
Dengan segala pertimbangan Kinan akhirnya terpaksa membawa Aim kedalam kamar kostnya.
Dengan ketakutan menutup gorden dan menutup pintu, bahaya jika ada orang tau ada lelaki di kamarnya.
"Bos," Kinan meremas dan memutar mutar jemarinya, Aim yang melihatnya sedikit terheran dengan raut wajah Kinan. saat ini dia sedang dibuat khawatir dengan kehadiran Aim didalam kos kosannya.
Tapi apa boleh buat, tidak enak juga kalau membiarkan Aim diluar apalagi dalam keadaan sakit dan tidak bisa kemana mana.
"Bos nginep disini tapi..." Kinan bingung dibuatnya.
Kinan mencoba menjelaskan dengan hati hati agar tidak menyinggung Aim. "Sebelum orang orang bangun Bos harus pergi dari sini, ini kos kosan perempuan, nggak enak kalau ketahuan sama pemilik kost, nanti ngiranya aku perempuan nakal. Disini cukup ketat, tidak boleh membawa laki laki, kecuali menunjukkan kartu kekeluargaan"
Aim mengangguk paham.
"Baik Nan, kamu tidak usah khawatir setelah kaki ku baikkan aku akan segera keluar, terima kasih tumpangannya" Kinan hanya mengangguk kecil untuk Aim.
"Bos baring di sini saja" suara Kinan menyadarkan Aim dari memerhati sekeliling ruangan yang tak jauh lebih besar dari kamar miliknya bahkan ranjangnya masih kalah besar dibanding kamar yang saat ini didudukinya.
Kinan membenahi matras tempatnya sehari hari merebahkan badan dan melepas lelah.
"Bos," panggil Kinan lagi, Aim menoleh miris.
Karpet plastik yang tergelar .....(blm) menyadarkan Aim dari kesederhanaan yang dimiliki Kinan sangat luar biasa.
Aim mencoba berdiri, tapi lagi dan lagi kesulitan, Kinan antusias membantu memapah Aim sampai ke matras.
Harum bau tubuh, sentuhan hangat seakan memberi kehidupan baru di hati yang mulai gersang.
Saat ini hati dan fikiran Kinan sedang menolak kehadiran Aim karena berbagai macam hal, tapi takdir malah menuntun dan mendekatkannya ke pelukan, seakan memiliki bisa menjadi hal yang mungkin untuk Kinan. Tapi jelas itu hanya mimpi, Kinan ditampar oleh kenyataan.
Berulang kali Kinan memperhatikan Aim, wajah penuh ekspresi sakit itu malah terlihat menggemaskan.
"Ah Nan"
Kinan tidak sadar kalau sejak beberapa detik yang lalu Aim menatapnya. Aim menunggu Kinan melepaskan pegangan dan menuntunnya duduk "Apa yang sedang kamu perhatikan? Apa ada sesuatu di wajahku?" Ketika Kinan tampak menatap wajahnya dengan tatapan kosong.
"Nan," Aim kembali mengulang, kakinya sudah sangat kebas Kinan tak juga menjatuhkannya.
Kinan mengerejab sadar reflek melepaskan tangan Aim, sehingga tidak sengaja membuat Aim jatuh dengan sedikit tiba tiba.
Aim meringis kesakitan karena telah dijatuhkan tiba tiba, tanpa aba aba.
"Bos maaf Bos" Kinan meringis bersalah sesegera mungkin membenahi Aim sambil itu Kinan tidak henti meminta maaf.
Berkat bantuan Kinan, Aim akhirnya bisa duduk dengan nyaman, sementara Kinan bergerak kesana kemari membenahi kamar yang berantakkan, menutupi tempat ia menaruh pakaian dalam, merapihkan pakaian kotor dan sebagainya.
"Maaf Bos tempatnya sedikit berantakan" kata Kinan saat memunguti dan merapihkan pakaiannya. Tapi naas dan tidak sengaja pakaian yang sedang ia peluk berjatuhan. Kinan terbelalak hebat saat melihat pakaian dalam (bra) yang terjatuh tepat didepan Aim dan tepat saat itu Aim sedang melihat ke arahnya.
"Aiissshh" dengan wajah diliputi rasa malu yang membara Kinan buru buru memungutnya, "Kenapa harus itu juga sih yang jatuh" gerutu Kinan, baju kotor itu dilemparnya dengan kasar kedalam keranjang.
Perilaku Kinan membuat Aim gemas sendiri dan tak bisa menahan tawa gelinya. Saat berpapasan mata dengannya seketika wajah Kinan akan memerah, sudah dipastikan Kinan sangat malu dengan yang terjadi barusan. Dan sepertinya Kinan enggan menoleh pun kepada Aim, tak bisa menahan wajahnya yang terasa mau meleleh.
"Bos aku tinggal kedepan sebentar ya"
"Kemana Nan?"
"Mm aku, itu.. " sebenarnya Kinan tak bisa terus berhadapan dengan Aim tapi tidak mungkin juga meninggalkan Aim sendirian (tidak sopan) tapi suasana ini sangat canggung.
"Kamu nggak nyaman'kan aku ada disini?" itulah rekasi yang Aim katakan, sebelumnya Kinan sudah menebaknya.
"Bb bukan, bukan Bos"
Dibelakang Aim Kinan meringis kacau entah harus bagai mana menghindari situasi ini.
Aim masih menatap Kinan, menunggu ia mengatakan alasan.
"Aku" Kinan mengambil tas plastik berisi mie yang ia idam idamkan itu, "Aku masak ini sebentar di" Kinan menunjuk ke arah dapur yang terletak diluar kamarnya.
Di dapur Kinan berulangkali menghela nafasnya bingung, apabila ada yang melihat Aim di kos kosannya sudah pasti saat itu juga tamat riwayatnya.
Sepuluh menit kemudian semerbak bau khas makanan mulai memenuhi dapur dan ikut masuk kedalam ruangan yang dekat dari itu.
Bau harum itu menarik seorang perempuan penghuni kost datang, entah karena ikut lapar atau memang doyan.
"Eh Nan, kenapa makannya disini?" Tanyanya sambil berjalan kearah Kinan.
Kinan menoleh ke sumber suara, fikiran Kinan reflek menegang, perempuan ini biangnya gosip.
"Eemmh lagi pengen aja" jawab Kinan dengan mulut punuh terisi mie.
"Yang benar aja Nan, baru kamu loh orang yang berani makan disini"
Dia berkata begitu karena area dapur bukan tempat yang cocok untuk dijadikan tempat makan. Bau semerbak sampah makanan bekas, sayur busuk yang belum sempat dibuang dan tempat yang sedikit kotor karena tidak terawat menjadi alasan orang orang jijik dengan area dapur.
"Kenapa? Disini baik baik saja kok" Sebenarnya Kinan juga ngeri akan keadaan dapur yang jauh dari kata bersih, apalagi saat sesekali melihat tikus, kecoak, dan cicak tang berkeliaran tapi apalah daya saat ini di kamarnya ada Aim Kinan merasa tidak bebas melakukan segala hal termasuk bernafas apalagi harus makan didepannya, terlalu menegangkan.
Dan diperparah dengan kenyataan bahwa selain dirinya ada orang lain yang masih belum tidur.
"Kamar kamu baik baik saja 'kan Nan? Nggak ada masalah kan?" Seerti biasa perempuan ini selalu mencari celah untuk memulai pembicaraan. Dia tampak masih terheran akan perilaku Kinan yang tidak biasa.
"Nggak kok nggak" -Kinan segera menjawab khawatir tetangganya ini mencurigainya.
"Lalu kenapa kamu makan disini, nggak dikamar? Jangan jangan dikamar kamu ada sesuatu,"
Akh benar saja.
Fikiran Kinan langsung kemana mana.
"Nggak ada apa apa," Kinan mencoba menyembunyikan kehadiran Aim "Emang kenapa kalau aku makannya di sini? Apa terlihat aneh?" Kinan sebenarnya malas untuk menjawab tetapi perempuan ini terus menyelidiknya.
"Makan sambil berjongkok, menghadap ke tong sampah disamping juga ada wc," perempuan biang gosip itu menunjukinya satu persatu, "Kamu yakin tidak terlihat aneh? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dikamar kamu Nan?" Biang Gosip menatapnya penuh tanya.
Ccckkk..
Kinan menghela gondok, memutar bola matanya malas menanggapi, tapi biang gosip ini tidak berhenti membrondolinya.
Disaat yang genting Biang Gosip mendengar suara beresin lelaki dari dalam kamar kost Kinan.
"Suara lelaki, apa itu dari kamar kamu? Kamu membawa lelaki Nan?" Selidiknya, penasaran akan suara yang ia dengar Biang Gosip akhirnya memutuskan mengecek kamar Kinan.
Pof Author.
Begitulah Biang Gosip adanya, segala sesuatu yang menurutnya bisa dijadikan bahan gosipan diselidikinya hingga ke lubang hidung sekalipun.
"Eehh kamu mau apa?" Kinan gelagapan, menahan Biang Gosip agar tidak masuk kedalam kamarnya.
Biang Gosip berhenti di pintu dan hampir mendorongnya.
"Kamu kenapa sih? Melihat reaksi kamu aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan" -Biang Gosip.
"Sembunyikan apanya? Emangnya apa yang aku sembunyikan?"
"Kamu bawa teman lelaki'kan Nan?" -Biang Gosip.
"Lelaki dari mana, kalau aku benar bawa teman lelaki kenapa makannya harus di luar? Makan berdua di dalam lebih enak kali" Kinan mencoba menahannya dengan bermacam alasan.
"Akh pokoknya aku mau cek ke dalam" Biang Gosip akhirnya mendorong pintu.
"Eekkhh ekhh tunggu",Kinan kembali menahan Biang Gosip untuk tidak masuk kedalam kamar, menarik pintu yang hampir dibuka oleh siBiang Gosip.
"Nan kamu kenapa sih" Biang Gosip semakin menaruh curiga.