
Amor menggenggam tangan Kinan "Kenapa Nan? Dirga harus tau, bagai mana pun dia adalah ayah dari anak yang kamu kandung, dia harus bertanggung jawab"
Tak ada lelaki yang dekat dengan Kinan selain Dirga.
"Bukan Dirga Mor" potong Kinan lirih.
Genggaman Amor melemah, dia tidak bisa mempercayai pengakuan Kinan.
"Lantas siapa yang menghamili mu Nan?" Amor bertanya dengan masih tidak bisa mempercayai perkataan itu.
"Aku juga tidak tau, ckkkk" Kinan berdecak meremas kepala frustasi. Sekarang Kinan menyesali kebodohan yang ia lakukan malam itu.
"Kamu pasti bohong kan Nan? Kamu sengaja tidak mengakuinya karena Dirga sudah menikahi Hanna kan?"
"Nggak, Mor, nggak. Ini memang bukan Anak Dirga, lagi pula kami sudah mengakhiri hubungan, ini kesalahan ku, ini aku yang bodoh" Kinan berteriak frustasi.
Menunduk sambil meremas kepalanya penuh sesal, "Aku harus bagai mana? aku tidak mungkin mengandung anak tanpa ayah yang jelas Mor"
Amor kembali memeluk Kinan.
"Nan, kamu yang tenang ya" pujuk Amor, Amor tau seberapa hancur perasaan Kinan saat ini.
Amor beranjak penuh kesediaan (melabrak)"Kalau begitu kasih tau aku siapa lelakinya? Dia harus tau ini Nan"
"Nggak Mor nggak" Kina semakin kuat menangis. "Kamu mencarinya juga akan sia sia"
"Kenapa sia sia?. Apa karena dia sudah beristri? apa dia tidak akan mengakui kehamilan kamu?. Bagai manapun nanti keadaannya dia tetap harus tau, dia harus bertanggung jawab," Amor ikut terisak, tak bisa menahan dirinya.
"Enggak Mor enggak, kamu tidak perlu melakukan apapun"
Kinan terus tidak setuju.
"Kenapa Nan?!" Amor membentak "Anak kamu memerlukan Ayah! Aku tidak bisa membiarkan lelaki itu lari begitu saja. Siapa dia Nan? Jawab aku"
Kinan menggeleng.
"Kenapa kamu terus menggeleng? Kamu tidak mungkin tidak mengenalnya'kan Nan? Kamu tidak mungkin tidur bersama lelaki yang ... ahh ckkk" Amora sedikit meninggikan suaranya dan mendengus.
"Ia, aku melakukan itu? Aku sudah tidur, dengan lelaki yang bahkan wajahnya saja aku tidak ingat! aku mabuk Mor, mabuk!" Kinan sempat berteriak marah lalu diakhiri dengan tangis "Aku bodoh aku bodoh, aku bodoh kenapa melakukan itu"
Amor merosost lemas "Apa kamu melakukannya dalam keadaan tidak sadar Nan?"
Kinan yang terus menangis hanya mengangguk. Amor mendesah bingung lagi.
Saat bersamaan tanpa mereka sadari Aim sudah berdiri di ama
bang pintu ruangan Kinan.
"Apa yang sudah terjadi Mor, kenapa Kinan menangis" Ucap Aim sambil bergegas mendekati Kianan dan Amor. Melihat tangis yang pecah Aim menyentuh sesuatu yang tidak baik.
Sebelum menjawab, Amor terbih dulu meminta izin kepada Kinan lewat sorotatanya, tapi Kinan menggeleng. Amor paham akan hal itu.
Masih dalam keadaan menangis. Kinan lalu pergi meninggalkan Aim dan Amor. di daun pintu Kinan sempat berpapasan dengan Amira, tapi Kinan tak menghiraukan. Amira pun tidak mau memperdulikan kinan.
"Ada apa dengan dia? Kenapa dia menghindari kita?" Tanya Aim selepas itu Aim berlari mengejar Kinan diikuti Amor.
"Kinan hamil.." kata Amor dengan suara yang payau.
Aim memelankan langkahnya begitu pula dengan Amor, menoleh sekilas lalu kembali berlari
"Jadi Kinan sudah mengetahui kehamilannya?" Lirih Aim.
Amor tidak sengaja mendengar ucapan Aim tapi merasa bingung dengan kalimat yang baru keluar dari mulutnya, sebab Amor merasa tidak mungkin Aim sudah mengetahui kehamilan Kinan.
Di ujung Kinan terlihat berjalan tergesa hampir setengah berlari.
"Kinan" Panggil Aim.
"Berhenti!" Teriak Kinan saat Aim dan Amor semakin dekat "Jangan ikuti aku!" Kinan setengah terisak.
"Nan, kamu kenapa? Kenapa kamu menghindari kami" -Amor.
"Nan, ingat kamu sedang hamil kamu tidak boleh berlarian seperti itu" teriak Aim angkat bicara.
Kinan tampak terkejut saat mendengar Aim membahas kehamilannya, Kinan melayangkan tatapan kecewa pada Amor.
Mungkin yang Kinan harapkan orang lain tidak ada yang tau tentang kehamilannya. Kinan fikir Amor telah mengadukannya kepada Aim.
Kinan menggeleng sunyi Aim kira Kinan akan berhenti namun nyatanya kembali berlari lebih kencang.
"Nan tunggu!" Teriak Amor.
Amor mengejar Kinan diikuti Aim.
Kinan berlari melintas jalan raya tanpa menoleh kiri kanan.
"Kinaaaaannn!" Teriak Amor panik takut terjadi sesuatu kepada Kinan. Dari sebrang Amor melihat sebuah bus sedang melaju, "Kinan awas"
Sampai Amor lupa akan keselamatannya.
"Amor! AWAS!" Aim berteriak sambil menarik Amor yang hampir terserempet pengendara bermotor, kendaraan yang melintas, cukup ramai.
Amor menangis saat sadar dirinya hampir celaka.
Aim masih berdiri terkesima.
Untung tangannya reflek menarik Amor kesisi yang lenggang menyelmatkannya dari kecelakaan.
Sementara Kinan dia sudah berlari ditepi jalan, berlari entah ingin kemana.
"Mungkin Kinan butuh waktu menyendiri kita jangan mengganggunya dulu" saran Aim. perlahan genggamannya ia lepaskan dari tangan Amor.
"Tapi bagai mana jika Kinan melakukan sesuatu diluar batas?"
"Tidak, Kinan tidak akan melakukan itu" sanggah Aim penuh keyakinan.
...
Sambil membaca selembar kertas yang ditinggalkan Kinan diatas blankar Amira tergelak jahat dan puas.
"Aku tidak menyangka, perempuan so' suci itu ternyata hamil.. Sudah terbukti'kan? Betapa buruknya kamu Kinan"..
...
"Minum" Aim mengasongkan sebotol air untuk Amor. Amor menatap Aim sekilas lalu menerimanya.
Setelah Amor menerima botol itu Aim ikut duduk di samping Amor, duduk di trotoar taman. Amor yang memilih tempat itu, dia meminta turun tapi tidak disangka Aim ikut duduk bersamanya.
"Suasana disini lumayan tenang" ucap Aim diujung meneguk air dalam botol.
Raut wajah Amor belum berubah, masih terlihat muram.
"Kinan dan aku sering datang kesini diakhir pekan, Kinan bilang katanya disini sangat tenang" suara Amor terdengar berat.
"Selera yang baik." gumam Aim.
"Berbicara soal Kinan, apa sekarang dia punya kekasih?" Pertanyaan itu terlontar dari rasa penasarannya akan hubungan yang mungkin dimiliki Kinan berkenaan dengan kehamilannya.
"Tidak. Setelah memutuskan hubungannya dengan Dirga Kinan tidak pernah menceritakan soal hubungannya yang baru. Setiap hari dia hanya sibuk dengan pekerjaan dan sibuk membahagiakan dirinya."
"Membagiakan dirinya?" Aim mengernyit. "Bukankah setiap hari dia selalu bahagia? Apalagi yang perlu diusahakan semuanya terlihat baik baik saja".
Amor tersenyum ketir "Iya, itu yang kita lihat dari luar, tidak ada yang tau bagai mana dia melalui kehidupannya yang berat setiap hari. Saat baru lahir ke dunia Kinan sudah memulai kehidupannya yang berat ibunya meninggal dunia. Lalu diusia 5tahun sang ayah menyusul sang ibu, Kinan kecil dipaksa hidup bersama ibu sambung yang setiap saat menindasnya memperlakukannya dengan buruk dan memperbudaknya. Dua bulan yang lalu Kinan bercerita kekasih yang setahun ini menemaninya mengajukan pernikahan, hari itulah aku melihat kebahagiaan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya dari wajah Kinan, tidak disangka tiga hari sebelum pernikahan Kinan mengatakan dia dan Dirga telah memutuskan hubungan, dihari pernikahnnya Kinan diusir oleh ibu tiri. Apa ini yang Bos bilang baik baik saja.. Hidup Kinan selalu tidak mudah"