Oh My Boss.

Oh My Boss.
55



"Nggak ngelunjak?" Amor meringis nggak enak.


Aim sekilas menoleh dengan ekor matanya, "Ngelunjak bagai mana? kalau di kantor ia kalau ditempat seperti ini nggak papalah". katanya tanya beralih fokus dari jalanan.


"Kenapa dia bisa pingsan Mor?" Tanya Aim sambil mengemudikan mobilnya dengan terburu buru.


"Aku sendiri tidak tau, tiba tiba saja dia muntah muntah dengan gila, dan akhirnya pingsan, aku tidak tau kenapa dia seperti ini" Amora yang panik tidak bisa menjelaskan apapun.


Aim sejenak merenung.


Mungkinkah ini efek dari awal kehamilan dia?


Berfikir kesana Aim tiba tiba merasa panik. Bagai mana reaksi Kinan bila mengetahui dirinya sedang mengandung.


Fikiran buruk berjatuhan dikepalanya.


"Lalu kenapa kau tidak menghubungiku, memanggilku, memberitahuku, bukankah kamu juga tau aku ada di sana?" berondol Aim.


"Ia aku memang lihat tapi, mana sempat, aku panik, dan takut, bingung"


Kebetulan saat Amor berteriak meminta bantuan Aim berada didepan kasir sedang melakukan pembayaran, saat itu Aim juga terlihat sedang menelpon makanya Amor nggak sampi hati untuk meminta bantuan.


"Oke, kita jangan panik dulu" Aim menarik nafasnya "Sebentar lagi sampe" kata Aim mencoba menenangkan dirinya, Aim menarik tuas dan menginjak gas semakim menggila, Amor yang duduk dibelakang sampai harus berpegangan dengan kuat, takut terpelanting saat Aim mungkin tiba tiba berbelok.


Berkali-kali Aim menoleh kebelakang untuk melihat kondisi Kinan, saat ini Aim sangat mencemaskannya.


Melihat wajah Kinan semakin pucat, hati dan fikiran Aim langsung kemana mana.


"Kinan ayo sadar Kinan," panggil Aim khawatir.


"Nan, Kinan" Amor ikut menyadarkan Kinan tapi tidak berhasil.


"Coba lagi" titah Aim.


Amor kembali menggoyang goyangkan pipi Kinan tapi tak ada reaksi.


"Apa kau membawa minyak angin?"


Amor menggeleng, "Nggak bos" Amor menjawabnya dengan cepat.


Tak ada sesuatu yang bisa membuat Kinan sadar, Aim menambah tekanan pedal gas dikakinya.


"Bos" Amor berbisik tegang, Amor menguatkan pegangannya pada handel car dengan ketakutan, sebelah tangannya memeluk kepala Kinan khawatir akan menggelinding kebawah, Aim mengemudi dan menyalip dengan gila, terburu-buru.


"Bo oo os" Amor mengerejab membuka dan menutup matanya ketakutan. Rasanya jarak dia dengan kematian sudah sangat dekat. Tapi Aim tak menghiraukan ketakutan Amor.


"Yang sakit Kinan jangan sampe kita bertiga yang masuk rumah sakit" Amor berbicara dengan gemetar.


"Jangan khawatir Mor, keamanan terjamin" jawab Aim penuh keyakinan, "Pasang sabuk pengaman Mor" titah Aim.


"Udah dari tadi" ucap Amor sambil meringis ketakutan.


"Boooooss, pelan pelan." Amor mengigil benar benar takut.


Skiiiiiitttttt.... Aim mengerem intens saat mobil telah memasuki pelataran rumah sakit.


Dengan terburu buru Aim memangku Kinan dan mengeluarkannya dari dalam mobil mengantar Kinan langsung kedalam rumah sakit berteriak teriak memanggil petugas seperti orang stres.


"Petugas! petugas! tolong sediakan kamar, cepat!" Teriak Aim tak sabar.


Seorang petugas sigap mendorong blankar saat melihat kedatangan Aim.


Sementara Amor masih diam dalam mobil mengumpulkan beberapa nyawanya yang tercompang camping beterbangan oleh gerak gila mobil bosnya. Rasa pusing mual saat ini dirasakan Amor, alam disekelilingnya seperti sedang bertualang didalam kepalanya. Ulu hati diaduk aduk seperti akan meloncat dari tempat tempatnya.


Beberapa saat kemudian dengan masih merasa pening Amor keluar sempoyongan kedepan dan kesamping, untung tidak sampai ambruk.


"Bos gue ternyata gila" Gumam Amora seraya mengibas-ibaskan kepalanya mengusir pening.


Setelah memastikan Kinan ditangani, Aim keluar berniat mengurus administrasi, tapi sejak tadi handphonenya bergetar entah yang kebeberapa puluh kalinya, karena Kinan Aim sempat mengabaikan panggilan itu.


"Ya, halo" barulah Aim menerima panggilan.


Raut wajah Aim seketika berubah "Ayah Dheo,? masuk rumah sakit?" sentak Aim, ia terkejut bukan main.


Aim berhenti sejenak saat tidak sengaja bersebrangan dengan Amor "Mor," Amor berhenti "Tolong jaga Kinan, aku pergi sebentar jika ada sesuatu tolong hubungi aku" pinta Aim. Ia lalu bergegas melanjutkan langkahnya.


"Ia, baik Bos" jawab Amora masih sedikit lemas dia baru keluar habis muntah (mabok perjalanan) di kamar mandi.


Aim terlihat sedang bertanya kepada salah satu petugas. Menanyakan lokasi UGD.


"Ayah," Aim berjalan tergesa, orang orang sudah menunggunya.


Mereka, Rania (Ibu Aim), Arman. Liza (Istri Dheo) tampak sedang menunggu kabar dari Dokter dengan wajah gelisah.


"Mah," Aim menghampiri Liza. Menggenggam jemarinya, Liza sedang menangis dipeluknya.


"Ayah akan baik baik aja, Mama harus yakin"


Sebelum menghampiri Liza Aim terlebih dahulu bertanya 'apa sebabnya Dheo dibawa kerumah sakit dengan tiba tiba'


Liza mengangguk, air matanya semakin mengucur deras. Aim menepuk nepuk punggung Liza.


Saat bersamaan seseorang menyodorkan sebotol air mineral. Aim yang berjongkok dengan Liza dipelukannya mendongak melihat siapa yang berinisiatif memberinya air minum.


"Amira," Aim sedikit terkejut "Kau disini?" wajahnya penuh ketidak percayaan.


Baginya kehadiran Amira disini cukup aneh pasalnya dalam keluarga Dheo Amira bukan siapa siapa.


Entahlah, tapi Aim langsung berfikir Amira sengaja mencari muka.


Liza melepaskan pelukannya.


"Ya Im" sahutnya.


Im? panggilan ini, Aim merasa Amira tidak pantas menyebut namanya.


Aim tidak pernah mengenal Amira lebih dekat, untuk itu Aim merasa Amira tidak pantas menyebut namanya tanpa tambahan Pak, Bos, atau semacamnya.


Kehadiran Amira ditempat itu cukup memeras mood Aim.


Apalagi setelah kejadian penendangan yang dia lakukan kepada Kinan Aim masih tidak bisa terima itu.


"Saat tanteu Liza menelpon kebetulan aku sedang dikantor," jawab Amira.


Amira menggerakkan botol yang dipegangnya.


Aim menoleh kesisi Amira, disana Mina berdiri. "Tanteu Mina juga?" Aim mendelik.


"Ya, Mama sedang bersamaku" jelas Amira, "Airnya" Amira kembali menggerak gerakkan botol yang tak kunjung Aim ambil.


"Minum dulu"


Seperti sedang mencari perhatian Aim Amira terus mendesak Aim agar menerima botol mineral miliknya.


Aim terus menatap Amira dengan tatapan dingin.


Aim nenerimanya dengan sedikit paksa lalu membukanya "Mah, minum dulu" Aim memberikannya kepada Liza, Amira tampak tidak senang Aim memberikan itu kepada Liza, botol itu khusus ia berikan untuk Aim.


Beberapa saat kemudian seorang Dokter yang menangani Dheo keluar dari ruang UGD orang orang berhamburan mendatangi Dokter.


"Kondisi pasien saat ini belum bisa dikatakan stabil, kita semua masih memantaunya, bila kondisinya terus memburuk kita bersama tim akan melakukan tindakan lebih lanjut (oprasi)" jelas Dokter spesial jantung itu.


Negggg..


Mendengar penjelasan itu air mata Liza semakin deras.


Setelah Dokter pamit pergi semuanya kembali duduk begitu juga dengan Liza. Saat ini Liza sangat hancur, terlebih saat melihat Dheo terbaring tak berdaya.


Liza sungguh menyayangkan pertengkaran yang terjadi dengan Shina dan Dheo satu jam sebelum ini, Hingga menyebabkan Dheo kolep.


Harusnya semua ini tidak terjadi.


Batin Liza.