
Kinan terperanjat saat mendengar nama Amira disebut.
"Aku rasa dia berhasil menggodaku, dia juga mendesakku. Dan yang aku tau, dia adalah perempuan bersuami, dan aku adalah lelaki beristri, tetapi saat dia berkata bahwa dia lebih baik dari kamu, aku merasa... menurutmu apa kami. ..."
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Kinan langsung mendorong Aim dengan kasar, wajah dipenuhi kekecewaan, berusaha lepas dari pelukan Aim. Aim terdorong dan melepaskan pelukannya dari tubuh Kinan.
"Berhenti berkata-kata! Pergi susul dia sekarang juga! Jangan pernah merasa terbebani dengan hubungan tak pantas kita,"
"Nan," Aim tersenyum gemas, "Tunggu dulu" Aim kembali menahan Kinan yang terus berusaha lari darinya.
"Lepaskan!"
Menatap mata Kinan dalam dalam.
"Dengar Nan. Aku tidak mungkin...
"Tunggu!" Kinan memotong, "Berhenti membicarakan perempuan lain di hadapanku, aku muak, kau bisa pergi sesuka hatimu, kau kaya, dan punya segalanya"
Aim semakin gemas, tersenyum.
"Apa wajah seperti ini yang kamu tunjukkan saat kamu cemburu?" Tanya Aim, Kinan diam dan langsung menunjukkan wajah datar, dia terus berusaha menyembunyikan kecemburuannya kepada Aim.
"Cih. Apa yang kamu lihat? Dan apa yang sedang aku tunjukkan?"
"Dengar, Nan"
"Katakanlah! Katakan kalau kamu sedang cemburu padaku," pinta Aim.
Kinan diam, mendelik tak suka pada ucapan suami yang menurutnya sok tau ini.
"Kamu tau?, Aku senang melihatmu seperti ini, aku senang saat melihatmu mencemburu'i aku" Aim kembali menarik Kinan ke pangkuannya, "Mungkin aku perlu mendekati perempuan lain, dan membuatmu cemburu lebih banyak padaku," Kinan melotot "Karena, saat kamu cemburu adalah saat saat paling menyenangkan bagiku"
"Dih," cebiknya lagi, Kinan kembali turun dari pangkuan Aim, kali ini Aim tidak menahannya.
"Emangnya aku siapa?. Aku, bahkan tidak pernah merasa pantas untuk mencemburu'i kamu, beberapa hal yang kita alami membuat aku takut, bahkan untuk cemburu sekali pun. Sampai saat ini, aku merasa kita berdua seperti angin dan daun, kita berdua hidup bersama namun dari dunia yang berbeda,"
Aim datang memeluk Kinan dari belakang. "Aku akan berusaha meyakinkan kamu bahwa fikiran mu ini salah"
Terdengar ******* putus asa dari bibir Kinan, "Bahakan sampai sekarang tidak ada yang tau pernikahan kita," -Kinan.
"Kalau begitu" Aim membalikkan tubuh Kinan, "Sekarang pun aku bisa memberitahu semua orang, apa kamu sudah siap?"
Aim merogoh handphone dari sakunya, membuka galeri yang dipenuhi photo photo pernikahan dirinya dengan Kinan, Aim telah siap membagikannya, tapi..
"Tunggu," Kinan menahan, "Kamu tidak perlu melakukan ini, kamu hanya perlu menjaga jarak dengan perempuan lain" Kinan meringis saat mengatakan maksudnya.
"Apa itu berarti kamu cemburu padaku, sayang?" Aim kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan menyunggingkan senyum mengandung ..., Kinan sontak memundurkan kepalanya, "Apa itu berarti aku boleh tidur disini?"
Mendorong tubuh Aim dan menjauh darinya, "Pergilah! Aku malas berdebat denganmu" dibelakang Aim, Kinan meredam wajah yang terasa panas. Seperti sebelumnya, Aim memang selalu berhasil membuat perasaan Kinan tak karuan.
"Kau masih marah?" -Aim.
"Aku hanya sedang malas melihat wajahmu Bos" ucap Kinan datar.
Padahal Kinan bukan marah yang sesungguhnya, dia hanya tidak rela ketika harus melihat Aim berdekatan dengan perempuan lain, namun Kinan tidak bisa menjelaskannya secara langsung.
Selain itu Kinan hanya tengah kesal karena hari ini Aim terus mengabaikannya..
"Perlu apa?" Kinan langsung menyahuti dengan tidak senang. Langsung menunjukkan wajah cemberut, teringat kembali pada pesan dan panggilannya yang tidak Aim jawab, rasa cemburu mulai menghasut Kinan.
Aim hanya tersenyum gemas menanggapi ocehan istrinya.
"Kau sudah bisa cemburu, kalau begitu malam ini aku boleh tidur di sini ya,"
"Nggak," tangkal Kinan.
"Boleh ya, boleh ya" Aim terus membujuk dengan manja.
"Nggak, malam ini kamu harus tidur ditempat Guna." -Kinan.
"Tapi Sayang, malam ini aku ingin tidur disini, sepertinya aku..."
Kinan memotong, "Tidak, kamu ngerti nggak sih kalau aku sedang marah?! Malam ini tidur dikamar Guna, anggap itu hukuman buat kamu" berjalan untuk duduk diruang makan.
Aim mengikuti Kinan, "Hukuman apa, emang aku salahnya apa?" Aim tidak mengerti kenapa Kinan tiba tiba terlihat kesal. Aim Berdiri disamping Kinan, ingin memeluk namun Kinan tak membiarkannya, dan akhirnya Aim hanya memainkan rambut Kinan.
Kinan tak memberi jawaban, membuat Aim bingung sendiri.
Berfikir mungkin perlu mengikuti keinginan Kinan dan memberikan waktu agar Kinan bisa tenang.
"Baiklah, malam ini aku akan tidur di kamar Guna, tapi sebelum itu kita makan malam dulu ya. Aku telah membelikan kamu beberapa macam makanan jadi, kamu pasti suka" membuka tas plastik yang berisi makanan pinggiran, berupa sate, soto dan lain lain. Tak hanya itu Aim bantu menyiapkannya untuk Kinan.
Setelah makan malam.
"Aku pergi dulu," meraih pucuk kepala Kinan dan mengecupnya, "Jaga diri baik baik" Kinan terpaku menatap kepergian Aim, Kinan fikir Aim akan terus membujuk agar bisa tidur bersamanya, namun ternyata tidak, fikiran Kinan semakin kemana mana.
"Tunggu," Kinan menyentuh bekas tangan dan bibir Aim dikepalanya, "Kenapa terasa sedikit panas ya, apa dia sakit?" Kinan tersadar akan sesuatu, hendak menghentikan Aim namun Aim telah masuk lift, "Mungkin perasaan ku saja, yasudahlah" Kinan kembali masuk kedalam unit.
Didalam unit Guna.
Guna baru keluar dari kamar mandi saat mendapati Aim sudah berada di Unitnya lagi Guna langsung tertawa mengejek.
"Padahal aku fikir malam ini akan tidur sendiri" Kata Guna sambil terkikik geli.
"Sudah ku bilang Trik mu terlalu klasik Gun. Kinan berbeda, jadi kamu harus memikirkan cara lain," -Aim.
Trik yang Aim maksud adalah mendiamkan Kinan untuk beberapa waktu, berharap bisa menarik perhatian Kinan, namun gagal, padahal Aim telah melakukannya sesuai yang di sarankan Guna.
"Ahhh" Aim menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sambil mengurut-urut kening yang semakin terasa pening, "Lama lama aku bisa hamil karena kau terus tidur dengan ku, Gun"
"Hei" Guna melempar Aim dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya, "Kamu fikir tidur denganmu menyenangkan?. Bahkan, setiap malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak,"
"Kenapa?" Tanya Aim datar.
"Aku takut kau mengambil kesempatan untuk menggerayangi aku" -Guna.
"Hei!" Aim mendelikkan matanya, memicing tak terima pada tuduhan Guna.
"Sudahlah Im, seharusnya kau pulang saja! Semakin kau disini orang orang semakin berfikir kalau aku ini Gay, apalagi saat orang orang melihatmu keluar dengan wajah kusut. Mereka fikir apa yang aku lakukan padamu?" Menyebalkan sekali. Guna bergerak untuk mengambil Air minum.
"Salahmu sendiri Gun, lain kali sebelum kamu menyarankan sesuatu fikirkan terlebih dahulu" Aim masih mengurut urut kepalanya, "Tapi Gun, aku rasa Kinan marah padaku"