Oh My Boss.

Oh My Boss.
131



Aim melenggang dengan wajah datar tanpa ada rasa kasihan sedikit pun, tampaknya.


"Persetan dengan waris yang kau inginkan itu!" Aim memarkir mobilnya dengan kasar dan penuh emosi, Shina menjerit tak terima Aim tinggalkan.


"Jika kau mempersulit ku, aku juga bisa mempersulit mu" teriak Shina pada mobil yang perlahan meninggalkannya tanpa simpati.


.


Di dalam Klinik.


Kinan menunggu dengan sabar, menoleh ke sekeliling dan tampaknya hanya dirinya yang datang tanpa pasangan, di situlah Kinan mulai merasa kesepian.


Perasaan pun mulai terasa sakit ketika mengingat alasan suaminya tidak bersedia menemaninya sore ini.


Kinan memutar posisi duduknya berkali kali, dilihat setiap seorang ibu akan hadir juga seorang ayah di sampingnya, mereka saling bercengkrama hangat, mungkin membahas calon buah hati yang akan lahir.


Kinan pun mulai merasa cemburu dengan mereka, tersenyum simpul ketika melihat kemesraan mereka bersama, merasakan tangan hangat yang membelai.


Seandainya saat ini ada Aim di sampingnya, Kinan pasti tidak akan merasa kalut dan sesedih ini.


Di perjalanan.


Aim tampak melaju cukup cepat, Aim tak sabar untuk mengantre kendaraan, sehingga beberapa kali menyalip kendaraan lain dengan terburu buru.


Didalam kemudi yang sedikit terburu buru, Aim malah tidak sengaja menyerempet seorang lelaki hampir paruh baya, hingga membuatnya duduk terjatuh, beruntung kendaraan di belakang tidak begitu padat, masih ada waktu untuk kendaraan lain mengerem.


"Ah Bapak" Aim segera menepikan kendaraan lalu turun, kemudian pergi mengecek kondisi sang korban, "Saya minta maaf! Saya sedang terburu buru".


Aim segera memapah korbannya ke tepi, sambil di tanyai mana yang sakit, dan kemungkinan cidera yang di alaminya.


Tetapi bapak hampir paruh baya tersebut menggeleng, "Saya tidak apa apa, tidak perlu meminta maaf, saya juga salah, karena nyebrang sembarangan. Semua ini karena saya juga sedang terburu buru" jelas si bapak dengan suara bergetar karena sempat merasa trauma.


"Kalau begitu saya antar anda ke rumah sakit" ajak Aim .


"Kebetulan saya memang berniat ke rumah sakit" jawab si bapak polos.


"Kalau begitu, saya antar anda berobat, semua biaya akan saya tanggung"


Si bapak malah tertawa kecil saat Aim antusias ingin bertanggung jawab dengan menanggung semua biaya pengobatan.


"Saya ke rumah sakit bukan untuk berobat, tapi saya mau bertemu klien klien saya, kasihan" bapak menoleh pergelangan tangannya, "Mereka pasti sudah menunggu, ini hampir jam 3 sore tapi saya malah belum sampe ke klinik"


"Jam 3 sore?" Aim terdengar terkejut saat si bapak menyebutkan waktu saat ini.


"Ia. Kalau begitu antar kan saya sekarang, saya tidak mau berlama lama di sini, asal kamu bisa menjamin saya sampai dengan cepat maka kesalahanmu akan saya maafkan" pinta si bapak.


"Tapi.. saya sedang terburu buru," Aim tidak ingin terlambat untuk menemani Kinan, tidak ingin membuatnya kecewa. "Kalau begitu saya pesankan taksi online untuk bapak, nanti setelah urusan saya selesai saya akan datang ke tempat bapak" mencoba berdiskusi.


Sayangnya sang bapak menolak, "Apa ada yang lebih penting dari korban yang hampir celaka karena mu?"


Aim bingung harus melakukan apa, saat ini yang ada didalam fikirannya hanya Kinan, tetapi bapak ini tak mau melepaskannya.


"Istri saya, hari ini adalah hari pertama kami melakukan pengecekan kandungannya, saya ingin menemaninya dan tak mau terlambat, saya tidak mau membuatnya kecewa" Aim mencoba menjelaskan dengan nada santun.


"Namanya Kinan" Aim langsung menjawab.


Si korban tersenyum kecil, "Baiklah, antar'kan aku dulu, lalu setelah itu kau boleh menemani istrimu"


"Tapi saya akan terlambat"


"Saya tidak mau tau, saya minta antar'kan saya terlebih dahulu setelah itu anda boleh menemani istri anda"


Aim merenung dengan wajah khawatir, di sisi lain dia harus bertanggung jawab, tetapi jika pergi mengantarkan bapak ini ketempat yang di tunjuknya Aim mungkin akan terlambat untuk menemani Kinan.


"Apa kita akan tetap di sini dqn mengulur waktu?." Tanya si korban, "Jika kamu pergi mengantar saya terlebih dahulu maka kamu tidak akan terlambat, jika kamu tidak mengantarkan saya, kamu akan terlambat saya jamin!"


Aim tak tau harus berbuat apalagi, akhirnya ia memutuskan untuk mengantar si bapak terlebih dahulu.


Di perjalanan Aim terus memikirkan alasan dan cara untuk membujuk Kinan karena Aim yakin Kinan saat ini akan sangat kecewa kepadanya.


"Nak, apa kamu tidak ikhlas mengantar saya?" Tanya si bapak ketika melihat wajah Aim tampak frustasi.


"Bukan, bukan begitu" sangkal Aim, "Saya hanya memikirkan istri saya, semoga ia tidak marah dan semoga dia masih mengizinkan saya untuk melihat bayi kami saat lahir nanti"


Bapak yang menjadi korban tersebut hanya tertawa, dalam fikiran sangat penasaran dengan wujud perempuan yang begitu istimewa.


Akhirnya pada pukul 15:02, Aim telah sampai ke tujuan yang di inginkan korbannya.


Aim bergegas mengantarnya ke ruang periksa, Aim berjanji akan kembali untuk si bapak.


"Nak tunggu" cegah si bapak ketika melihat Aim melenggang pergi, Aim berhenti sesaat.


"Maaf saya terburu buru," kata Aim tidak sabar.


"Ruang praktik OBGYN berada di blok B lorong pertama. Semoga bisa membantu" katanya singkat.


Aim terdiam sesaat, berfikir Kinan tidak mungkin ada di tempat ini, namun Aim mencoba membuktikan ucapan bapak tersebut dengan mengikuti alur dan mulai memasuki lorong yang di tunjuk bapak, korbannya.


Di ruang tunggu, beberapa ibu mulai menunggu dengan tidak sabar, waktu telah menunjukkan pukul 15:05 tetapi belum terlihat tanda tanda praktik Obgyn akan di mulai, bahkan dokter dan petugas lain belum terlihat memasuki raungannya.


Kinan pun mulai risau, karena datang sendiri Kinan tidak ingin pulang terlalu sore apalagi sampai malam, berbahaya.


"Hei Nak!" panggil salah satu ibu, mungkin niatnya menyapa tetapi cara dia memanggil hampir membuat jantung Kinan copot.


"Ia ada apa buk" jawab Kinan santun., setelah berkali kali mengusap dadanya.


"Mana suami mu? siapa yang datang bersamamu?" selidiknya, sejak tadi sebenarnya Kinan sudah merasa tidak nyaman degan


tatapan sang ibu yang saat ini sedag berbicara denganny.


"Eeeh, dia sibuk kerja buk" jelas Kinan memutar arah pembicaraan.


"Apa baginya Atau jangan jangan kau tak punya suami ya?".tanya nya lagi. Kinan kali ini diam tak menjawab.