Oh My Boss.

Oh My Boss.
61



Shina dengan bangganya memerankan sosok perempuan sukses, melupakan semua orang yang berdiri mendukungnya dari belakang terutama Aim dan grup LK.


Penyiaran ditutup, berakhirnya acara live cukup mengundang pemikiran yang cukup mengganggu, baik itu di benak Dheo atau pun Arman.


Dheo atau Arman sama sama tidak pernah mengira Shina akan melupakan posisi penting Aim.


Namun berbeda dengan Aim.


Saat ini Aim malah tersenyum senang.


"Tidak perlu melakukan banyak hal untuk membuktikan siapa Shina kehadapan semua orang" gumam Aim.


"Bagai mana? Ayah bisa menemukan posisi Aim disana?" Aim tertawa meledek dalam hati menggulung perasaan miris. Aim tau Arman akan menonton acara peluncuran,


"Kali ini Ayah tidak bisa mengelak dengan mengatakan aku suami yang tak bisa mendidik dan mencintai istriku bukan? Semuanya sudah sangat jelas, aku tidak di anggap, baik itu sebagai anak pimpinan perusahaan yang memayungi kesuksesan dia apalagi sebagai suami"


Pembicaraan didalam telpon itu membuat Arman tidak bisa berkutik apapun.


Tiga hari kemudian...


Amor sibuk memainkan handphonenya, mengetik dengan lincah, masih mencari tau keberadaan Kinan. Menanyai Kinan kesetiap teman kerja yang Amor kenali.


Amor yang fokus tidak menyadari Aim sudah berdiri dihadapannya.


Sudah ketiga harinya Kinan hilang, sepanjang itu Aim yang resah tampak sudah tidak sabar lagi.


"Mor, apa sudah ada kabar?" Tanya Aim. Amor mendongak lalu menggeleng. Aim mendesah frustasi. Amor juga begitu tapi mencoba menyembunyikannya padahal sampai saat ini dirinya tak bisa tenang sedikitpun.


"Kenapa Kinan sulit sekali dicari, bagai jarum di tumpukan jerami"


Amor kembali ke layar handphone kemudian kembali menatap Aim, berbicara dengannya.


"Apa Guna sudah mendapat kemajuan?" Amor balik bertanya.


Aim menggeleng...


Meski telah melibatkan polisi Guna juga tidak mendapat hasil apa apa.


"Dimana kamu Naaan" desah Amor, khawatir.


"Ckkk Kenapa tidak ada kabar juga" Amor besidekap dada memeluk handphoennya.


Bingung harus mencari Kinan ke penjuru mana lagi.


Sore kemudian dalam masih menyisir keberadaan Kinan Aim mendapat kabar duka dari salah satu partner kerjanya, beliau memberi kabar bahwa sang ayah telah meninggal sore ini.


Aim sontak terkejut, pasalnya beberapa hari yang lalu Aim dan almarhum saat membahas bisnis masih bersenda gurau dan bergelak tawa normal selayaknya orang sehat.


Dan kini saat mendengar kabar telah meninggal dunia Aim benar benar terkejut hebat tidak percaya juga tidak menyangka.


Beliau memang punya riwayat penyakit jantung tapi Aim tidak pernah berfikir akan ditinggalkan secepat ini.


Setelah menerima kabar duka itu Aim bergegas kekediaman Zi (Teman sekaligus partner kerjanya).


Ritual pemakan telah selesai.


Zi yang dibilang masih sangat muda menuturkan dengan penuh duka,


"Tadi malem, Ayah masih baik baik aja, dia makan steak dengan lahap meski sudah kami peringatkan kondisi yang dia alami dia malah acuh dan hanya menjawab, 'Tidak apa apa, ayah jamin ini untuk yang terakhir kalinya' dan dia juga meminum minuman yang bersoda layaknya orang sehat, lalu barulah setelah makan Ayah terlihat sedikit gelisah tampak ada sesuatu yang mengganggu dia, tepat pukul 5pagi ayah pingsan saat hendak ke kamar mandi, Ibu yang kebetulan mendengar sesuatu jatuh dengan keras segera melihat dan berteriak minta tolong pukul 05:25 ayah tiba dirumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri, lalu dokter segera mengambil tidakan, dan harusnya pukul 18:04 sore ini dokter akan melakukan tindakan oprasi tapi takdir berkata lain, ayah harus pergi sebelum kami puas memperjuangkan ayah" cerita Zi. Disela bercerita Zi sesekali berhenti berkata kata untuk meredam emosi dan menahan air mata yang ingin jatuh. Zi sangat berduka, bahkan Zi masih belum percaya ayah sudah meninggalkannya diusia yang terbilang cukup muda.


"Tidak apa apa Zi," ucap Aim lirih sambil menepuk nepuk pundak Zi memberinya dukungan mental. "Sekarang Ayah sudah tenang, tidak akan merasa sakit lagi."


Zi menoleh dengan mata penuh dengan bebasahan, "Kak Im. Apa gue bisa tanpa ayah? Gue nggak bisa ngelakuin sesuatu tanpa ayah, gue nggak bisa ngelakuin segala tanpa dorongan dari ayah, gue butuh bimbingan dia, gue nggak bisa melangkah tanpa bimbingan dia, gue nggak bisa lanjutin perusahaan tanpa dia" Zi semakin menangis kuat. Zi memang sangat dekat dengan ayahnya untuk itu Zi amat sangat terpukul dengan kepergian sang ayah yang terbilang mendadak.


"Loe harus kuat Zi, loe harus lanjutin perjuangan Ayah Loe, masih banyak mimpi mimpi dia yang belum tercapai dan sekarang giliran loe lanjutin semua mimpinya, buat dia bangga dengan sema pencapaian yang loe dapat,"


Zi semakin tergugu, "Apa gue mampu Kak Im? Setelah kepergian Ayah rasanya gue nggak akan bisa melakukan apa apa".


"Zi, Loe keluarga loe sudah kehilangan sosok ayah tapi jangan sampai keluarga loe kehilangan sosok lelaki yang bertanggung jawab, dengar Zi, gue tau loe kehilangan dan gue tau loe sedih, tapi loe harus lihat kelurga loe, perhatikan adik loe ibu loe mereka masih membutuhkan sosok ayah yang harus loe bangun dalam diri loe, kita sama sama kehilangan Zi, tapi kita masih harus menerusakan hidup kita, kamu ngertikan?" Zi mengangguk kecil.


"Terima kasih kak Aim"


Selepas meninggalkan tempat Zi, Aim yang sedang duduk di mobil terlihat merenung.


Riwayat sakit jantung yang dialami mendiang Ayah Zi mengingatkan Aim akan kondisi kritis yang saat ini sedang dialami Dheo. Aim teringat kembali pada permintaan Dheo.


Meski keadaan Dheo bisa membaik tapi keadaan itu bisa berubah buruk hanya dalam hitungan jari.


Praduga bertimbulan difikiran Aim saat berencana akan menceraikan Shina, selalu kondisi Ayah Dheo yang Aim utamakan.


"Halo Surya," Aim sengaja menelpon Surya untuk bertanya lebih dalam, apa saja resiko dan penyebab kambuhnya penyakit ini.


"Loe sudah pulang Im?," Tanya Surya. Berita meninggalnya Ayah Zi sampai juga ketelinga Surya, tapi Surya berkanaan hadir karena faktor pekerjaan. Sebagai Dokter banyak yang harus Surya perhatikan lebih mengutamakan pasien pasiennya.


"Ya, gue niatnya mau pulang tapi gue masih duduk dimobil"


Aim berkali kali mendesah bingung.


"Ya,"


"Ada apa Im, ada masalah?" Sahut Surya. Surya mendengar tekanan berat dari suara Aim.


"Ya, gue boleh nanya nggak?"


"Nanya apaan?" -Surya. Surya berjalan menyusuri koridor rumah sakit melangkah menuju ruangannya.


"Apa kondisi Ayah Dheo separah yang kita tau?" tanya Aim. Entah apa alasan yang mendorong Aim bertanya hal ini.


Surya terdiam sesaat.


Surya bukan dokter spesialis jantung, tapi minimalnya sebagai Dokter Surya cukup tau segala hal yang berhubungan dengan dunia medis.


"Tapi maaf Im bukan gue yang nangani Om Dheo, untuk penyakit serius seperti yang dialami Om Dheo pihak rumah sakit biasanya akan mempercayakan kepada Dokter senior saja, sementara gue, gue baru direkrut pihak rumah sakit dua tahun ini" -Surya


"Gue minta maaf Ya, gue banyak ngerepotin loe." -Aim.


"Ya, gue tau Im tapi tidak apa apa. Oo ia Im, besok gue bantu loe ulangi rekaman medis Om Dheo, semoga tidak ada hal menakutkan lagi, loe harus tenang menghadapi ini ok"


Aim mengangguk