Oh My Boss.

Oh My Boss.
138



"Sayang" Aim merubah posisi duduknya, berpindah ke samping Kinan, "Sini deh" merangkul pundak Kinan dan menuntunnya untuk bersandar di bahunya.


"Tidak ada manusia yang memilih untuk terlahir kaya, atau pun miskin. Seandainya tau kalau menjadi kaya itu menyusahkan kita, mungkin saat itu aku akan memilih dilahirkan oleh orang tua yang miskin, aku akan bebas memilih dengan siapa aku bergaul, bebas memilih dengan siapa aku menikah, tidak akan ada tekanan dari orang tua untuk menjadi apapun. Aku ingin bebas menjadi aku, tanpa harus menjadi siapapun"


"Aku fikir terlahir kaya itu menyenangkan" balas Kinan dengan senyum miris di sudut bibirnya.


"Kaya atau miskin bukan lah pilihan untuk senang atau sedih. Tapi yang aku alami sekarang, hanya ada hal hal menyedihkan dan penuh tekanan, terlebih saat menjalani pernikahan yang tak ubahnya seperti kontrak kerja seumur hidup"


"Tapi, bukankah dalam kontrak kerja akan ada pihak yang di untungkan?" Tanya Kinan, menoleh sekilas.


"Ia. Tapi harusnya kedua belah pihak mendapat keuntungan. Sementara dalam pernikahan itu aku sungguh dirugikan"


Kinan mengangguk angguk paham.


"Apa dengan menikahi ku, kamu akan mendapatkan keuntungan? Aku bukan benteng, kuda, gajah, Mentri apalagi raja. Aku hanyalah bidak pion yang tidak berguna"


"Sayang," Genggaman di tangan Kinan semakin kuat, "Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Pion adalah bidak paling kuat, berdiri di depan paling berani, setelah melewati berbagai rintangan pion juga bisa berubah menjadi siapapun, bahkan bisa menjadi kuat dan melindungi rajanya"


Kinan menoleh, begitu juga dengan Aim. Mereka bersitatap sesaat.


Timbul berbagai kalimat yang tak bisa Kinan ucapkan tentang Aim.


Di sisi lain Aim terlihat sangat kuat dan sempurna namun di lubuk hati yang tidak seorang pun tau Aim ternyata sangat rapuh dan kesepian.


Aim masih ingin menatap Kinan, namun seorang pelayan nasi goreng telah datang dan mengganggu keduanya.


Kinan spontan menjauhkan Aim saat dia terlihat akan menciumnya didepan pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.


Di tempat berbeda,


Arman tiba tiba membanting handphonenya ke atas sofa karena marah.


Seseorang yang disuruh untuk membuntuti Aim mengirmkan potret kemesraan mereka didalam bilik rumah makan remang remang.


"Apa dia sudah buta?. Kenapa sekarang dia menjadi pembangkang?. Perempuan itu benar benar sudah mencuci otak Aim!" Teriaknya membumbung.


Rania datang dengan menuruni anak tangga, "Aim sudah menikah dengan Shina, tapi sekarang mulai bermain gila dengan perempuan yang tak jelas statusnya, bagai mana jika orang orang tau? Tercoreng muka kita Pah" berdiri di samping Arman, melipat tangannya bersikap angkuh.


"Anak itu memang tak berguna, entah apa yang dia dapat dari perempuan itu! Sampai sampai berani membantahku!" Teriak Arman.


Arman dengan penuh emosi menyambar handohpnnenya.


Aim yang saat ini sedang menikmati sepirng nasi goreng tiba tiba menerima telpon dari sang Ayah, beliau meminta Aim untuk datang (Pulang) kerumahnya malam ini juga.


Namun saat ini Aim tidak meng-iakan untuk pulang.


Karena malam ini adalah malam ketiga, dimana Aim harus memutuskan untuk pulang atau tetap bersama Kinan dan kehilangan semuanya (Pasilitas, kemewahan) bahkan mungkin akan di hapuskan dari daptar keluarga,


"Aku tak pernah mendidik anakku untuk jadi pembangkang, pulang sekarang!" bentak Ayah Arman.


karena jarak duduk mereka berdekatan, Kinan tidak sengaja dapat mendengar semua percakapan Arman dengan Aim..


Saat itu Kinan langsung diam..