Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.38



Kinan melirik pergelangan tangannya, "Akh sudah malam, kita lanjut pulang."


Aim yang sedang asik menyantap sate langsung dari pemanggangnya ikut merongrong ke jam dipergelangan Kinan.


"Baru jam delapan" katanya dengan mulut terisi sate pinggiran,


"Mau pulang sekarang?" Imbuh Aim. Dia masih belum berhenti mengambil dan menyantap sate tersebut.


Saking tidak berhentinya sang penjual sampe keheranan akan tingkah rakus Aim.


"De jangan yang ini, ini masih mentah" kata si penjual sambil memukul pelan tangan Aim yang sudah merongkong mengambil sate yang masih mentah itu.


"Oo masih mentah ya Pak," katanya kecewa, lalu Aim melihat ditangan Kinan masih terdapat beberapa potong dari sisa yang Kinan makan. Sementara Kinan asik dengan handphonenya Aim melahap sate tersebut langsung dari tangan Kinan.


Sontak Kinan terkejut, "Bos ini punya ku" Kinan melihat satenya tinggal batangnya saja.


"Heii itu bekas mulutku, sembarang saja kau main lahap apa tidak jijik?.. Difikir fikir itu terlalu intim, mana boleh orang baru kenal melakukan itu." Gerutu Kinan dalam hatinya.


.


"Berapa Pak?" Aim menanyakan harga yang harus ia bayar.


"Abis berapa tusuk De?" Tanyanya santun.


"Nan kamu abis berapa tusuk?"


"Aku, lima" jawab Kinan.


"Saya, mungkin 20 Pak" kata Aim tanpa ragu ragu.


Kinan dan Pak penjual sate terbelalak, Pak penjual sate segera menundukkan wajahnya menyembunyikan keterkejutannya dihadapan Aim.


"Apa Bos tidak salah hitung?" Kata Kinan setengah berteriak.


"Apa iya aku salah hitung" jawab Aim enteng, "Atau mungkin 25 ya?" Aim menghitung jemarinya. Kinan semakin dibuat terkejut.


"Ini orang rakus atau bagai mana?nggak salah abis 25 tusuk? Apa jangan jangan kesurupan?" Kinan berkata kata dalam diam.


"Pak bungkus 20 lagi ya" pinta Aim.


Kinan semakin terbelalak saja mendengarnya.


"Tadi aku dengar dari pembeli lain katanya makan ini pake nasi panas lebih enak" Aim setengah berbisik ketelinga Kinan. Lagi lagi Kinan harus dibuat menggeleng heran oleh tingkah Aim.


Setelah menerima bungkusan yang ia pesan Aim pun meng-asongkan dua lembar uang seratus ribuan yang menurutnya akan cukup untuk membayar makanan lejat ini.


"Loh Pak, kenapa uangnya dikembalikan? Nggak cukup ya?" Tanya Aim pada Pak penjual dengan wajah heran. Merogoh sakunya berniat menambahi uang yang diasongkan penjual sate.


"Bos, bos belum pernah beli sate ya?" Kinan balik tanya.


Aim hanya menoleh lalu menggeleng.


"Mana kembaliannya Pak?" Kinan meminta pada Pak penjual sate.


"Kembalian apanya? uang segitu masih dapet kembalian?"


Pak penjual pun segera memberikan kembalian yang Kinan maksudkan, sejumlah limapuluh ribu rupiah.


"Nih," Kinan memberikannya langsung ke tangan Aim. Ia kemudian bergegas berjalan kembali tanpa memperdulikan ekspresi wajah Aim.


Aim mungkin masih kebingungan pada harga yang ditawarkan penjual sate, seribu rupiah? Apa ia ada makanan yang bisa didapat dengan harga segitu.


Ya tentu, ia sih orang kaya mana tau harga gituan biasanya yang mereka beli'kan diatas ratusanribu. (Kalau athor yang jawab)


Mereka terus berjalan, waktu pun semakin malam, keadaan di sekeliling juga sudah ditutupi gelap, cahaya matahari yang sempat terbit mulai diganti dengan lampu lampu yang menyala


"Ekh apa itu?" Kinan menunjuk ketempat ramai, Kinan terlihat menyukainya. .


Rupanya dijalan itu sedang digelar festival tahunan yang cukup meriah, dan malam ini adalah puncaknya


Aim berjalan berdesakkan dengan orang orang yang hilir mudik menuju ke tempat tempat yang disuguhkan dalam acara festival tahunan itu. Beberapa kali Aim bertabrakan dengan bahu orang lain, wajar saja karena mata Aim tidak fokus pada sekeliling Aim sibuk mengejar Kinan yang terus membelah keramaian.


Langkah Aim beberapa kali terpelanting mungkin dirinya belum terbiasa dengan keramaian setengah berdesakan seperti ini.


Kinan semakin sulit dikejar, dia meleok-leok menebus jajaran orang orang yang padat memagari konser kecil-kecilan, itu pun dengan bintangi band lokal tapi Kinan sangat mengidolakannya.


Kinan bersorak paling keras saat Idolanya mulai menyanyi.


Setelah beberapa saat menyelidik pengunjung, akhirnya Aim menemukan Kinan.


Tapi Kinan kembali bergegas entah mau kemana lagi,


"Kemana?" Tanya Aim setengah berteriak karena lokasi disana cukup bising.


Kinan menunjuk kearah panggung, tepatnya pada Vokalis beserta band yang sedang turun dari panggung. Konser baru sana usai, "Minta tanda tangan" teriak Kinan. Kinan dibuat tidak sabar oleh pertanyaan Aim. Kinan khawatir dua tidak akan berkesempatan mendapat tandatangan sang idola.


"Dimana?"


"Belakang!" Kinan kembali menjuju ke arah panggung, Aim pun segera mengerti.


"Kamu tidak boleh pergi sendirian, aku antar kamu" Aim mencekal tangan Kinan lalu menuntunnya kebelakang panggung.


Tanpa mereka berdua sadari mereka berjalan seperti sepasang kekasih, dimana kekasih berusaha melindungi perempuannya, memegang erat tangannya karena khawatir akan menghilang ditengah keramaian.


"Bagai mana? senang mendapat tandatangan Idolamu?" kata Aim, sekilas menoleh kearah Kinan yang sedang kesenangan karena baru saja bertemu dan berswa foto dengan Idolanya.


Saat ini mereka berdua sedang berjalan meninggalkan lokasi panggung, meninggal antrean panjang sang Idola.


"Ya, tentu saja" jawab Kinan.


"Tapi nggak gini juga'kan?" Aim menunjukkan lengan baju yang mendapat tanda tangan Sang Idola.


Saat meminta tanda tangan tadi Kinan lupa membawa poto atau vas berwarna cerah, baju yang dia pakai saat inipun warnanya gelap, kebetulan baju Aim sedikit lebih cerah, ya sekalian ngerjain Aim lagi.


"Ekh, makasih loh Bos" Kinan tertawa kecil.


"Makasih untuk apa?" Aim kembali menoleh.


"Untuk Ini," Kinan sengaja mencubit lengan baju yang terdapat tanda tangan dengan sedikit keras. Kinan terkikik sambil berlari meninggalkan Aim yang sudah memasang wajah kesal karena cubitan Kinan.


"Kinaaaaan" Aim lantas mengejarnya sambil mengusap-usap tangannya yang sakit.


"Ehhhh tunggu dulu," Aim memberhentikan Kinan.


"Ampun Bos, ampun" rintihnya memohon.


"Naik itu yuk" Aim menunjuk tempat bermain kuda berputar, "Aku naik itu waktu masih berumur 7 tahun, dan sekarang" Aim memerhati sekujur tubuhnya dari atas hingga ke bawah, rasanya sudah tidak pantas bermain disitu lagi.


"Heeii sini" Teriak Kinan, yang ternyata sudah menaiki wahan terlebih dahulu.


Dengan senyum gemas Aim lantas menuruti Kinan. Menaiki wahana kuda berputar, duduk tepat di samping Kinan.


"Dia yang muntah, dia yang harus bayar uang makan selama satu bulan" kata Kinan.


"Oke siapa takut" Aim setuju tanpa keberatan.


Dihiasi lampu kerlap kerlip dan musik khas anak anak, wahana pun mulai berputar dan Aim pun mulai tertawa lucu merasakan dirinya kembali ke 23 tahun silam. Masa masa bebas tanpa beban.


Tak lupa Aim mengambil photo untuk mengabadikan momen menyenangkan itu.


"Hei Nan," Aim berteriak memanggil sambil menghadapkan kamera kepadanya dan mengarah kepada Kinan. Kinan yang mengerti segera memasang wajah gemas, ðŸĪŠðŸ˜‰ðŸ™‚😚.


Aim dan Kinan terus bersorak riang sampai kuda berhenti berputar.