Oh My Boss.

Oh My Boss.
46



"Nih"


Kinan kembali. Meng_asongkan baju yang di pinta Aim, kekesalan belum surut dari wajahnya, "Waktu Bos tinggal 1,5 jam lagi, jangan sampai ada orang lihat kehadiran Bos di sini"


Mengenakkan baju yang diberikan Kinan, bau tubuh Kinan begitu menempel di baju, dan rasa hangat tubuh Kinan masih melekat juga di kain berwarna putih polos itu.


"Aku begini karena kamu loh Nan, e.."


Kinan lantas memotong, "Siapa suruh? Bukannya sudah aku bilang tadi, jangan ikuti aku!," Kinan memutar bola matanya dengan malas, "Tau bakal repot begini, lebih baik aku pergi sendiri"


"Nan,"


Tak ingin menambah bobot perdebatan, Kinan memutuskan beranjak dari hadapan Aim, walau mata Aim tak pernah lepas dari memerhatinya.


Selembar karpet yang sudah usang di amparkan Kinan, beserta kain panjang Kinan meringkuk tak jauh dari matras yang dipakai Aim.


Saat Kinan telah siap untuk beristirahat, berada diambang sadar.


"Nan" panggil Aim Kinan sontak mengerejab.


"Ya" Kinan menyahuti dari balik kain.


"Kau tau?" -Aim.


"Tidak" -Kinan.


"Apa kau tidak ingin tahu sesuatu?" -Aim.


"Tidak" -Kinan.


"Bilang boleh Nan" -Aim.


"Boleh" -Kinan menuruti.


"Sepertinya aku lapar" -Aim.


Kinan awalnya menanggapinya dengan ekspresi biasa saja, tapi setelah mendengar perkataan Aim bahwa dia lapar, Kinan langsung bermuka kesal.


"Aku sepertinya menginginkan bau makanan yang kamu buat tadi, saat dari luar, dan terdengar berbincang dengan orang lain"


Kinan mendesah sebal dibuatnya. Yang Aim inginkan pasti mie yang tadi dimakannya.


Kali ini Kinan sengaja diam tak menyahuti.


"Cepatlah Nan, jangan pura pura tidur, aku tau kamu masih melek"


Kinan merasa Aim sengaja mengerjainya.


Selarut ini semua orang pasti akan sangat malas kalau harus berkutat di dapur.


"Tapi Bos," Kinan ingin menolak, tapi melihat ekspresi mengancam dari wajah Aim, Kinan langsung tak bisa berkutik.


Dia adalah Bos yang kapan saja tersinggung akan langsung memecatnya.


"Baik, akan aku buatkan"


Sepuluh menit kemudian.


Saat mie telah siap, Kinan segera menyerahkannya kepada Aim,


"Nih", Aim menerimanya dengan senang hati.


Sejak tadi Kinan berkali kali menguap mata juga sudah memerah tak kuasa menahan kantuk. Setelah memberikan mie kepda Aim ia segera beranjak ketempat tidur, tapi...


"Nan," Kinan berbalik tanpa suara. "Aku tak bisa makan sendirian, kamu harus temani," Kinan mendengus dalam batin.


"Tapi aku mengantuk, lagi pula aku cuma disitu" Kinan menunjuk tempatnya tidur.


"Duduk disini atau berhenti jadi karyawan ku" kalimat itu terdengar biasa tapi sangat mengancam. Mau tak mau Kinan akhirnya menurutinya walau matanya hampir mau tertutup saat itu juga.


Kinan duduk disebelah Aim, menungguinya memakan mie. Beberapa detik sebelumnya Kinan masih terlihat duduk, sedetik kemudian mulai memangut lalu kepala mulai menunduk, semenit kemudian badan roboh ke atas matras. Suara panggilan Aim tak bisa menghentikan mata Kinan untuk berlabuh ke pulau mimpi.


Meski dalam keadaan tertidur, Kinan ternyata sangat manis.


Aim tak bisa berhenti menatap Kinan yang sedang terlelap dengan hangat.


Dalam hati terus mengagumi. Sosok yang kuat, tegar, dan pantang menyerah. Dia sungguh cantik dan tangguh, perasa dan penyabar.


Saat terlelap begini menjadi saat saat yang tepat untuk melihat betapa lemah dan rapuhnya Kinan, pundak terbentang kuat tapi sarat akan perlindungan, kaki kuat tetapi membutuhkan topangan, tangan lincah tapi memerlukan bimbingan.


Mangkuk makan telah Aim turunkan sejak beberapa detik yang lalu.


Setelah Kinan yakin terlelap Aim kembali berkata "Kamu cantik Nan" kalimat itu diakhiri dengan senyum kagum.


Diangkatnya tubuh Kinan keatas matras dengan hati hati, tak ingin membangunkannya, setelah itu ditutupinya tubuh Kinan dengan selimut yang sebelumnya telah Kinan sediakan untuknya.


Diperhatikan lagi olehnya perempuan yang sedang terbenam di alam mimpi.


"Kamu pasti kelelahan, selamat tidur Nan"


Diusap lagi lembaran rambut di dahi Kinan. Dia memang sangat menawan.


Cuuupppp


.. Sebuah kecupan mendarat didahi Kinan.


Aktivitas itu sungguh Aim tak mampu mengendalikan dirinya, bagai mana pun hati selalu mendorong untuk melakukan hal hal manis dengan Kinan, tetapi keadaan tidak pernah mengizinkan.


Aim berdo'a semoga kecupan ini Kinan tidak menyadarinya, atau Aim akan menerima kebencian Kinan seumur hidupnya. Ini memang sangat berbahaya tapi Aim sungguh tidak bisa mengendalikan dorongan emosinya.


Seperti janji yang telah Aim setujui kepada Kinan, saat ini Aim sudah bersiap untuk pergi dari tempat Kinan.


Tapi sebelum itu, ada beberapa hal yang harus ia lakukan.


"Pukul 10 pagi, restoran Xx privat room no 2"


Ini adalah pesan yang dikirim Aim kepada Mila(ibu Dirga).


Mengenai pertemuan itu Aim telah menyetujuinya dan siap mewakili Kinan.


Setelah mengirim pesan no Mila lalu di bloknya, entah apa yang akan dilakukan Aim dibelakang Kinan yang sungguh tidak tau-menau akan rencana pertemuan ini.


"Happy nice dream Kinan" diusap lagi rambut Kinan dengan lembut.


.


Dor dor dor


Seseorang terdengar memaksa masuk kedalam kamarnya.


Kinan terperanjat, bangun dengan panik, terdengar gemuruh orang orang diluar ada juga yang berteriak.


Kinan menoleh ke arah jam tergantung, pukul 02:24. Fikiran Kinan langsung teringat pada rutinitas penggeledahan/pemeriksaan penyakit masyarakat.


"Kamar no 11 mohon agar membuka pintu, kami dari tim 78 mohon untuk diberi izin meneriksa " teriaknya.


Kinan bingung harus bagai mana, membiarkan orang itu masuk atau tamatlah riwayatnya, sementara Aim masih tidur ditempatnya.


Entah ada apa dengan lelaki ini apa dia sengaja terus tinggal untuk memberi Kinan masalahah?.


Kinan tidak tau harus berbuat apa, tidak ada waktu lagi untuk membuat Aim pergi dari kamarnya, Kinan terus dibuat panik dengan gedor gedoran di pintu kamarnya.


"Kami dari tim 78 meminta izin agar pemilik membiarkan kami menggeledah" suara itu penuh tekanan dan tegas membuat Kinan semakin merinding panas dingin.


"Ini pasti pemeriksaan rutin lagi", fikir Kinan sambil berjalan mondar mandir, panik gugup dan cemas.


Dor dor dor.


Pintu kembali dipukuli. Rasanya seperti jantungnya yang digedor gedor dan membuatnya copot, tetapi anehnya Aim malah tidak bereaksi sama sekali tidak terganggu sama sekali. Terlentang kaku seperti mayat hidup.


"Jika sampai hitungan ketiga pintu tidak dibuka maka terpaksa kami akan masuk dengan paksa" teriaknya tegas. Kinan sungguh tidak tau harus bagai mana.


"Bos, Bos" panggil Kinan setengah berbisik, dia benar benar panik tapi Aim malah tidak bergeming. Kalau petugas sampai mendapati ada lelaki di kamarnya, sudah dipastikan tamat riwayatnya.


"Saudari Kinan, dengan sangat terpaksa pintu akan kami dobrak!" kalimat demi kalimat yang petugas ucapkan layaknya petir ditelinga Kinan. Kinan semakin takut dan gelisah.


Gedoran demi gedoran berturut turut.


Kinan terus menatap nanar ke daun pintu, berharap ada keajaiban datang menghampiri dan membuat petugas 78 pergi dari kamarnya.


"Mohon bersiap, 3 2 1" petugas berancang-ancang.


"Bos, Bos, Bos" Kinan memanggil-manggil Aim, memintanya untuk bangun dan mencari solusi detik detik akhir, dan menegangkan.


Meski tidak bisa mengelak setidaknya membantu mencari alasan untuk diberikan kepada petugas nanti.


Kinan benar benar frustasi, dia tidak mau jika harus terusir oleh kejadian ini, apalagi nama dia akan buruk di mata orang lain.


Tetapi Anehnya Aim malah tidak bisa dibangunkan.


"Bos, Bos, Bos" Kinan terus memanggil dengan wajah tegang, "Bos bangun, tolong bantu aku" ucap Kinan lirih.