Oh My Boss.

Oh My Boss.
51



Amor hanya menaikkan dua belikatnya tanda tidak tau.


..


Ditempat berbeda Arman terduduk termenung dengan secarik kertas disertai berjuta beban di fikirannya.


Saat ini Arman merasa Aim telah banyak berubah sebelum ini dia tidak pernah menentangnya jangankan menentangnya mengatakan tidak saja tak pernah belum lagi akhir ini sikap Aiman sangat dingin, jarang menyapa dan setiap pulang kerja biasanya Aim akan mampir sekedar membawakan makanan kesukaannya atau sekedar ikut makan malam, namun beberapa hari ini Aim bahkan tidak menelponnya, beetapa kali ditelpon pun ditolaknya.


Arman berfikir mungkin Aim sedang memberinya peringatan keras atas perceraian yang dia minta.


"Gun, dimana Aim?" Arman menelpon Guna.


"Bos lagi diluar" jawab Guna. Saat ini Guna sedang duduk didalam ruangan Aim, menunggunya datang sambil menyelesaikan berkas yang Aim tugaskan kepadanya.


"Apa yang anak itu lakukan diluar?"


Arman bertanya dalam hati. Pasalnya tadi pagi Arman sudah mencoba menghubungi Shina dan dia bilang Dari semalam Aim nggak pulang.


Selama ini Aim tidak pernah pergi tanpa memberi tahu dirinya apalagi cuma bermain-main.


Arman benar benar khawatir Aim akan menunjukan arogansinya terhadap penolakan yang dilakukan dirinya atas perceraian yang diusulkan Aim.


Arman ingin menanyai Guna lebih jauh tapi sepertinya Guna juga tidak tau keberadaan Aim sekarang.


"Gun, soal Amira apa Aim sudah mendapatkan petunjuk?" -Arman.


"Sepertinya belum, apa ada sesuatu yang perlu dikerjakan dengan cepat?" -Guna.


"Bisa dibilang begitu. Karena, saya mau penyerahan saham ini dilakukan tepat satu hari sebelum saya menyerahkan jabatan saya kepada Aim. Kedepannya akan berjalan lebih mudah" -Arman.


"Baik, akan saya sampaikan kepada Bos Aim. Apa masih ada hal lain yang perlu saya sampaikan?" -Guna.


"Nggak ada Gun, cuma itu. Tolong nanti sampaikan kepada Aim"-Arman.


"Baik" -Guna.


Arman menutup telpon dan Guna kembali kepada pekerjaannya.


Di restoran.


Dila mendatangi tempat pembayaran. Mengeluarkan sebuah kartu untuk membayar semua tagihan pesanan yang diantar ke mejanya..


Saat pelayan meminta Dila menyebutkan no ruangan yang ia pesan, pelayan langsung mengatakan bahwa semua pesanan telah dibayar oleh seorang lelaki yang keluar lebih awal.


Dila sempat tercengang mendengar itu, pasalnya makanan yang dipesan adalah makanan tingkat bintang lima, yang harganya bisa diatas satu juta per-suap. Orang Orang tertentu yang bisa membayar makanan ini.


Disitu Dila mengakui kalau Aim tidak sesederhana yang dia katakan tadi.


ketika sedang diperjalanan pulang Dila kembali tercengang hebat, saat tidak sengaja melihat ke papan reklame. Gambar Aim terpampang gagah diatas dirinya. Wajah berwibawa disertai tulisan, "LK maju dengan wajah baru" Dila kini semakin sadar siapa Aim sebenarnya. Aim ternyata bakal penerus perusahaan LK yang terkenal ke eksistensiannya.


...


Hari berikutnya Kinan masuk dan pulang bekerja seperti biasanya begitu seterusnya dalam beberapa minggu ini.


Amor mencolek Kinan sambil berbisik pelan sementara perhatiannya tak lepas dari mata Aim yang terus memperhatikan Kinan dari jauh "Nan, loe ngerasa ada yang lagi merhatiin gak si?" Tanya Amor, sudut mata masih memerhati tatapan Aim, "Tengok kearah sana sebentar," Amor tak menunjuk hanya mengisaratkan alisnya.


Kinan yang sedang fokus sekilas menoleh Amor sambil tersenyum setengah tak percaya, tapi Kinan tak ikut melihat kearah yang ditunjuk Amor.


"Emangnya ada yang merhatiin aku? Aku nggak ngerasa tuh?" Jawabnya cuek dan acuh, bagi Kinan ada yang diam diam memerhatikannya itu terdengar konyol.


Amor mendelik kesal dibuatnya karena Kinan terkesan tidak mempercayainya. "Ikh Nan kapan si kamu bisa respek sama tatapan orang lain, jelas jelas dia merhatiin kamu terus, sepertinya dia naruh perhatian sama kamu"


Tapi Kinan menggeleng tak percaya sama sekali biar Amor mengatakannya seribu kali.


"Emangnya siapa sih?" Kinan mengedarkan tatapannya ke sekeliling mencari siapa kiranya orang yang Amora maksud itu tapi sepertinya tidak ada yang sedang memerhatikannya.


Saat jam kantor suasana memang selalu sunyi Kinan hanya melihat orang orang duduk fokus dikubikel masing masing mereka juga tampak sibuk dengan tugas tugasnya, disaat jam sibuk seperti ini melihat orang berdiri dan berjalan pun cukup jarang, tidak ada juga yang sedang memperhatikannya. Tapi disebrang Kinan sempat melihat Aiman, dia terlihat sedang mengecek dokumen yang ditunjukan manager pemasaran. Dia sangat fokus dan teliti.


"Nggak ada yang merhatiin juga Mor" imbuh Kinan disertai gelengan tak percaya Kinan mencebik'kan bibirnya lalu kembali ke layar monitor kembali fokus pada pekerjaannya.


"Ih Nan perhatikan sebentar lagi" Amora menggoyang goyangkan tangan Kinan agar jangan dulu kembali fokus pada layar, tapi Kinan tidak mengindahkannya Kinan berfikir Amora sengaja sedang mencandainya.


"Sudah Mor, tugasku masih banyak harus selesai, kalo nggak selesai nanti aku harus lembur lagi" kata Kinan.


Amora mendengus kesal saat Kinan kembali asyik dengan setumpuk pekerjaan dihadapannya, dengan bibir mengerucut Amora menoleh kearah lelaki yang diam diam kembali memerhatikan Kinan, tapi kali ini Amora enggan memberitahukannya karena mungkin Kinan masih tidak percaya.


...


"Oo ia Mor," Kinan menggendeng Amor "Terimakasih loh untuk makan siang yang kamu siapkan seminggu ini" Kinan dan Amor sedang berjalan menuju kantin, "Terima kasih banyak, yang kamu lakukan sangat membantu loh Mor" Kinan merangkul dan mendekatkan kepalanya dengan Amor, menunjukkan bahwa ia sangat berterima kasih, "Kamu memang pling ngerti aku yang teledor banget kalo urusan makan"


Kinan menunjukkan kalu ia bahagia memiliki teman sebaik dan perhatian seperti Amor.


Amor berhenti berjalan. Mengernyit dalam dalam atas perkataan yang Kinan ucapkan. Amor merasa dirinya tidak pernah melakukan apa apa.


"Siapa? Aku?" Amor menunjuk dirinya dibalas dengan anggukan dari Kinan.


"Aku mana sempat Nan" Amor menyangkal.


Kinan mengernyit heran"Loh, terus yang setiap hari ngasih makanan buat aku siapa? Paket lengkap lagi, bukan cuma ikan dan sayur tapi ada yughrt dan buah"


Amora menggeleng.


"Lalu kalau bukan kamu siapa?" Tanya Kinan.


"Entah" Amor kembali menaikkan dua belikatnya sambil menggeleng tidak tau, "Eh cepat cepat giliran kita" ucap Amor seraya menarik Kinan maju kedepan dapur makanan, Kinan masih penuh fikir tentang siapa pemberi makanan yang setiap hari diantar memejanya.


Ditempat yang berbeda terlihat Shina sedang berjalan menuju kesebuah supermarket bergandengan tangan dengan seorang lelaki yang cukup akrab diingatan Dheo (Ayah Shina) Shina terus melebarkan senyumannya disisi lelaki itu dia juga bergelayut manja di tangannya dilihat dari sisi ini sepertinya Shina masih memiliki hubungan spesial dengan lelaki itu.


Sepanjang perjalanan di Supermarket Dheo terus mengikuti putrinya.


Setelah diperhatikan lebih teliti lelaki yang saat ini bersama Shina adalah Anton, lelaki yang sebelumnya sempat menjalin hubungan dengan Shina, Dheo tidak pernah menyangka ternyata sampai saat ini mereka masih berhubungan.


Dheo sangat geram dia ingin sekali melabrak Anton dan Shina, tapi Dheo berfikir tidak ingin membuat keributan yang akan mengundang perhatian banyak orang.