Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.37



"Nan" Aim bertetiak dengan suara tersengal-sengal, berjalan terbungkuk karena lelah. Aim sudah tidak kuat lagi tapi Kinan masih belum mengindahkan permintaannya untuk berhenti.


"Nan, aku nggak kuat lagi, aku nyerah" kata Aim sambil angkat tangan,. "Perutmu, jaga perutmu," Aim berjalan perlahan. Baru setelah Aim mengangkat tangan Kinan mau berhenti.


"Ternyata cemen," Kinan mendelik, dia kembali berlari tapi kali ini Aim berhasil mencekalnya.


"Sudah, jangan lakukan itu lagi," pinta Aim seraya merongkong mengatur nafasnya.


"Kalau begitu pulanglah!, Sudah kubilang Bos tidak akan mampu"


"Aku hanya ingin memastikan kamu aman, apa itu nggak boleh?" Aim mulai menegakkan tubuhnya.


Aim melihat seorang anak kecil penjual air mineral. Dia yang kehausan segera memanggil anak tersebut untuk membelinya.


Saat Aim bertransaksi adalah kesempatan terbaik untuk Kinan melarikan diri.


Kinan merasa tidak ada yang perlu dilakukan untuk melindunginya, Kinan yakin dirinya akan baik baik saja.


Kinan menghilang secepat kilat.


"Kinan, Kinan, Kinan" Aim berteriak teriak memanggil Kinan, dia yakin barusan melihat Kinan masuk dilorong ini, tapi Kinan menghilang terlalu cepat.


Aim teringat ide kecil, yaitu menelpon Kinan. Aim yakin perempuan nakal itu belum jauh.


Handphone pun berdering, Kinan sibuk mengusap layar dengan sembarangan.


Kinan mendesah kesal, "Kenapa harus menelpon sih?"


"Disitu kamu rupanya" kata Aim dengan telpon ditelinganya.


Kinan akhirnya berdiri dari berjongkoknya, bersembunyi dibalik tong sampah yang cukup besar.


"Heii kau mau main petak umpet?" Ledek Aim.


Kinan mengerucut kesal, dia tidak tau lagi harus bagai mana mengusir Bosnya ini.


"Bos kenapa tidak pulang saja?" Kinan menghentakkan kakinya karena kesal.


"Kenapa? Kamu risih jalan denganku, Nan?" Tanya Aim.


"Bukan begitu tapi...ckk"


Kinan berdecak bingung, "Berjalan dengan Bos terlalu beresiko"


"Aku hanya ingin memastikan kamu sampai dengan selamat. Baik, aku akan berhenti mengikutimu dengan syarat kamu mau naik taxi online, oke?"


"Ya sudah kita jalan saja, tapi jaga jarak! Bos di depan aku dibelakang, atau aku didepan Bos dibelakang." pungkas Kinan sambil berjalan kearah seharusnya.


"Aku merasa seperti sedang bertugas (Bodyguard) apa tidak lebih nyaman kalau jalannya beriringan?" Aim menggerakkan dua jarinya (berjalan) sambil tersenyum membujuk.


"Laki laki keras kepala," gerutu Kinan.


"Boleh ya, boleh" Aim kembali tersenyum, kemudian menyeimbangkan langkahnya dengan Kinan.


"Kalau saja bukan Bosku udah ku depak jauh jauh" desisi Kinan dalam hatinya.


"Nan, mau minum itu?" Tunjuk Aim pada


sebuah kedai minuman kekinian.


Tanpa menunggu respon dari Kinan Aim langsung menarik Kinan menuju kedai tersebut. Kinan mau tak mau mengikuti saja permintaan Aim.


Selepas melihat menu, Aim segera menunjuk, memilih minuman yang dia inginkan. Setelah itu Kinan pun memilih satu yang berbeda dengan yang Aim pesan.


Saat ini Kinan tak lagi membantah. Lebih mengikuti kemana ingin Aim.


Kian sadar, semakin ditolak bukan semakin menjauh lelaki ini malah semakin berusaha.


Lagi pula sebelumnya Kinan sudah berjanji akan membuka hatinya menerima banyak orang, tak terkecuali Aim.


terlebih sepertinya Aim tidak seburuk yang dia bayangkan. Aim memang memiliki segalanya, hidup bergelimangan harta dan berkecukupan, tapi tak serta membuat Aim membentengi dirinya dengan kesombongan.


Kinan yakin Aim bisa memperlakukan semua orang dengan baik, seperti yang terlihat saat ini.


"Nih," Aim mengasongkan cup minuman yang sebelumnya dipesan Kinan sambil menyesap miliknya. Aim terbelalak akan rasa minuman yang baru dibelinya. Enak.


Kinan menerimanya dengan senyuman.


Disisi ini Aim benar benar seperti orang biasa, orang sederhana.


Menikmati jajanan pinggiran kota yang kental akan asap dan polusi, tanpa keberatan.


Melihat Kinan mulai menerimanya Aim bergidik senang, "Nah gitu doong senyum" goda Aim. Kinan langsung mengatupkan bibirnya karena malu.


Waktu sudah semakin sore, setelah mendapatkan minuman yang ia pesan, Kinan bergegas meneruskan perjalanannya, Aim pun demikian, seperti kekasih Aim terus mengikuti kemana Kinan pergi.


Kini mereka berdua berjalan berdampingan sambil sesekali menyesap minuman yang ada ditangan masing-masing.


Aim terlihat sangat senang akan hal ini, berkali kali senyumnya mengembang saat menatap Kinan yang sedang berjalan disampingnya.


Kini Kinan pun mulai membuka diri, tidak canggung seperti sebelumnya, dia mulai bercerita dan sesekali tertawa saat ada hal lucu yang ia ceritakan atau yang ia dengar dari yang Aim ceritakan.


Kinan pun semakin berani mengenalkan Aim berbagai hal, mulai dari jajanan pinggiran kota, dan segala hal yang menarik dilingkungan kota.


Kinan sengaja melakukan itu, karena menurutnya orang orang seperti Aim tak banyak tau tentang sesuatu yang menarik dilingkungan yang kental akan kebisingan dan keramaian ini, orang orang seperti Aim hanya mengerti naik dan turun mobil, naik turun lift, dan kemegahan yang anti akan polusi dan asap makanan.


.


Dikondisi ini diam diam Aim ingin mengakui bahwa, dirinya dan Kinan seperti dua orang berpasangan.


Berjalan beriringan, saling tertawa, dengan dirinya yang menenteng tas belanjaan. Bukankah pasangan pun sering terlihat seperti ini?.


Ya, kebanyakan yang Aim lihat memang seperti itu.


Aim terkadang merasa iri tatkala melihat sepasang kekasih atau sepasang suami istri berjalan bergandengan sambil bersenda gurau, berjalan berdua menyusuri lorong super market, memilih ikan dan sayur untuk menu makan.


Ikatan mereka tampak terlihat sangat kuat dan hangat.


Tentunya tidak ada ukuran untuk mengukur kebahagiaan itu semua.


Kehangatan itulah yang di rasakan Aim sekarang, yang tidak pernah ia dapatkan dari pernikahnnya bersama Shina.


.


Aim terus mengembangkan senyumnya tatkala melihat Kinan mengenalkannya segala hal, memintanya mencicipi jajanan sederhana yang seumur hidup belum pernah dicobanya.


Ada beberapa macam yang tidak pernah Aim cicipi barang sekali pun sehingga Kinan perlu memaksanya untuk bisa memakan jajanan yang menurut Aim aneh itu, tak ayal Kinan harus mengejar Aim tatkala menolak memakan jajanan yang Kinan berikan.


Mereka berdua pun akan terlibat saling kejar, sambil tertawa lepas.


Di keadaan yang berbeda Aim tampak menyenangi jajanan yang Kinan perkenalkan, memakannya dengan sangat rakus bahkan sampai merebut milik Kinan, atau yang hampir Kinan masukkan kedalam mulutnya.


Adakalanya Kinan menjahili Aim, seperti saat Aim meminta Kinan memberikan saus pada jajanannya, Kinan malah dengan sengaja menyemprot saus pada kemeja mahal Aim. Tapi Aim tak masalah dia malah dengan sengaja mengejar lalu memeluk Kinan menggosok gosokkan saus itu dibaju Kinan, dengan begitu barulah Kinan mau berhenti menjahilinya.


Di akhir...


Eeeeeeeuuu...


Aim bersendawa, dia kekenyangan memakan jajanan pinggiran jalan kota.


Bukan geli, atau jijik Kinan malah menertawakannya dengan kencang, Aimpun akan tersulut untuk tertawa tanpa jaim.


.


Aim terus menatap Kinan yang sedang menertawakannya.


Jajanan gerobak, minuman pinggir jalan, asap dan bau makanan yang menempel di pakaian, Aim tidak pernah merasakan ini sebelumnya.


Tapi Aim baru sadar ternyata hal sesederhana ini mampu membuat dirinya merasakan kebahagiaan yang tidak akan didapat meski menukarnya dengan harga mahal.