan? Kau kabur untuk membalas dendam kepdaku'kan?"


Yang berteriak itu tak lain adalah Amira, di sedang meluapkan emosinya kepada Kinan atas pernikahan yang tidak ia kehendaki dengan Dirga.


"Gara gara kau, .Juan pergi dengan perempuan lain, dan aku harus menanggung semuanya, menanggung kesalahan kamu dan menjadi madu buat Dirga, semua kebahagiaanku hilang Kinan!"


Amira terus berteriak sangat lantang. Kinan sempat menghentikan Amira namun Amira malah semakin menjadi.


"Stttt,. Kakak tidak bermaksud mengecewakan kamu apalagi sampai harus menggantikan kakak menikah. Hanya, kakak tidak pernah menginginkan pernikahan itu, Kakak minta maaf Mira!" Kinan berbicara setengah berbisik.


"Kau pikir itu mudah Kinan?" Teriak Amira, "Apa bagimu semua itu mudah?" Amira terisak saat mengungkapkan kekecewaannya.


"Tidak Amira, tidak!" Kinan mencoba menjelaskan tetapi Amira terus berteriak. Sontak perhatian terarah kepada dirinya juga Amira.


Aim yang kebetulan berada di ruangan tak jauh dari tempat Kinan, juga mendengar teriakan itu, Aim berjalan kesumber suara karena penasaran.


"Kita keluar dulu ya, kita bicara diluar" bujuk Kinan menyeret Amira dengan pelan, tetapi Amira tak bergeming.


Sejak Amira berkata kata suasana sudah mulai menegang, lalu tiba tiba, Amira berteriak dan mengundang perhatian orang lain.


"Kenapa Kinan? Bukankah kau sedang hamil? Kenapa kau kabur dari pernikahan? Apa karena bayi yang kamu kandung itu bukan anak Dirga?"


Suara lantang itu jelas terdengar oleh semua orang yang ada di ruangan yang sama


Semua orang menganga tak percaya, pandangan penuh tanya langsung tertuju kepada Kinan.


Kinan pun terkejut hebat, tidak mengira Amira akan tau dan akan membeberkan kehamilannya didepan banyak orang.


Orang orang langsung berkasak kusuk miring.


Ada yang tidak percaya ada juga yang langsung mencerca dan menghina.


Kinan hanya bisa diam tak memberi jawaban, karena jawaban hanya akan memperburuk keadaannya saat ini.


Hamil?


Apa ia?


Dia kelihatannya perempuan baik baik.


Tapi baiknya cuma diluar aja. Aslinya busuk.


Benar atau tidak?


Benarkah Kinan hamil, tapi oleh siapa?


Orang orang banyak bertanya, Kinan tak mampu menoleh apalagi menatap mata mereka.


"Kalian semua lihatlah dia!" Amira berteriak lagi tatapan semua orang tertuju kepada Kinan, Kinan merasa seperti sedang dikuliti hidup hidup "Perempuan munafik ini sedang hamil, tapi tidak jelas siapa ayahnya. Dia lari dari pernikahan untuk menyembunyikan ayah dari anak yang dia kandung. Tapi dia fikir dengan lari dari pernikahan bisa menyembunyikan kebusukannya? Tidak!"


Kinan semakin menunduk malu.


Amor lantas berdiri untuk membela Kinan.


"Tutup mulutmu wanita kurang ajar!" Bentak Amor, "Kau datang dan mengacau, apa kamu benar benar senggang hari ini?" Sindir Amor.


"Harusnya aku yang bertanya. Kau senggang hari ini? Kenapa ikut campur urusan orang lain?. Aku berbicara dengan dia bukan dengan Kau!" Amira menekan beberapa kata sambil menunjuk-nunjuk.


"Apa kau tidak malu berteman dengan dia?" Pertanyaan itu merendahkan Kinan, "Atau... Kalian berdua memang sama saja?" Amira menilik Amor dari atas hingga bawah, "Sama sama rendahan" Amira menekankan kalimatnya.


"Tutup mulut mu perempuan tidak tau diri!" Amor hampir menerjang Amira namun ditahan oleh Kinan.


"Kenapa? Kau malu mempunyai teman busuk seperti dia? Kau perlu malu dan harusnya meninggalkan dia sejak awal"


Emosi Amora semakin meluap-luap. Dan kasak kusuk belum berhenti.


"Milik siapa anak itu Kinan?. Ternyata orang yang harusnya menjadi panutan ku tak lebihnya seperti ******, memiliki anak tanpa ayah dan.. Kau seperti pecundang Kinan, kau lari dan menjadikan aku sebagai umpan mu. Kau pergi dan menghancurkan hidupku!" Diakhir Amira kembali meninggikan suaranya.


Amor kembali menerjang Amira tapi dengan sekuat tenaga Kinan menahannya.


"Jangan permalukan diri kamu Mor" pinta Kinan berbisik.


Satu karyawan yang telah lama menyukai Kinan lewat dan menyempatkan diri berkata,


"Kau sedang hamil Nan?" Menilik dari atas hingga ke bawah dengan rendah, "Kakek hidung belang dari blok mana yang sudah menanam benihnya di perutmu?" Senyum merendahkan "Kamu dibayar berapa? Kalau dia tidak bisa tanggung jawab aku bisa kok tanggung jawab untuk kamu" kambali tersenyum miring, lalu melewati Kinan dengan angkuh.


Aim berdiri di kejauhan, waspada memperhatikan Kinan.


Amor menyesalkan hal ini terjadi.


Orang orang berkasak-kusuk membicarakan apa yang baru saja mereka dengar.


Tak kuasa menahan malu, Kinan bergegas pergi tapi Amira dengan cepat mencekal tangan Kinan dan menghentikannya.


"Mau kemana Kinan? Kau tidak lihat mereka?" Amira mengedarkan pandangan, "Sama sepertiku mereka juga ingin tau siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu"


...*Gadis ini benar,...


Ya, Dia benar.


Kami penasaran, apa benar kamu hamil Kinan*?


Beberapa orang dari mereka angkat bicara.


Dan bertanya kebenarannya.


*Dengan siapa kamu bermain gila Nan.?


Apa kamu lupa bahwa di tempat ini, apapun harus jelas termasuk status yang kamu miliki*.?


Seseorang yang bekerja sebagai atasan Kinan berbicara. Salah seorang telah mengadukan itu kepadanya hingga akhirnya dia datang untuk Kinan.


"Kau tidak benar benar hamil 'kan Nan?" tanyanya memperjelas.


Kinan hanya diam.


"Kau harus berbicara, atau kau akan didepak dari perusahaan dengan tidak hormat!" tegasnya.


Kinan hanya menangis bingung.


"Hei kau tidak boleh berteriak begitu, kau membuat Kinan takut" Amor menimpali.


"Aku hanya bertanya, dan Kinan hanya perlu menjawab apa susahnya? Apa kau benar benar hamil Nan?"


"Dia benar benar hamil, apa perlu aku berikan buktinya? aku yang bersaksi dia memang benar benar hamil," Amira menegaskan.


Atasan Kinan tampak sangat kecewa.


Kinan menunduk tak bisa menjawab.


"Mewakili semua orang yang ada disini aku ulangi, apa kamu benar benar hamil Nan? jika itu benar, maaf aku tidak bisa menahan kamu untuk tetap bekrrja disini. Aku yang merekrut kamu seharusnya kamu hargai dan jaga kepercayaan ku dengan baik"


Pecat dia!


Pecat dia!


Teriak orang orang, menghakimi Kinan.


Amira tersenyum penuh kemenangan sejak awal itu memang tujuannya.


Kinan kemudian bertekad untuk pergi sebelum akhirnya semakin dipermalukan.


"Jika benar kau hamil, silahkan keluar! Surat pemutusan kerja sama kita akan aku antar besok" atasan Kinan memperjelas keputusan yang harus Kinan ambil.


Kinan mendongak terkejut, Kinan tidak menyangka akan diberhentikan secepat itu, begitu juga dengan Amor, dia tidak terima temannya dipecat begitu saja.


"Tunggu," Aim yang memerintah. Bersamaan dengan itu Amor yang hendak berucap menghentikan niatnya.


Semua mata tertuju padanya.


"Siapapun disini, tidak ada yang boleh memecat Kinan" Aim berjalan kedekat kearah Kinan.


"Tetapi Bos. Dia hamil tanpa status, perusahaan tidak boleh terkena dampaknya" ucap Amira.


"Perusahaan mana pun tidak akan jatuh hanya karena karyawannya hamil tanpa status. Yang berpengaruh bagi perusahaan adalah orang orang yang berkuasa padahal didalam perusahaan dia bukan siapa siapa" kalimat itu Aim tegaskan untuk atasan Kinan juga Amira


"Tapi dia hamil tanpa status yang jelas! sudah seharusnya perusahaan bertindak tegas!" timpal Amira bersikeras.


"Siapa kamu? Kenapa kamu disini? apa disini kau yang berteriak gila?" Aim.


"Perempuan itu baru saja kabur dari pernikahan, dia sedang menyembunyikan kehamilannya dari semua orang," Amira berkata dengan nada sedikit tinggi, tampaknya Amira tidak terima Aim ikut campur dalam masalah Kinan.


"Itu yang harusnya dia lakukan, dia tidak boleh memberikan anak itu kepada siapapun!" -Tegas Aim.


"Tapi anak itu memerlukan Ayah, Kinan harusnya pergi dengan lelaki yang menghamili dia!" Amira tidak ingin kalah.


"Aku!" Aim menunjuk dirinya, "Aku adalah Ayah anak yang Kinan kandung!" ucapan tegas tanpa ragu.


Suasana seketika hening.


Kinan pelan pelan mengangkat kepalanya dan menatap Aim dengan tidak yakin.


Semua tatapan terarah kepada Aim.