Oh My Boss.

Oh My Boss.
106



"Sebelum Ayah merestui pernikahan kita, aku tidak ingin banyak orang tau tentang kita. Kamu jangan salah paham Mas, aku melakukan ini agar sejenak kita bisa tenang, dan aku yakin Ayah juga akan setuju bila kita menyembunyikan pernikahan kita sementara ini" jelas Kinan mencoba meminta pemahaman.


"Sebenarnya aku tidak setuju dengan ini, tapi aku tidak ingin kamu terbebani. Jika menurutmu ini baik maka aku akan setuju," -Aim, wajah terpaksa.


"Terima kasih karena sudah memahami kekhawatiran ku Mas." -Kinan.


"Itu berarti aku harus memperhatikan kamu dari jauh lagi, tapi bagai mana jika didalam kantor aku sangat merindukan mu? ingin memeluk kamu ingin mencium kamu, Apa yang harus aku lakukan?"


"Mm.. Kamu harus mengendalikan diri mu Mas, lagian kita akan bertemu di rumah" jawab Kinan datar.


Aim menghela dengan nafas berat, "Setelah ini waktu kita berdua akan sedikit, bahkan untuk melihat wajahmu pun harus diam diam" -Aim.


^^^"Tapi 'kan setelah pulang kita bisa saling memeluk dan melepaskan rindu"^^^


"Mm.. kamu benar, aku akan berusaha mengatur pekerjaanku agar bisa mempunyai banyak waktu dengan mu" -Aim.


"Mm baiklah aku juga mengharapkan hal yang sama." Kinan menoleh ke arah kaca "Dan sepertinya aku harus turun sekarang juga" Kinan telah sampai di perhentian yang ia maksud, di setiap harinya Kinan akan meminta berhenti ditempat ini dan akan membiarkan Aim menjemputnya di halte ini juga.


Kendaraan pun menepi.


"Sayang," sebut Aim, menggenggam tangan Kinan, berat. "Apa kamu harus melakukan ini?"


Kinan kemudian mengangguk.


"Apa ini aman?" Menoleh ke sekeliling dengan tidak yakin.


^^^"Mas, kamu tenang saja, aku sudah terbiasa naik turun ditempat ini. Dan aku memastikan kalau ini Aman" jelas Kinan mencoba meyakinkan.^^^


"Tapi.."


"Sudah Mas, kamu harus percaya aku" potong Kinan. Namun walau Kinan meyakinkan seribu kali pun tetap tak dapat membakar kekhawatiran yang dirasakan Aim.


"Baiklah. Naik bus, atau ojek?" tanya Aim lagi. Nafasnya kini terdengar pasrah.


"Mm, mungkin bus, tapi.." Kinan sekilas menoleh pergelangan tangannya, dan menyadari satu hal "Sepertinya jam segini sudah tidak ada lagi bus yang lewat, mungkin aku akan naik ojek online Mas"


"Ojek?" Aim mengedik tak percaya, "Aku merinding mendengarnya Nan"


"Apalagi Mas?. Kamu tenang saja. Semua akan baik baik saja" mencoba menyakinkan lagi.


"Apa bayi kita juga bisa baik baik saja? Apa dia tidak akan menangis saat ibunya harus naik ojek? apa dia tidak akan kepanasan?. Bagai mana kalau dia masuk angin?. Ayolah sayang, untuk hari ini kita tetap satu mobil sampai kantor ya" rengek Aim mencoba membujuk.


^^^Kian memasang wajah tidak paham pada kekhawatiran suaminya yang berlebihan, "Tidak Mas, lagi pula aku sudah terbiasa naik ojek bahkan disaat awal kehamilan ku, dan sampai saat ini semuanya pun baik baik saja" -Kiann^^^


"Ia. Tapi waktu itu kamu belum punya aku, kamu naik ojek kamu naik Bus yang panas dan pengap, tapi sekarang aku bisa memberikan kamu kendaraan yang nyaman, apa kamu tidak senang?" Berargumentasi, dan mencoba membujuk Kinan.


"Mmm.. baiklah suamiku yang cerewet," Kinan berkata dengan manja dan penurut, tetapi diam diam memesan ojek online dari handphone Aim lalu merapihkan barang bawaannya, secepat kilat mencium pipi Aim lalu keluar dari dalam mobi secepat sebelum Aim menyadari Kinan sudah keluar meninggalkannya.


"Sudah, jalan pak!" Perintah Kinan mengibas tangannya, berisyarat agar bapak sopir segera berangkat. bapak sopir pun menurutinya dan saat ini dia sudah melajukan kendaraanya meninggalkan Kinan, sementara Aim masih terbuai menikmati kecupan hangat bibir Kinan di pipinya, setelah beberapa meter melaju barulah Aim menyadari kalau Kinan sudah di luar dan kini sedang berdiri sambil melambaikan tangannya sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Pak, pak, berhenti Pak!" Titah Aim, buru buru. Namun sopir tidak memperdulikan, pak sopir terlanjur memasuki jalan utama dan tidak bisa memenuhi permintaan Aim.


"Kau tidak tau siapa aku?," Berkata dengan angkuh.


"Tuan pemegang 40% saham..... Bla bla bla" Sopir yang telah hapal sepenuhnya mengenai saham yang di tanam dalam projek tersebut membeberkannya dengan detile.


"Putar balik sekarang juga" titah Aim lagi.


"Tapi Tuan" sanggah sopir.


"Kau akan membantah ku lagi?" Aim melotot dan menyeringai seram.


"Maaf saya tidak bermaksud demikian" kata sopir ketakutan. Dengan berat hati pak sopir hendak mengikuti kemauan Aim, tapi untungnya sebelum itu Pak Sopir terlah lebih dahulu melihat Kinan menumpangi ojek online menyalip kendaraannya.


"Tuan bukankah itu Nona Kinan?" Tujuk sopir pada motor metik berwana hitam.


Perhatian Aim langsung tertuju kepadanya, "Ah benar. Ya Tuhan, lihatlah pengendara itu" Aim ribut sendiri, karena tidak yakin pada kemampuan tukang ojek online ini. ."Apa menurutmu dia mengemudi dengan normal?. Dia sedang membawa ibu hamil, harusnya dia lebih berhati hati" teriak Aim frustasi.


Pak sopir pun ikut frustasi dengan celotehan Aim yang menurutnya berlebihan ini.


"Pak hentikan motor itu suruh dia turunkan Kinan" berteriak teriak seperti orang kumat.


"Baik Tuan" Pak sopir hanya bisa mengikuti kemauan Tuannya yang berabe sangat ini.


Tetapi karena jalanan yang ramai, pada akhirnya Aim tertinggal cukup jauh, Aim mendengus kesal ketika Kinan tak lagi terlihat.


Frustasi, itulah yang Aim rasakan sekarang dan kali ini menyuruh Pak sopir untuk mengemudi lebih cepat agar dapat menyusul Kinan, katanya.


Saking frustasinya Aim bahkan sempat meminta sopir untuk menurunkannya, "Lebih baik aku berjalan saja!" Kata Aim, kesal bukan kepalang pada kemacetan, padahal dirinya hanya ingin memastikan Kinan Aman.


"Tidak Tuan," cegah sopir, "Tetaplah duduk, percayakan Nona Kinan kepada sopir, saya yakin semua akan baik baik saja. Jika anda turun bukankah keadaanya akan tidak baik, dan bagi mana nanti perasaan Nona Kinan kalau mengetahui anda turun ditengah jalan seperti ini?"


Aim akhirnya mau mendengar dan memutuskan kembali duduk dengan tenang, meski terlihat resah dan tak sabar. Berulang kali mengecek keluar dan bertanya, "Apa masih jauh?" Atau "Kenapa mobilnya melambat?." Dan "Kau harus membawa mobil ini, pergi service aku rasa mesinnya berjalan lambat. Bisa tambah kecepatannya?" Aim sungguh dibuat gelisah dan tak sabar.


"Tuan, ini adalah kecepatan maksimal, saya tidak mau membahayakan banyak orang" jelas Pak Sopir.


Aim kembali mendengus buncah.


..


"Terima kasih Pak" ucap Kinan kepada pemotor yang mengantarnya.


"Sama Sama" ucapnya membalas.


Setelah sempat sebentar menunggu mobil yang dikendarai Aim memasuki halaman kantor, akhirnya karena kendaraan yang ditunggu tak datang juga Kinan pun memutuskan untuk masuk, dan berniat menunggunya di dalam.


Mobil akhirnya memasuki area kantor, semua staf dan deretan petinggi juga seluruh karyawan berlarian dan mulai berjajar untuk memberi hormat.


Aim akhirnya keluar dengan terburu buru, sudah seperti berlari menghindari rentenir, melewati seluruh bawahan yang memberi hormat padanya, Aim sungguh hilang kesabaran.


Mengejar Kinan seperti orang kesurupan, beberapa orang terheran akan tingkah tak biasa yang ditunjukkan Aim.